Home » Articles In Bahasa » Adopsi IFRS di Kanada :Ketika Sekutu US GAAP Berpaling

Adopsi IFRS di Kanada :Ketika Sekutu US GAAP Berpaling

Oleh Ersa Tri Wahyuni

Tulisan ini dimuat dalam majalah Akuntan Indonesia edisi November 2013 yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.

Negara sirup maple ini bukan hanya memiliki kedekatan lokasi dengan AmerikaSerikat (AS)  tapi juga memiliki kedekatan kultural dan ketergantungan ekonomi yang tinggi. Sebesar 80% ekspor Kanada adalah pasar AS (data ekspor 2009 dari badan statistik Kanada). Sebanyak 336 perusahaanKanada misalnya jugaterdaftar di pasar modal AS (data US SEC 2012), sehingga wajar bila standard akuntansi AS (biasa disebut US GAAP) menjadi hal yang penting untuk diperhatikan oleh dewan standar akuntansi Kanada (AcSB) maupun pengawas pasar modalnya. Sejak pertengahan 1990-an standar akuntansi Kanada diciptakan dengan menyeleraskan diri pada US GAAP.

Ketika Kanada mengadopsi penuh IFRS pada tahun 2011 dan meninggalkan US GAAP, tentulah bukan suatu keputusan yang mudah untuk negara sekutu US ini.  Bila Jepang hanya menjadikan IFRS sebagai salah satu opsi selain Japanese GAAP, Kanada tidak tanggung-tanggung, perusahaan publik Kanada hanya punya pilihan IFRS. Namun Kanada memberikan waktu transisi yang lebih panjang untuk beberapa industri tertentu yang dirasa butuh persiapan lebih panjang.Investment entities misalnya, baru akan menggunakan IFRS pada 1 Januari 2014 karena menunggu amandemen IASB yang mengijinkan investment entities tidak mengonsolidadi anak perusahaannya.

Yang menarik dari Kanada bukanlah ‘keberanian’ mereka dalam mengadopsi penuh IFRS tanpa revisi, toh negara lain seperti Australia dan Korea juga melakukan hal serupa. Yang penting untuk dicermati adalah proses konsultasi publik yang dilakukan oleh dewan standar akuntansi Kanada dalam mengambil keputusan mengadopsi IFRS. Sebagai pengamat konvergensi IFRS, saya melihat proses pengambilan keputusan adopsi IFRS oleh AcSB di Kanada lebih terbuka dan berhati-hati dibandingkan banyak negara lainnya.

 

Berharmonisasi dengan dua kutub

Langkah berani diambil CICA (Canadian Institute of Chartered Accountant)pada tahun 1998 untuk berhenti membuat standar sendiri.  Keputusan besar ini diambil setelah proses diskusi yang panjang oleh TFOSS (Task Force of Standard Setting) dan para pemangku kepentingan di Kanada selama kurang lebih dua tahun.

Laporan pertama yang diterbitkan TFOSS pada 31 May 1997 menerima 250 lembar komentar dari 61 pihak termasuk institusi dan individu yang ingin terlibat dalam diskusi merencanakan langkah strategis masa depan pembentukan standar akuntansi di Kanada. Ketika laporan akhir TFOSS diterbitkan pada tahun 1998, rekomendasinya adalah Kanada berhenti mengembangkan standar akuntansi sendiri dan melakukan harmonisasi dengan IAS sambil menghindari perbedaan dengan US GAAP.

Bukan hanya berkonsultasi dengan stakeholders dalam negeri, TFOSS juga meminta pendapat negara negara lain seperti Inggris, Australia, Amerika Serikat dan IASC (penyusun IAS – cikal bakal IASB). Mereka tidak hanya menerbitkan dokumen “request for comments” di situs web atau di majalah CICA dan menunggu masukan, tapi TFOSS menginterview 32 tokoh akuntansi nasional dan internasional dan melakukan beberapa pemapaparan publik (public hearings). “Request of comments”  yang mereka pasang di majalah CICA dan beberapa media lainnya mengundang 75 masukan bertotal lebih dari 300 halaman.

Antusiasme para akuntan di Kanada untuk terlibat dalam penyusunan cetak biru pengembangan standar akuntansi memang membuat saya iri. Teringat ketika Indonesia sedang dalam masa konvergensi IFRS 2009-2010, begitu minimnya masukan tertulis yang diterima oleh DSAK-IAI untuk setiap exposure draftyang diterbitkan. Banyak exposure draft yang akhirnya disahkan menjadi PSAK tanpa ada komentar tertulis satu lembar pun dari para pemangku kepentingan sampai masa tutup komentarnya habis.

