Home » Articles In Bahasa

Category Archives: Articles In Bahasa

Dampak SDGs dalam Laporan Keuangan dan Peran Penting Akuntan

By Ersa Tri Wahyuni

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Akuntan Indonesia edisi Juni 2018 halaman 24-26.

 

Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan PBB tahun 2015 lalu, telah memasang 17 target ambisius untuk diraih pada tahun 2030. Apabila semua capaian SDGs ini berhasil diraih, Bumi diharapkan menjadi tempat yang lebih baik bagi umat manusia. Namun target target SDGs akan mustahil tercapai bila hanya menjadi topik diskusi dalam seminar dan konferensi tingkat tinggi. Untuk mencapai SDGs, sektor swasta harus memasukkan SDG dalam strategi perusahaannya dibarengi dengan pemerintah yang memberikan insentif agar sektor swasta turut berperan aktif mencapai target SDGs.

foto 17 SDGs

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sektor swasta sepertinya mulai memberikan perhatian yang lebih terhadap SDGs dibandingkan era Millenium Development Goals sebelumnya (2000-2015). Riset PBB terhadap 1000 lebih CEO dari lebih dari 100 negara menyimpulkan bahwa sebanyak 89% dari CEO menyadari bahwa komitment perusahaan terhadap SDG memberikan dampak terhadap industri mereka. Lebih dari itu, 87% CEO percaya bahwa SDG membuka banyak kesempatan bagi perusahaan untuk memikirkan ulang pendekatan bisnis yang berfokus pada penciptaan nilai yang berkelanjutan  (UN, 2016).

Laporan PWC (2017) juga menjelaskan 62% perusahaan dunia telah menyebutkan SDGs dalam laporan mereka.  Survey yang dilakukan oleh PWC ini meliputi 470 perusahaan di 17 negara. Namun sayangnya walaupun 62% perusahaan yang disurvey telah menyebutkan SDG dalam laporan perusahaan namun hanya 37% saja yang benar benar serius menetapkan prioritas target SDG mana yang menjadi sasaran perusahaan mereka. Sementara itu 63% perusahaan lainnya tidak memberikan kaitan berarti antara SDG dengan target target perusahaan. Dengan demikian banyak perusahaan yang masih memandang SDG sebagai suatu “jargon” yang mungkin terdengar keren di dalam laporan perusahaan namun tidak benar benar mentautkan target target perusahaan dengan SDG.

Kesulitan perusahaan dalam mentautkan target SDG ke dalam strategi perusahaan disambut oleh beberapa pihak yang berkepentingan. Saat ini telah tersedia beberapa alat yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan untuk memasukkan konsep konsep SDG dalam strategi perusahaan dan pelaporan. Beberapa framework yang dapat digunakan oleh perusahaan tertera dalam tabel 1

tabel framework SDG

Dampak SDGs ke dalam Laporan Keuangan

Berbagai framework yang tertera dalam tabel 1 akan mempermudah perusahaan dalam memasukkan SDG ke dalam strategi perusahaan.  Setelah perusahaan memanfaatkan aneka framework untuk mentautkan strategi perusahaan dengan SDG, pertanyaan penting berikutnya adalah bagaimana sebenarnya perusahaan dapat target target SDG berdampak pada laporan keuangan? Apabila perusahaan sudah berkomitmen untuk memprioritaskan suatu target SDG tertentu yang ingin dicapai perusahaan, standar akuntansi mana saja yang sekiranya harus menjadi perhatian dalam penyusunan laporan keuangan?

Setidaknya ada beberapa SAK yang dapat digunakan atau menjadi perhatian perusahaan yang memasukkan SDG ke dalam laporan keuangan (lihat gambar 1)

 

1.      Pencadangan Biaya Lingkungan dan PSAK 57 Provisi, Liabilitas Kontinjensi dan Aset Kontinjensi

 

SDG menitikberatkan kepedulian perusahaan terhadap keberlangsungan lingkungan hidup sehingga kegiatan ekonomik perusahaan dapat terus berlangsung dengan lestari. Perusahaan yang berkomitmen terhadap SDG seharusnya tidak lagi menggunakan cara cara non-etis yang merusak lingkungan seperti pembakaran hutan untuk persiapan lahan perkebunan. Perusahaan juga selalu berusaha menegakkan komitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dengan memperhatikan kualitas limbah yang dibuang ke sungai, atau kualitas emisi karbon, atau biaya biaya terkait kelestarian lingkungan lainnya. PSAK 57 menjelaskan bagaimana perusahaan harusnya membuat cadangan bila memiliki kewajiban konstruktif (bukan hanya kewajiban hukum) seperti misalnya komitmen perusahaan terhadap kelestarian lingkungan.

PSAK and SDG

 

2.      Perubahan Teknologi yang Cepat dan PSAK 48 Penurunan Nilai Aset

Dengan sumber daya alam yang semakin terbatas dan teknologi yang semakin maju, Perusahaan dituntut untuk semakin cepat beradaptasi dengan teknologi apabila ingin memiliki bisnis yang berkelanjutan. Perubahan teknologi dapat mengubah aset perusahaan menjadi usang lebih cepat sehingga perusahaan harus mempertimbangkan penggunaan PSAK 48 untuk mengukur penurunan nilai aset mereka. Misalnya teknologi baru pengolahan limbah yang dianjurkan (atau bahkan disyaratkan) pemerintah membuat instalasi pengolahan limbah yang dimiliki perusahaan menjadi usang.

