Home » IFRS Convergence Issues

Category Archives: IFRS Convergence Issues

Kaleidoskop SAK 2017 dan Outlook SAK 2018

Minggu, 31 Desember 2017

Catatan Akhir Tahun Ersa Tri Wahyuni.

 

Ditengah liburan akhir tahun yang dipenuhi dengan review film Ayat Ayat Cinta 2, saya membatin apabila ETW menulis review PSAK yang disahkan selama 2017 dan outlook PSAK 2018, apakah akan ada yang tertarik membacanya? Apalagi review PSAK tidak akan ada kalimat pemungkas “Nikahi aku, Fahri” seperti di film AAC 2, paling para pembaca akan dibuat pusing dengan istilah istilah akuntansi yang ETW gunakan. Well, semoga tulisan ini selain informatif juga bisa menghibur para akuntan sekalian, dan bisa dinikmati sambil ngemil jagung bakar di malam pergantian tahun. “Hanya akuntan garis keras yang mau baca artikel tentang PSAK di malam tahun baru” ha ha ha….

Baiklah… yuk kita mulai review apa saja sih standar akuntansi yang sudah disahkan Dewan Standar Akuntansi Keuangan IAI selama tahun 2017.

Eh sebelum mulai ETW disclaimer dulu deh…. semua tulisan di dalam artikel ini adalah pendapat saya pribadi lho yyaaa…  bukan pendapat resmi DSAK-IAI. Semua pendapat resmi DSAK-IAI harus dalam bentuk tertulis dan biasanya dihasilkan dari suatu due process yang panjang. Jadi ini mah tulisan santai yang saya tulis sambil nyruput kopi dan buka buka buku catatan saya.

Sudah siap semuanya? Panjang lho ini tulisannya, pastikan perut anda kenyang sebelum mulai membaca artikel ini… (ETW juga siapin cemilan nih)

  1. 10 Maret 2017, Pengesahak ISAK 32 Definisi dan Hierarki Standar Akuntansi Keuangan.

Ini ISAK (Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan) ini bukan adopsi dari IFRIC nya IASB, alias murni buatan DSAK sendiri. Public hearingnya ETW masih ingat deh, dilaksanakan bulan Desember, tepatnya tanggal 15 Desember 2016 di Balai Kartini Jakarta. Kenapa saya ingat public hearingnya karena waktu itu SERU banget debat nya mengenai ISAK ini. Waktu itu public hearingnya barengan dengan ED PSAK 72 dan amandemen PSAK 64. Tapi pas pembahasan ISAK 32 yang paling seru guys…. karena ada beberapa perwakilan PLN yang hadir juga di acara tersebut.

Yang belum pernah baca ISAK 32, coba ETW ceritakan sedikit ya sejarah sebabnya kemunculan ISAK ini. Gimana ya ceritanya supaya ringkas nih, karena sejarahnya panjaaaang dan bisa dua hari baru kelar kalau diceritakan semua ha ha ha lebay. Mungkin diceritakan ringkas saja ya. Selama tahun 2016 memang ramai diberitakan di media masa tentang pembangunan listrik 35,000 watt terhambat gara gara PLN harus menerapkan ISAK 8 Perjanjian mengandung sewa. Mangga silakan googling “ISAK 8 dan PLN” maka akan banyak artikelnya di internet sepanjang tahun 2016.

Issue mengenai keengganan PLN untuk menerapkan ISAK 8 sudah menjadi rahasia umum. Bahkan issue ISAK8 ini pernah dibahas di rapat kabinet Jokowi tanggal 22 Juni 2016. Bayangkan booo…. suatu standar akuntansi sampai dirapatkan di rapat kabinet, hebat gak tuh? Lalu DSAK mendengar kemungkinan akan terbit sebuah Pepres yang akan mengatur transaksi pembelian listrik antara PLN dan perusahaan pembangkit listrik.  Nah dapat saja pepres ini akan mengatur hal yang berbeda dengan PSAK. Dan mungkin saja kan di masa depan akan terbit peraturan peraturan lainnya yang berbeda dengan SAK?  Nah di dalam PEPRES NO. 14 / 2017 yang muncul bulan Februari 2017, disebutkan dalam Pasal 8A bahwa PLN melakukan kerjasama penyediaan listrik dengan PPL melalui transaksi jual beli dan bukan transaksi sewa.  (jreeennggg)…. Lalu ada ayat dua dari pasak 8A bahwa akuntansinya akan diatur oleh OJK sesuai dengan ketentuan pasar modal. Nih link Perpresnya : http://sipuu.setkab.go.id/PUUdoc/175115/Perpres%20Nomor%2014%20Tahun%202017.pdf