TFOSS bukan hanya merekomendasikan arah penyusunan standar akuntansi Kanada tapi juga merekomendasikan perubahan struktur dewan standar akuntansi yang tadinya berisi para volunteer (serupa dengan DSAK-IAI kali ini) menjadi badan yang lebih profesional dan lebih sedikit jumlah anggotanya. Sejak tahun 2001, didirikanlah AcSB dan ketuanya adalah profesional yang bekerja purna waktu untuk dewan standar. AcSB mendapatkan mandat yang tidak mudah untuk menyusun standar akuntansi yang berharmonisasi dengan standar akuntansi internasional namun juga menghindari perbedaan dengan US GAAP. Sejak saat itu standar Akuntansi Kanada berkembang menjadi standar yang cukup unik, lebih principle-based daripada US GAAP namun lebih rule-based daripada IAS.

Meninggalkan US GAAP

Akhirnya pada tahun 2006, AcSB memutuskan sudah saatnya Kanada “bercerai” dengan US GAAP dan mengikat janji setia pada IFRS. Suatu keputusan yang sulit bagi negara penggemar Hockey ini, mengingat lebih dari 300 perusahaan besar Kanada juga terdaftar di bursa Amerika Serikat. Juga pada saat itu Kanada belum bisa menebak apakah US SEC (pengawas pasar modal AS) akan mengijinkan perusahaan asing menggunakan IFRS mengingat US SEC baru membuka opsi tersebut akhir 2007.

Keputusan sulit ini diambil secara hati-hati dan berkonsultasi dengan berbagai pihak sejak tahun 2004. Dimulai dengan menerbitkan “invitation for comments” pada bulan May 2004 dan kemudian diterbitkan juga “second invitation for comments” pada tahun 2005. Setiap publikasi kemudian dilakukan round table discussions dengan para pemangku kepentingan seperti penyusun laporan keuangan, regulator dan profesi akuntan. AcSB juga menerima 64 masukan tertulis untuk publikasi 2004 dan 66 masukan tertulis untuk publikasi 2005.

Para pendukung US GAAP di Kanada berusaha memberikan argumen bahwa berharmonisasi dengan US GAAP tetap penting untuk Kanada mengingat ketergantungan ekonomi antar dua negara ini. Namun mengingat US GAAP yang kompleks dan dibuat spesifik untuk kepentingan dan lingkungan bisnis negeri Paman Sam, Kanada akhirnya memilih untuk menghentikan harmonisasi dengan US GAAP dan setia mengadopsi IFRS sepenuhnya.

AcSB memberikan masa transisi cukup panjang, yakni kurang lebih 5 tahun sehingga perusahaan terbuka di Kanada baru mulai menerapkan IFRS pada 1 Januari 2011. Perusahaan-perusahaan yang bergerak dibidang investasi (investment entities) memiliki masa transisi sampai tahun 2014 dan Rate-regulated entities (biasanya perusahaan tambang, distribusi listrik dan utilitas lainnya) menggunakan IFRS sejak tahun 2015.

Komunikasi yang baik dengan para pemangku kepentingan dan masa transisi yang cukup panjang membuat adopsi IFRS di Kanada berjalan mulus. Juli 2013 lalu, Canadian Financial Executives Research Foundation (CFERF) mengeluarkan survey mengenai biaya transisi IFRS yang dikeluarkan oleh perusahaan-perusahaan di Kanada. Hasil survey 139 eksekutif senior di Kanada ini menunjukkan bahwa biaya yang dikeluarkan, walaupun signifikan, sesuai dengan anggaran yang telah disiapkan. 62% perusahaan mengakui biaya transisi IFRS mereka hanya menghabiskan dana kurang dari 500,000 dolar Kanada.

Hal ini berbeda misalnya dengan Korea Selatan yang mengaku konvergensi IFRS di negeri K-Pop penuh dengan tantangan (Laporan Dewan Standar Akuntansi Korea/KASB ke IFRS Trustee).

The IFRS adoption process in Korea was rather a bumpy ride: there were troubles relating to unexpected additional costs, lack of accounting professionals, unwelcoming public sentiment, etc.” (IFRS Country Report, Korea Accounting Standard Board, Financial Services Agency, Agenda Paper 4, IFRS Trustee meeting, January 2013)

Jepang pun ketika membuka opsi IFRS tahun 2010 dihadapi dengan dingin oleh para perusahaan di pasar modal. Sampai tahun 2012 hanya 22 perusahaan terdaftar di Jepang yang memilih menggunakan IFRS. Bagaimana dengan Indonesia? Masih segar dalam ingatan ketika IAI terpaksa memundurkan tanggal efektif PSAK 50 dan 55 Instrumen keuangan ke tahun 2010 karena ketidaksiapan industri.