 

3.      Manajemen Risiko dan pengungkapannya dalam PSAK 60 Instrumen Keuangan: Pengungkapan

Bayangkan anda adalah sebuah bank di mana mayoritas nasabah anda adalah perusahaan yang bergerak di bidang agrikultur.  Kenaikan suhu Bumi dua derajat saja dapat sangat mempengaruhi bisnis para nasabah anda di masa depan. Pemanasan global dan perusakan lingkungan dapat memunculkan risiko suhu Bumi yang meningkat dua derajat. Kenaikan suhu ini dapat menimbulkan kekeringan di beberapa negara tempat nasabah anda beroperasi sehingga meningkatkan beban biaya mereka. Peningkatan suhu juga dapat mencairkan es di kutub yang berakibat naiknya permukaan air laut dan banjir di beberapa kota. Semua perubahan iklim ini adalah risiko bisnis yang harus dipertimbangkan oleh perusahaan, bukan hanya perusahaan yang bergerak di bidang pembiayaan namun juga perusahaan agrikultur. Risiko lingkungan harus dikelola dengan baik dan diungkapkan oleh perusahaan terutama bila terkait dengan instrumen keuangan.

 

4.      Memperhitungkan Risiko Lingkungan dalam Model Penurunan Nilai PSAK 71 Instrumen Keuangan

PSAK 71 yang akan berlaku di Indonesia pada tahun 2020 meminta perusahaan melakukan pemodelan “expected credit loss” dengan mempertimbangkan kemungkinan kemungkinan gagal bayar sepanjang usia instrumen keuangan. Usia instrumen keuangan yang panjang misalnya pinjaman jangka panjang juga menuntut pemberi pinjaman untuk mempertimbangkan risiko risiko lingkungan yang kemungkinan akan terjadi. Seperti dalam skenario sebelumnya di mana suhu bumi meningkat dua derajat, asumsi asumsi lain terkait risiko lingkungan misalnya adalah curah hujan yang meningkat, risiko gempa bumi dan sebagainya.

 

5.      Kesetaraan Jender dan PSAK 24 Imbalan Kerja

Salah satu target SDG adalah kesetaraan jender (gender equality). Perusahaan harus memberikan hak dan kewajiban yang setara untuk karyawan laki-laki dan perempuan. Riset World Bank menunjukkan bahwa kesenjangan upah antara buruh perempuan dan laki laki masih tinggi (World Bank, 2015), terutama untuk buruh perempuan dengan tingkat pendidikan rendah. Menyetarakan tingkat upah bagi buruh perempuan dan laki-laki membawa konsekwensi langsung terhadap beban imbalan kerja perusahaan.

 

Kesetaraan jender bukan hanya issue upah perempuan yang disetarakan dengan laki-laki namun juga memberikan benefit yang setara untuk pekerja laki-laki, misalnya terkait dengan cuti melahirkan. Perempuan biasanya memiliki hak cuti melahirkan tiga bulan yang tidak dinikmati oleh karyawan laki-laki. Hal ini banyak dikritik mengingat para Bapak juga terkena dampak dari kehadiran bayi dalam keluarga (seperti rasa lelah dan kurang tidur). Banyak perusahaan yang juga memberikan hak cuti bagi bagi karyawan laki-laki yang baru menjadi ayah. Peningkatan benefit cuti ini tentunya memiliki dampak pada imbalan kerja yang ditanggung perusahaan.

 

6.      Beban Riset dan Pengembangan dan PSAK 19 Aset Takberwujud

Mempertimbangkan SDGs bukan hanya selalu ekstra biaya yang harus dibebankan. Kepedulian SDGs juga membuka banyak peluang bisnis baru. Seperti peluang bisnis untuk energi terbarukan, bisnis berbasis platform yang memangkas rantai nilai tradisional, atau produk produk agrikultur premium seperti bahan makanan organik. Masyarakat dunia yang semakin peduli dengan kelestarian lingkungan menuntut produk produk bersertifikasi ramah lingkungan. Juga menuntut inovasi produk yang lebih hemat energi. Kebutuhan ini dapat direspon oleh dunia bisnis dengan menjadikan kegiatan riset dan pengembangan. Di dalam mengembangkan produk baru, perusahaan juga harus memasukkan unsur SDGs di dalam pertimbangannya. Misalnya penciptaan kemasan produk yang ramah lingkungan dan tidak menggunakan plastik.

 

Riset dan pengembangan menjadi ujung tombak perusahaan dalam berinovasi dan menciptakan bisnis yang berkelanjutan. PSAK 19 mengatur persyaratan bagaimana perusahaan dapat mengkapitalisasi biaya pengembangan dan mengakuinya menjadi aset takberwujud.

 

Peran Akuntan dalam Mencapai SDGs

Akuntan memiliki peran penting dalam pencapaian SDGs (IFAC 2016; ACCA 2017; Makarenko & Plastun 2017). Akuntan berperan menjadi “value reporter” yang melaporkan nilai-nilai perusahaan kepada stakeholders. Selain sebagai penyusun laporan, akuntan juga berperan sebagai “value keeper” yang menjaga perusahaan tetap pada komitmennya dalam mencapai nilai-nilai yang sudah dijadikan visi dan misi perusahaan. Tanpa peran akuntan, target-target SDG mungkin hanya menjadi slogan-slogan cantik dalam laporan perusahaan. Akuntan harus membangun awareness perusahaan dan sektor swasta pentingnya memasukkan SDGs dalam strategi perusahaan mereka. Bukan untuk gagah gagahan tapi karena memang hal tersebut akan menguntungkan perusahaan dalam jangka panjang. Lihatlah perusahaan-perusahaan dunia yang langgeng sampai ratusan tahun, biasanya adalah mereka yang setia menjunjung etika dan kelestarian lingkungan.