Nah disini lah kemudian menjadi polemik. Kalau seandainya nih, OJK menerbitkan peraturan (karena diminta Perpres) yang mengatakan bahwa PLN tidak perlu menerapkan ISAK 8, apakah Laporan Keuangan PLN masih dapat dikatakan sesuai dengan SAK? Karena bukankah peraturan OJK juga termasuk dalam definisi SAK di dalam PSAK 1? Hayooo coba buka lagi buku SAK nya dan dibaca definisi SAK di dalam PSAK 1. Yang repot karena tangannya lagi megang jagung bakar, ini saya kutip ya:

Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah Pernyataan dan Interpretasi yang diterbitkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia dan Dewan Standar Akuntansi Syariah Ikatan Akuntan Indonesia serta peraturan regulator pasar modal untuk entitas yang berada di bawah pengawasannya.  (cetak tebal ditambahkan oleh ETW)

Kenapa itu definisi SAK di dalam PSAK 1 nya begitu dan beda dengan IFRS nya, nah itu another different story…. kapan kapan ETW ceritain deh yak….

DSAK-IAI tentunya gak bisa melarang OJK atau bahkan Presiden untuk menerbitkan peraturan apapun. Tapi DSAK bisa dong memagari dan melindungi SAK nya sendiri, ye pan? Maka terbitlah ISAK 32 ini. Intinya ISAK 32 ini bilang kalau ada peraturan pasar modal yang bertentangan dengan SAK (PSAK dan ISAK) yang sudah spesifik, dan entitas ingin mengikuti peraturan pasar modal, jangan ngaku sudah sesuai dengan SAK. Menurut ETW sih cukup wajar iya gak sih, kalau mau bilang sudah patuh dengan SAK ya harus patuh dengan keseluruhannya, gak bisa tebang pilih.  Lagian nanti di masa depan gimana kalau ada peraturan2 OJK lainnya yang beda dengan SAK. Kalau tidak diterbitkan ISAK 32 ini, auditor bisa bingung memberikan opini. Oh iyyaaa… ISAK 32 ini walaupun disahkan 10 Maret 2017 tapi berlaku efektif sejak 1 Januari 2017.

Dalam rapat DSAK, ETW termasuk yang mendukung sebaiknya definisi SAK 1 nya saja yang dibetulkan, disesuai dengan IFRS 1 nya. Karena di dalam IFRS 1 tidak ada tambahan mengenai peraturan regulator pasar modal lho. Tapi sepertinya usulan ini kurang populer he he he…

Lah, panjang bener ini review ISAK 32 nya. Padahal masih banyak lho PSAK lainnya. Yuk kita lanjut deh… (nyuruput kopi dulu)…

 

2. 26 April 2017 : Annual Improvements 2017 

Annual improvements atau penyesuaian tahunan biasanya memuat penyesuaian yang dilakukan IASB untuk memperjelas kalimat dalam IFRS yang menimbulkan kerancuan atau pertanyaan. Untuk penyesuaian tahunan yang disahkan tanggal 26 April adalah klarifikasi untuk PSAK 15 Investasi pada entitas asosiasi dan ventura bersama dan PSAK 67 Pengungkapan kepentingan dalam entitas lain. Intinya dalam penyesuaian tahunan PSAK 15 ditegaskan pada saat pengakuan awal, entitas dapat memilih untuk mengukur investee-nya pada nilai wajar atas dasar investasi-per-investasi. Sedangkan PSAK penyesuaian tahunan PSAK 67 menklarifikasi bahwa persyaratan pengungkapan (selain pada PP10-PP16) juga diterapkan pada setiap kepentingan dalam entitas yang diklasifikan sesuai dengan PSAK 58. Penyesuaian tahunan ini berlaku efektif 1 Januari 2018.

 

 3. 26 Juli 2017 : Pengesahan PSAK 71, PSAK 72 dan Amandemen PSAK 62

 

Rapat DSAK tanggal 26 Juli 2017 menjadi momen penting karena pada tanggal ini disahkan dua PSAK sekaligus. Kedua PSAK ini termasuk PSAK besar karena perubahannya cukup signifikan dibandingkan dengan standar sebelumnya. PSAK 71 mengenai instrumen keuangan (adopsi dari IFRS 9) dan PSAK 72 (adopsi dari IFRS 15) mengenai Pendapatan dari kontrak dengan pelanggan. Sedangkan Amandemen PSAK 62 terkait erat dengan penerapan PSAK 71 untuk industri asuransi yang mendapatkan opsi keringanan untuk menunda penerapan PSAK 71 sampai IFRS tentang kontrak asuransi selesai dan disahkan.