Saat ini pasar modal Kanada masih menerima laporan keuangan berbasis US GAAP untuk perusahaan yang dual listed di bursa AS namun perusahaan Kanada yang hanya terdaftar di bursa Kanada hanya boleh menerapkan IFRS. Standar akuntansi Kanada (Canadian GAAP)yang unik itu sudah tidak boleh digunakan lagi oleh perusahaan publik Kanada .

Perusahaan yang tidak terdaftar di bursa dan perusahaan non profit di Kanada memiliki satu set standar yang masing-masing terpisah. Saat ini entitas privat di Kanada boleh menggunakan IFRS atau ASPE (ASPE/Accounting Standards for Private Entities). IFRS juga dapat dipilih oleh organisasi non-profit dan biasa dipakai perusahaan non-profit internasional yang ada di Kanada. Sementara untuk dana pensiun, Kanada memiliki satu set standar akuntansi khusus.

Pelajaran untuk Indonesia

Mempelajari berbagai proses konvergensi IFRS di negara-negara lain memberikan inspirasi bahwa begitu banyak hal berbeda yang  dilakukan oleh negara pengadopsi IFRS.  Ada negara yang membuat IFRS sebagai salah satu opsi untuk perusahaan terbuka selain standar lokal mereka sendiri (seperti Swiss dan Jepang), ada yang memberlakukan IFRS untuk semua jenis perusahaan secara wajib baik perusahaan terbuka maupun privat (contohnya Brazil), ada pula bahkan yang menerapkan IFRS bukan hanya ke perusahaan swasta tapi bablas sampai ke perusahaan sektor publik (seperti Australia).

Ada negara yang mengadopsi IFRS dengan mengurangi beberapa pilihan akuntansi (contoh model revaluasi dalam IAS 16 Property Plant Equipment tidak diadopsi oleh Brazil), ada juga yang sama sekali tidak melakukan revisi apapun (Filipina, Kanada dan Australia). Kanada dan Filipina bahkan tidak lagi mengeluarkan Exposure Draft kepada para stakeholders mereka.

Begitu beragam mekanisme adopsi IFRS di berbagai negara, namun satu yg dapat saya simpulkan, membuat standar akuntansi adalah suatu aktivitas yang mahal dan menuntut kemampuan teknik akuntansi yang tinggi. Bahkan negara-negara yang memiliki sejarah membuat standar akuntansi sendiri seperti Kanada memutuskan lebih baik untuk mengadopsi standar lain (entah IFRS atau US GAAP). Kanada sudah memiliki dewan standar sejak tahun 1973 dan salah satu dari delapan negara G4+1 dan pendiri IASC.  Sejak dulu sampai sekarang Kanada sangat aktif dalam proses penyusunan IFRS.

Sehingga bila ada yang mengusulkan sebaiknya Indonesia membuat standar sendiri yang khas Indonesia, dengan kerangka konseptual yang khas Indonesia, silakan diusulkan juga kira-kira akan menghabiskan biaya berapa kegiatan tersebut dan staff teknis dengan kompetensi seperti apa yang dibutuhkan. Mengharapkan Indonesia memiliki 75 orang staff teknis pendukung dewan seperti FASB dan IASB sepertinya kok terlalu utopian.

Bukan berarti kepentingan bangsa dikesampingkan, karena DSAK-IAI dalam setiap diskusi mengadopsi setiap IFRS juga saya yakin memikirkan yang terbaik bagi bangsa Indonesia. Indonesia bahkan berani mengambil keputusan berbeda ketika IFRIC memutuskan tanah di Indonesia harusnya dicatat sebagai sewa pembiayaan, tapi DSAK-IAI tetap keukeuh menganggap tanah adalah bagian dari aset tetap yang tidak didepresiasi dan dengan berani menerbitkan ISAK 25 Hak Atas Tanah.

Mari berbaik sangka pada negara-negara berkembang. Alih-alih menuduh negara berkembang dijajah oleh negara maju atau organisasi internasional untuk menerapkan IFRS, mari berpikir sebaliknya. Bahwa negara berkembang diuntungkan dengan memiliki standar akuntansi bertaraf internasional, yang sudah melalui proses penyusunan standar ketat, tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar.

*) Ersa Tri Wahyuni adalah penasihat teknis IAI  dan dosen akuntansi Universitas Padjadjaran Bandung yang saat ini sedang menempuh program doktor di Manchester Business School, University of Manchester, Inggris. Tulisan lainnya bisa diakses di http://etw-accountant.com atau ikuti diskusi dengan Ersa di twitter @ErsaTriWahyuni


Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>