 

 

Daftar Pustaka

ACCA, 2017. The Sustainability Development Goals: Redefining context, risk and opportunity. Diakses tanggal 5 Mei 2018.  Tersedia di http://www.accaglobal.com/ content/dam/ACCA_Global/professional-insights/The-sustainable-development-goals/pi-sdgs-accountancy-profession.pdf

IFAC, 2016. The 2030 Agenda for Sustainable Development. Diakses tanggal 5 Mei 20tainable-development

Makarenko,I and Plastun,A, 2017. The role of accounting in sustainable development. Accounting and Financial Control (openaccess) , 1 , 4-12

PWC, 2017. SDGs Reporting Challenge 2017. Diakses tanggal 27 Maret 2018. Tersedia di https://www.pwc.com/gx/en/sustainability/SDG/pwc-sdg-reporting-challenge-2017-final.pdf

United Nations. (2016). UN Global Compact and Accenture Strategy 2016 CEO Study. Diakses tanggal 27 Maret 2018. Tersedia di https://www. accenture.com/us-en/insight-unglobal-compact-ceo-study.

Membangun Desa, Membangun Indonesia : Peran Akuntan dalam memperkuat Bumdes

Oleh Ersa Tri Wahyuni

Dosen Akuntansi Universitas Padjadjaran, Anggota DSAK-IAI.  Asrtikel ini dimuat dalam majalah Akuntan Indonesia edisi September-Oktober 2017.

 

Sejak UU No 6/2014 tentang Desa disahkan, desa-desa di Indonesia menjadi bergairah. Sejak tahun 2015, triliunan rupiah digelontorkan sebagai dana desa. Tahun 2015 saja dana desa yang dialokasikan lebih dari 20 triliun untuk 74 ribu desa di Indonesia. Alokasi dana desa ini meningkat pada tahun 2017 sebesar Rp 60 triliun yang ditujukan untuk 74.954 desa di 434 kabupaten dan kota. Pada tahun 2019 diperkirakan dana desa akan meningkat mencapai Rp.111 triliun rupiah. Aliran dana yang sangat besar dalam dua tahun terakhir ini tak pelak menimbulkan banyak tantangan dan masalah dalam pengelolaannya.

 

Selama tahun 2016 saja terdapat 932 laporan pengaduan masyarakat terhadap pelanggaran penyalahgunaan dana desa yang masuk di Kemendes PDTT. Dari angka tersebut, terdapat lebih dari 200 laporan pengaduan yang sudah diserahkan ke KPK dan 167 laporan diserahkan ke kepolisian.[1]. Banyak pemberitaan di media mengenai penyelewengan dana desa ini misalnya pemberitaan korupsi dana desa di Pamekasan Madura yang membuat Bupati Pamekasan ditangkap KPK. Dengan derasnya arus dana ke pedesaan maka peran akuntan profesional sangat dibutuhkan untuk mendampingi para pengelola dana desa agar akuntabel.

 

Tentunya tidak semua cerita tentang dana desa membuat miris, banyak perubahan di pedesaan yang sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat terutama peningkatan kualias jalan desa, puskesmas dan kantor aparat desa. Dana desa ini menjadi perhatian Kabinet Jokowi-JK dan tertuang dalam NAWA CITA, khususnya Nawa Cita ke-tiga “Membangun Indonesia dari Pinggiran dengan Memperkuat Daerah-daerah dan Desa dalam Kerangka Negara Kesatuan”

 

Aliran dana desa ini banyak yang kemudian digunakan untuk mendanai pendirian Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Seiring dengan derasnya dana desa ke daerah, jumlah Bumdes juga meledak dalam dalam dua tahun terakhir. Pada Mei 2016 Jumlah Bumdes berkembang pesat, yakni sebanyak  12.115 Bumdes, bertambah 12 kali lipat dibandingkan tahun 2014 yang hanya mencapai 1.022 Bumdes (Kemendes, 2016). Dan pada maret 2017, jumlah Bumdes telah bertambah lagi sekitar 6000 unit sehingga total menjadi 18.446 unit Bumdes di seluruh Indonesia (Kemendes, 2017).

Pertumbuhan yang sangat cepat ini menimbulkan tantangan besar mengenai kesiapan SDM dalam mengelola Bumdes. Terlebih Bumdes biasanya memiliki beberapa unit usaha seperti pengelolaan sampah desa, penyediaan jasa air bersih, wisata desa atau pengolah hasil pertanian. Kades sebagai “komisaris” dari Bumdes yang merupakan perusahaan holding dari beberapa unit usaha yang dimiliki desa, membutuhkan pendampingan dan dukungan untuk mengelola desanya dengan baik.  Desa dan Bumdes banyak membutuhkan pendamping desa yang memahami potensi desa dan memiliki kemampuan manajerial yang mumpuni.

Geliat Bumdes di Yogyakarta banyak menjadi cerita sukses Bumdes. Seperti misalnya Bumdes di Desa Ponggok, Klaten yang telah menghasilkan pendapatan Rp. 10 miliar setahun dari berbagai unit usaha yang dikelola. Yogyakarta cukup beruntung karena memiliki banyak intelektual muda yang peduli dengan kemajuan Bumdes. Suatu platform untuk berbagi pengalaman dan sumber daya lahir di Yogyakarta dengan situs Bumdes.id. Para pengelola Bumdes yang mendaftarkan diri pada situs Bumdes.id bisa mengunduh beraneka ragam artikel, peraturan perundang-undangan terkait Bumdes dan bahkan sistem akuntansi Bumdes secara gratis. Digawangi oleh Rudy Suryanto, dosen akuntansi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan beberapa aktivis desa lainnya, Bumdes.id juga memiliki sekolah manajemen Bumdes yang rutin menyelenggarakan training for trainers untuk para pendamping Bumdes dan workshop untuk penyelenggara Bumdes.

 

Bidang Usaha dan Akuntabilitas Bumdes

 

Bumdes adalah badan hukum baru yang tidak perlu akte notaris untuk pendiriannya. Pendirian Bumdes cukup sederhana dimana para masyarakat dan tokoh tokoh masyarakat di desa memiliki otoritas untuk mendirikan Bumdes ini melalui semangat musyrawarah dan gotong royong. Bumdes juga dapat memiliki beranekaragam unit usaha seperti yang tertera dalam bagan 1 di bawah ini

Berkembangnya BUMDes tidak terlepas dari peran Dana Desa yang mulai disalurkan sejak tahun 2015. Permendes PDTT No. 21 Tahun 2015 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2015 pasal 9 menjelaskan bahwa salah satu prioritas dalam pemanfaatan dana desa adalah pendirian dan pengembangan BUMDes. Bumdes di luar pulau jawa juga sudah mulai terlihat geliatnya seperti misalnya Bumdes Huntu Barat, kecamatan Bulango Selatan di Propinsi Gorontalo yang fokus pada usaha budi daya ikan air tawar.

Desa harus menjadi pemilik mayoritas Bumdes walaupun juga dapat melibatkan peran serta masyarakat sebagai pemilik modal. Karena Desa yang seharus memiliki Bumdes maka akuntabilitas Bumdes juga harus dilaporkan kepada masyarakat desa.  Akuntabilitas terkait Bumdes diatur dalam Permendes PDTT  lainnya yakni No 4/2015 Tentang Pendirian, Pengurusan dan Pengelolaan, dan Pembubaran BUMDes Pasal 31 dijelaskan bahwa pelaksana operasional harus melaporkan  akuntabilitas kinerja Bumdes kepada Penasihat yang secara ex-officio dijabat oleh Kepala Desa. Kemudian BPD (Badan Permusyawaratan Desa) melakukan pengawasan terhadap kinerja Pemerintah Desa dalam membina pengelolaan Bumdes. Pemerintah Desa mempertanggungjawabkan tugas pembinaan terhadap Bumdes kepada BPD yang  disampaikan melalui Musyawarah Desa.  Akuntabilitas Bumdes yang perlu dilakukan adalah:

1. Setiap akhir periode tahun anggaran, pengelola wajib menyusun laporan pertanggungjawaban untuk disampaikan dalam forum musyawarah desa yang menghadirkan elemen Pemerintahan Desa, elemen masyarakat serta seluruh kelengkapan struktur organisasi BUMDes.

2. Laporan Pertanggungjawaban, antara lain memuat:

a. Laporan Kinerja Pengelola selama satu periode/Tahunan

b. Kinerja Usaha yang menyangkut realisasi kegiatan usaha, upaya pengembangan, indikator keberhasilan dsb.

c. Laporan Keuangan termasuk Rencana Pembagian Laba Usaha.

d. Rencana-rencana pengembangan usaha yang belum terealisasi.

e. Proses pertanggungjawaban dilakukan sebagai upaya evaluasi  tahunan serta upaya-upaya pengembangan kedepan.

f. Mekanisme dan Tata Tertib Pertanggungjawaban ini disesuaikan dengan AD-ART.

 

Pedoman Akuntansi Bumdes

Draft Standar Akuntansi Desa telah dikeluarkan oleh Komite Standar Akuntansi Sektor Publik (KSAP) dan apabila nanti disahkan pasti akan sangat bermanfaat bagi para kades dan aparat desa membuat laporan keuangan. Namun Bumdes adalah entitas bisnis yang beriorientasi laba untuk sustanaibilitas pembangunan desa. Sehingga seharusnya Bumdes tunduk pada standar akuntansi yang juga berlaku untuk entitas bisnis lainnya seperti SAK Umum, SAK ETAP dan SAK EMKM.

Para penggiat Bumdes yang menginginkan semacam pedoman akuntansi untuk Bumdes. Namun membuat pedoman akuntansi untuk Bumdes tidak akan mudah karena banyaknya jenis ragam unit usaha Bumdes. Biasanya suatu pedoman akuntansi memberikan panduan atas pencatatan akuntansi pada suatu industri yang sama misalnya adalah Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI). Sedangkan Bumdes bisa saja memiliki unit usaha berbeda beda seperti perdagangan, simpan pinjam, dan jasa layanan air bersih. Ketika jenis usaha perdagangan yang berbeda beda memiliki proses bisnis yang berbeda. Sehingga apabila pedoman akuntansi ingin dibuat maka harus dibuat beberapa pedoman akuntansi yang sesuai dengan unit usahanya. Pedoman akuntansi untuk unit usaha simpan pinjam tentu akan berbeda dengan pedoman akuntansi untuk unit usaha dagang.

Pertanyaan berikutnya untuk membuat pedoman akuntansi Bumdes adalah ukuran Bumdes yang sangat beragam. Saat ini beberapa Bumdes sudah sangat besar sehingga menghasilkan pendapatan milyaran rupiah setahun, sedangkan Bumdes lainnya baru berdiri atau masih merugi. Dengan demikian apakah pedoman akuntansi Bumdes akan berdasarkan pada SAK Umum yang mungkin cocok untuk Bumdes besar, atau berdasarkan SAK ETAP dan SAK EMKM untuk Bumdes yang lebih kecil? Juga pedoman akuntansi ini harus senantiasa dimutakhirkan apabila ada perubahan standar akuntansi terbaru.

Peran Akuntan dalam Memperkuat Bumdes

Bumdes haruslah adaptif dan responsif menjawab permasalahan dan peluang bisnis di desa masing-masing, sehingga Bumdes bisa saja memiliki pengembangan unit usaha yang sifatnya dinamis dari tahun ke tahun. Hal ini dapat cukup terbatasi apabila Bumdes harus mengikuti suatu pedoman akuntansi yang “rule based” dan kaku. Yang lebih utama adalah mengajarkan prinsip-prinsip akuntansi kepada manajer atau CEO Bumdes agar mereka percaya diri untuk membuat laporan keuangan sekalipun unit usaha mereka berubah. Laporan keuangan seharusnya mampu mengkomunikasikan transaksi bisnis dan situasi ekonomi riil Bumdes. Laporan keuangan harus relevan dan disajikan dengan jujur. Akuntan profesional harus mampu berperan dalam memperkuat 18.446 Bumdes di seluruh Indonesia, di mana ditenggarai hanya sekitar 10% saja yang masuk dalam kategori sehat.

Membantu menyusun laporan keuangan desa atau laporan keuangan Bumdes dapat menjadi ladang amal KJA-KJA baru yang marak bermunculan di Indonesia. Namun tentunya kita juga ingin desa menjadi mandiri dengan sumber daya akuntan sendiri yang mampu menjadi gawang akuntabilitas desa nya tanpa harus terus menerus bergantung pada konsultan atau pendamping.   Sudah waktunya mahasiswa-mahasiswa akuntansi didorong untuk kembali ke desa, menjadi akuntan atau manajer Bumdes atau bahkan menjadi Kepala Desa yang akan memperkuat perekonomian di desa mereka masing-masing. Menjadi akuntan desa tidak kalah menariknya dibandingkan bekerja menjadi akuntan di kantor akuntan besar atau perusahaan besar di perkotaan. Gaya hidup sehat di pedesaan, waktu kerja yang bersahabat dengan misi mulia membangun desa dapat menjadi motivasi alternatif selain mendorong para lulusan akuntansi untuk mencari pekerjaan di kota kota besar.



[1] Disampaikan Mendes PDTT Pada kegiatan Rakornas Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) Tahun 2017 di Kantor BPKP, Jakarta, Kamis 18 Mei 2017.

 

Artikel majalah Akuntan Indonesia Bumdes pg 1 Bumdes page 2 akuntan indonesia Bumdes page 3 akuntan indonesiaBumdes page 2 akuntan indonesiaBumdes page 3 akuntan indonesia

Kaleidoskop SAK 2017 dan Outlook SAK 2018

Minggu, 31 Desember 2017

Catatan Akhir Tahun Ersa Tri Wahyuni.

 

Ditengah liburan akhir tahun yang dipenuhi dengan review film Ayat Ayat Cinta 2, saya membatin apabila ETW menulis review PSAK yang disahkan selama 2017 dan outlook PSAK 2018, apakah akan ada yang tertarik membacanya? Apalagi review PSAK tidak akan ada kalimat pemungkas “Nikahi aku, Fahri” seperti di film AAC 2, paling para pembaca akan dibuat pusing dengan istilah istilah akuntansi yang ETW gunakan. Well, semoga tulisan ini selain informatif juga bisa menghibur para akuntan sekalian, dan bisa dinikmati sambil ngemil jagung bakar di malam pergantian tahun. “Hanya akuntan garis keras yang mau baca artikel tentang PSAK di malam tahun baru” ha ha ha….

Baiklah… yuk kita mulai review apa saja sih standar akuntansi yang sudah disahkan Dewan Standar Akuntansi Keuangan IAI selama tahun 2017.

Eh sebelum mulai ETW disclaimer dulu deh…. semua tulisan di dalam artikel ini adalah pendapat saya pribadi lho yyaaa…  bukan pendapat resmi DSAK-IAI. Semua pendapat resmi DSAK-IAI harus dalam bentuk tertulis dan biasanya dihasilkan dari suatu due process yang panjang. Jadi ini mah tulisan santai yang saya tulis sambil nyruput kopi dan buka buka buku catatan saya.

Sudah siap semuanya? Panjang lho ini tulisannya, pastikan perut anda kenyang sebelum mulai membaca artikel ini… (ETW juga siapin cemilan nih)

  1. 10 Maret 2017, Pengesahak ISAK 32 Definisi dan Hierarki Standar Akuntansi Keuangan.

Ini ISAK (Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan) ini bukan adopsi dari IFRIC nya IASB, alias murni buatan DSAK sendiri. Public hearingnya ETW masih ingat deh, dilaksanakan bulan Desember, tepatnya tanggal 15 Desember 2016 di Balai Kartini Jakarta. Kenapa saya ingat public hearingnya karena waktu itu SERU banget debat nya mengenai ISAK ini. Waktu itu public hearingnya barengan dengan ED PSAK 72 dan amandemen PSAK 64. Tapi pas pembahasan ISAK 32 yang paling seru guys…. karena ada beberapa perwakilan PLN yang hadir juga di acara tersebut.

Yang belum pernah baca ISAK 32, coba ETW ceritakan sedikit ya sejarah sebabnya kemunculan ISAK ini. Gimana ya ceritanya supaya ringkas nih, karena sejarahnya panjaaaang dan bisa dua hari baru kelar kalau diceritakan semua ha ha ha lebay. Mungkin diceritakan ringkas saja ya. Selama tahun 2016 memang ramai diberitakan di media masa tentang pembangunan listrik 35,000 watt terhambat gara gara PLN harus menerapkan ISAK 8 Perjanjian mengandung sewa. Mangga silakan googling “ISAK 8 dan PLN” maka akan banyak artikelnya di internet sepanjang tahun 2016.

Issue mengenai keengganan PLN untuk menerapkan ISAK 8 sudah menjadi rahasia umum. Bahkan issue ISAK8 ini pernah dibahas di rapat kabinet Jokowi tanggal 22 Juni 2016. Bayangkan booo…. suatu standar akuntansi sampai dirapatkan di rapat kabinet, hebat gak tuh? Lalu DSAK mendengar kemungkinan akan terbit sebuah Pepres yang akan mengatur transaksi pembelian listrik antara PLN dan perusahaan pembangkit listrik.  Nah dapat saja pepres ini akan mengatur hal yang berbeda dengan PSAK. Dan mungkin saja kan di masa depan akan terbit peraturan peraturan lainnya yang berbeda dengan SAK?  Nah di dalam PEPRES NO. 14 / 2017 yang muncul bulan Februari 2017, disebutkan dalam Pasal 8A bahwa PLN melakukan kerjasama penyediaan listrik dengan PPL melalui transaksi jual beli dan bukan transaksi sewa.  (jreeennggg)…. Lalu ada ayat dua dari pasak 8A bahwa akuntansinya akan diatur oleh OJK sesuai dengan ketentuan pasar modal. Nih link Perpresnya : http://sipuu.setkab.go.id/PUUdoc/175115/Perpres%20Nomor%2014%20Tahun%202017.pdf

Nah disini lah kemudian menjadi polemik. Kalau seandainya nih, OJK menerbitkan peraturan (karena diminta Perpres) yang mengatakan bahwa PLN tidak perlu menerapkan ISAK 8, apakah Laporan Keuangan PLN masih dapat dikatakan sesuai dengan SAK? Karena bukankah peraturan OJK juga termasuk dalam definisi SAK di dalam PSAK 1? Hayooo coba buka lagi buku SAK nya dan dibaca definisi SAK di dalam PSAK 1. Yang repot karena tangannya lagi megang jagung bakar, ini saya kutip ya:

Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah Pernyataan dan Interpretasi yang diterbitkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia dan Dewan Standar Akuntansi Syariah Ikatan Akuntan Indonesia serta peraturan regulator pasar modal untuk entitas yang berada di bawah pengawasannya.  (cetak tebal ditambahkan oleh ETW)

Kenapa itu definisi SAK di dalam PSAK 1 nya begitu dan beda dengan IFRS nya, nah itu another different story…. kapan kapan ETW ceritain deh yak….

DSAK-IAI tentunya gak bisa melarang OJK atau bahkan Presiden untuk menerbitkan peraturan apapun. Tapi DSAK bisa dong memagari dan melindungi SAK nya sendiri, ye pan? Maka terbitlah ISAK 32 ini. Intinya ISAK 32 ini bilang kalau ada peraturan pasar modal yang bertentangan dengan SAK (PSAK dan ISAK) yang sudah spesifik, dan entitas ingin mengikuti peraturan pasar modal, jangan ngaku sudah sesuai dengan SAK. Menurut ETW sih cukup wajar iya gak sih, kalau mau bilang sudah patuh dengan SAK ya harus patuh dengan keseluruhannya, gak bisa tebang pilih.  Lagian nanti di masa depan gimana kalau ada peraturan2 OJK lainnya yang beda dengan SAK. Kalau tidak diterbitkan ISAK 32 ini, auditor bisa bingung memberikan opini. Oh iyyaaa… ISAK 32 ini walaupun disahkan 10 Maret 2017 tapi berlaku efektif sejak 1 Januari 2017.

Dalam rapat DSAK, ETW termasuk yang mendukung sebaiknya definisi SAK 1 nya saja yang dibetulkan, disesuai dengan IFRS 1 nya. Karena di dalam IFRS 1 tidak ada tambahan mengenai peraturan regulator pasar modal lho. Tapi sepertinya usulan ini kurang populer he he he…

Lah, panjang bener ini review ISAK 32 nya. Padahal masih banyak lho PSAK lainnya. Yuk kita lanjut deh… (nyuruput kopi dulu)…

 

2. 26 April 2017 : Annual Improvements 2017 

Annual improvements atau penyesuaian tahunan biasanya memuat penyesuaian yang dilakukan IASB untuk memperjelas kalimat dalam IFRS yang menimbulkan kerancuan atau pertanyaan. Untuk penyesuaian tahunan yang disahkan tanggal 26 April adalah klarifikasi untuk PSAK 15 Investasi pada entitas asosiasi dan ventura bersama dan PSAK 67 Pengungkapan kepentingan dalam entitas lain. Intinya dalam penyesuaian tahunan PSAK 15 ditegaskan pada saat pengakuan awal, entitas dapat memilih untuk mengukur investee-nya pada nilai wajar atas dasar investasi-per-investasi. Sedangkan PSAK penyesuaian tahunan PSAK 67 menklarifikasi bahwa persyaratan pengungkapan (selain pada PP10-PP16) juga diterapkan pada setiap kepentingan dalam entitas yang diklasifikan sesuai dengan PSAK 58. Penyesuaian tahunan ini berlaku efektif 1 Januari 2018.

 

 3. 26 Juli 2017 : Pengesahan PSAK 71, PSAK 72 dan Amandemen PSAK 62

 

Rapat DSAK tanggal 26 Juli 2017 menjadi momen penting karena pada tanggal ini disahkan dua PSAK sekaligus. Kedua PSAK ini termasuk PSAK besar karena perubahannya cukup signifikan dibandingkan dengan standar sebelumnya. PSAK 71 mengenai instrumen keuangan (adopsi dari IFRS 9) dan PSAK 72 (adopsi dari IFRS 15) mengenai Pendapatan dari kontrak dengan pelanggan. Sedangkan Amandemen PSAK 62 terkait erat dengan penerapan PSAK 71 untuk industri asuransi yang mendapatkan opsi keringanan untuk menunda penerapan PSAK 71 sampai IFRS tentang kontrak asuransi selesai dan disahkan.

 

Dalam exposure draft PSAK 71 dikatakan bahwa tanggal efektif standar ini adalah 2019, karena DSAK sudah bertekad menjaga kesenjangan PSAK dengan IFRS hanya setahun saja. Kalau IFRS 9 berlaku wajib tahun 2018 oleh IASB, maka harusnya PSAK 71 berlaku di Indonesia berlaku tahun 2019. Tapi melihat kesiapan para institusi keuangan di Indonesia dan permintaan ke DSAK agar diundur menjadi tahun 2020, maka diputuskan akhirnya PSAK 71 berlaku tahun 2020 dengan penerapan dini diijinkan. Siapa tahu kan ada bank cabang luar negeri yang mau pakai PSAK 71 nya tahun 2018 karena induknya di Malaysia atau Singapura sudah wajib menggunakan IFRS 9?

 

PSAK 71 ini dapat memberikan dampak besar untuk cadangan penurunan nilai perbankan di Indonesia. Kalau survey-survey di luar negeri kemungkinan cadangan penurunan nilai dapat meningkat sampai 30%-50%. Oleh sebab itu sudah sejak lama DSAK IAI dan OJK membuat working group untuk IFRS 9 ini yang juga beranggotakan para bankir, untuk membantu persiapan penerapan PSAK ini. Public Hearing untuk ED PSAK 71 ini dilaksanakan 24 October 2016. Jadi cukup lama juga ya waktunya sejak public hearing sampai disahkan Juli 2017.

 

Sama dengan PSAK 72, tanggal efektif exposure draft juga 2019, namun mengingat standar ini kalau bisa berlaku efektinya sama dengan PSAK 71 karena berkaitan erat, maka ketika disahkan tanggal efektifnya disamakan dengan PSAK 71.  Analisis DSAK untuk PSAK 72 ini sepertinya yang akan terkena dampaknya adalah industri real estat dan telekomunikasi. Public hearing untuk PSAK 72 ini bulan Desember 2017 (barengan dengan ED ISAK 32) banyak mengundang entitas dari dua industri ini.  Khusus untuk industri real estat, DSAK-IAI juga melakukan limited hearing pada tanggal 7 Maret 2017 di Bursa Efek Indonesia di mana perwakilan dari REI (Real Estate Indonesia) juga melakukan presentasi pada acara tersebut.

So, walaupun ini dua PSAK baru berlaku tahun 2020, tapi entitas harus mempersiapkan diri sedini mungkin. Jangan mendadak mendadak karena dampaknya bisa saja signifikan.

 

4. 18 September 2017 : Pengesahan PSAK 73, ISAK 33, Amandemen PSAK 13 dan 53. Juga pengesahan ED ISAK 34 Ketidakpastian dalam Perlakuan Pajak Penghasilan

 

PSAK 73 Sewa ini merupakan adopsi dari IFRS 16, merupakan PSAK yang besar perubahannya dari PSAK 30 sebelumnya. Undangan public hearing ED PSAK 73, ISAK 33 dan amandemen dilakukan pada 8 Juni di Balai Kartini.  Waktu itu ETW kebagian presentasi amandemen PSAK 13 dan itu jatah presentasinya terakhir banget setelah diskusi PSAK 73 dan ISAK 33, jadi mungkin gak ada yang dengerin ha ha ha

Anyway PSAK 73 ini emang dahsyat beneran guys (lebay ih ETW), dan bisa berakibat signifikan untuk para perusahaaan yang hobi punya sewa operasi. Perusahaan penerbangan seperti Garuda bisa terkena dampak signifikan bila menerapkan PSAK ini. Oh ya PSAK ini juga berlaku tahun 2020 dengan penerapan dini diijinkan. Tapi kalau mau menerapkan dini (semisal di tahun 2018), jangan lupa PSAK 72 nya juga kudu diterapkan juga.

Nah tuh kebayang kan tahun 2020 ada tiga PSAK besar yang harus diterapkan seluruh entitas yakni PSAK 71, PSAK 72 dan PSAK 73.

ISAK 33 Transkasi Valuta Asing dan Imbalan di Muka ini merupa adopsi dari IFRIC 22. Jadi ini IFRIC muncul karena ada pertanyaan, kalau seandainya nih perusahaan terima atau bayar cicilan dengan mata uang asing di awal sebelum menjual atau menerima aset yang dibeli, pakai kurs yang mana? Kurs ketika pembayaran dimuka dilakukan (diterima) atau pakai kurs ketika aset diakui? Nah IFRIC 22/ISAK 33 ini menjelaskan pakainya kurs transaksi ketika pembayaran dimuka diterima atau dibayar. Kalau bayarnya berkali kali ya pakai kurs yang beda beda bergantung tanggal transaksinya. ISAK ini berlaku efektif 1 Januari 2019 ya.

Amandemen PSAK 15 dan amandemen PSAK 53 gak begitu signifikan menurut ETW. Kedua amandemen ini berlaku 1 Januari 2018.

ED ISAK 34 menjadi exposure draft terakhir yang dikeluarkan oleh DSAK IAI tahun 2017 dan belum disahkan menjadi ISAK sampai akhir tahun 2017. ED ISAK ini merupakan adopsi dari IFRIC 23 yang dikeluarkan oleh IASB. ISAK ini intinya memberikan arahan bagaimana entitas merefleksikan ketidakpastian perlakuan pajak penghasilan dalam laporan keuangannya.

Setelah beberapa pengesahan, tahun 2017 ditutup dengan public hearing amandemen PSAK 71 dan amandemen PSAK 15 pada tanggal 8 Desember 2017 di Graha Akuntan, Menteng. ETW tidak bisa hadir karena ada acara Doctoral Colloquium dan Joint Conference di UNPAD. Amandemen PSAK 71 dan PSAK 15 ini rencananya akan berlaku tahun 2020.

Lalu pada tanggal 15 Desember 2017, DSAK IAI juga melakukan presentasi di Semarang dalam kegiatan HUT IAI ke 60. Dalam acara ini DSAK melakukan jajak pendapat untuk discussion paper rencana revisi SAK ETAP dan tentang rencana strategis perubahan standar akuntansi non profit.

 

Outlook SAK 2018

Nah bagaimana nih kira-kira aktivitas DSAK tahun 2018 mendatang?

Untuk program adopsi IFRS, IASB telah mengesahkan IFRS 17 Insurance Contracts. Ini belum diadopsi oleh DSAK-IAI dan mungkin (dugaan ETW) akan menjadi rencana kerja tahun 2018. Exposure Draft PSAK kontrak Asuransi kemungkinan besar akan dikeluarkan tahun 2018 agar perusahaan asuransi dapat bersiap siap lebih dini.

Menilik program kerja IASB tahun 2018, sepertinya IASB akan memasuki masa “calm year” karena tidak ada IFRS besar yang akan disahkan tahun 2018. Mungkin yang harus dicermati hanya perubahan conceptual framework yang ditargetkan tahun 2018 selesai. Selebihnya tahun 2018 IASB banyak melakukan research project.

Untuk IFRIC sepertinya sampai hari ini belum ada IFRIC baru yang belum diadopsi DSAK-IAI namun melihat rencana kerja IASB, ada empat rencana amandemen penting yang ditargetkan untuk disahkan pada semester satu tahun 2018.

Yang menarik dari amandemen IASB adalah rencana mengubah definisi bisnis dalam IFRS 3. Ini mengikuti perkembangan yang ada di FASB. Sudah pernah ETW ulas sedikit ketika membahas mengenai akuntansi untuk startup. Nih link nya. http://etw-accountant.com/tag/startup/

Lalu apalagi nih agenda besar DSAK tahun 2018. Mumpung IFRS nya sedang “calm year”, DSAK IAI mungkin akan fokus dengan review SAK ETAP dan juga standar akuntansi non profit. Saat ini discussion paper sudah dikeluarkan untuk menjaring masukan dari masyarakat apa yang seharusnya dilakukan oleh DSAK-IAI.

Let’s wrap up ya…. karena itu suara petasan juga sudah mulai rame di luar. Tahun 2018 kemungkinan besar DSAK akan mengeluarkan ED PSAK mengenai Kontrak Asuransi. Ini cukup signifikan beda nya dengan PSAK 62 saat ini. IASB memberikan tanggal efektif untuk IFRS 17 ini tahun 2021, maka mungkin di Indonesia akan mulai berlaku 2022 (satu tahun jarak).

Juga DSAK IAI mungkin akan mengeluarkan keputusan tentang bagaimana SAK ETAP akan direvisi. Apakah akan digantikan dengan IFRS for SME atau mungkin dengan alternatif lainnya, bergantun dengan masukan masyarakat. Untuk revisi standar akuntansi non-profit juga kemungkinan tahun 2018 DSAK IAI akan membuat keputusan baiknya bagaimana. Apakah PSAK 45 ditarik lalu digantikan dengan produk lainnya yang merupakan interpretasi dari PSAK 1 mengenai penyajian laporan keuangan? Apakah perlu dikeluarkan standar akuntansi mengenai koleksi dan kontribusi? Keputusan ini juga masih menunggu masukan dari masyarakat. Makanya yuk ikut berpartisipasi dalam penyusunan standar akuntansi di Indonesia dengan memberikan masukan.

Yuk beri masukan. Berikut link untuk discussion papernya guys : http://iaiglobal.or.id/v03/berita-kegiatan/detailberita-1037-permintaan-tanggapan-discussion-paper–reviu-komprehensif-sak-etap-dan-revisi-psak-untuk-entitas-nirlaba

 

Siiippp…. segini dulu ya. Mari kita sambut tahun 2018 dengan gembira. Selamat Tahun Baru 2018 !