 

Dalam exposure draft PSAK 71 dikatakan bahwa tanggal efektif standar ini adalah 2019, karena DSAK sudah bertekad menjaga kesenjangan PSAK dengan IFRS hanya setahun saja. Kalau IFRS 9 berlaku wajib tahun 2018 oleh IASB, maka harusnya PSAK 71 berlaku di Indonesia berlaku tahun 2019. Tapi melihat kesiapan para institusi keuangan di Indonesia dan permintaan ke DSAK agar diundur menjadi tahun 2020, maka diputuskan akhirnya PSAK 71 berlaku tahun 2020 dengan penerapan dini diijinkan. Siapa tahu kan ada bank cabang luar negeri yang mau pakai PSAK 71 nya tahun 2018 karena induknya di Malaysia atau Singapura sudah wajib menggunakan IFRS 9?

 

PSAK 71 ini dapat memberikan dampak besar untuk cadangan penurunan nilai perbankan di Indonesia. Kalau survey-survey di luar negeri kemungkinan cadangan penurunan nilai dapat meningkat sampai 30%-50%. Oleh sebab itu sudah sejak lama DSAK IAI dan OJK membuat working group untuk IFRS 9 ini yang juga beranggotakan para bankir, untuk membantu persiapan penerapan PSAK ini. Public Hearing untuk ED PSAK 71 ini dilaksanakan 24 October 2016. Jadi cukup lama juga ya waktunya sejak public hearing sampai disahkan Juli 2017.

 

Sama dengan PSAK 72, tanggal efektif exposure draft juga 2019, namun mengingat standar ini kalau bisa berlaku efektinya sama dengan PSAK 71 karena berkaitan erat, maka ketika disahkan tanggal efektifnya disamakan dengan PSAK 71.  Analisis DSAK untuk PSAK 72 ini sepertinya yang akan terkena dampaknya adalah industri real estat dan telekomunikasi. Public hearing untuk PSAK 72 ini bulan Desember 2017 (barengan dengan ED ISAK 32) banyak mengundang entitas dari dua industri ini.  Khusus untuk industri real estat, DSAK-IAI juga melakukan limited hearing pada tanggal 7 Maret 2017 di Bursa Efek Indonesia di mana perwakilan dari REI (Real Estate Indonesia) juga melakukan presentasi pada acara tersebut.

So, walaupun ini dua PSAK baru berlaku tahun 2020, tapi entitas harus mempersiapkan diri sedini mungkin. Jangan mendadak mendadak karena dampaknya bisa saja signifikan.

 

4. 18 September 2017 : Pengesahan PSAK 73, ISAK 33, Amandemen PSAK 13 dan 53. Juga pengesahan ED ISAK 34 Ketidakpastian dalam Perlakuan Pajak Penghasilan

 

PSAK 73 Sewa ini merupakan adopsi dari IFRS 16, merupakan PSAK yang besar perubahannya dari PSAK 30 sebelumnya. Undangan public hearing ED PSAK 73, ISAK 33 dan amandemen dilakukan pada 8 Juni di Balai Kartini.  Waktu itu ETW kebagian presentasi amandemen PSAK 13 dan itu jatah presentasinya terakhir banget setelah diskusi PSAK 73 dan ISAK 33, jadi mungkin gak ada yang dengerin ha ha ha

Anyway PSAK 73 ini emang dahsyat beneran guys (lebay ih ETW), dan bisa berakibat signifikan untuk para perusahaaan yang hobi punya sewa operasi. Perusahaan penerbangan seperti Garuda bisa terkena dampak signifikan bila menerapkan PSAK ini. Oh ya PSAK ini juga berlaku tahun 2020 dengan penerapan dini diijinkan. Tapi kalau mau menerapkan dini (semisal di tahun 2018), jangan lupa PSAK 72 nya juga kudu diterapkan juga.

Nah tuh kebayang kan tahun 2020 ada tiga PSAK besar yang harus diterapkan seluruh entitas yakni PSAK 71, PSAK 72 dan PSAK 73.

ISAK 33 Transkasi Valuta Asing dan Imbalan di Muka ini merupa adopsi dari IFRIC 22. Jadi ini IFRIC muncul karena ada pertanyaan, kalau seandainya nih perusahaan terima atau bayar cicilan dengan mata uang asing di awal sebelum menjual atau menerima aset yang dibeli, pakai kurs yang mana? Kurs ketika pembayaran dimuka dilakukan (diterima) atau pakai kurs ketika aset diakui? Nah IFRIC 22/ISAK 33 ini menjelaskan pakainya kurs transaksi ketika pembayaran dimuka diterima atau dibayar. Kalau bayarnya berkali kali ya pakai kurs yang beda beda bergantung tanggal transaksinya. ISAK ini berlaku efektif 1 Januari 2019 ya.

Amandemen PSAK 15 dan amandemen PSAK 53 gak begitu signifikan menurut ETW. Kedua amandemen ini berlaku 1 Januari 2018.

ED ISAK 34 menjadi exposure draft terakhir yang dikeluarkan oleh DSAK IAI tahun 2017 dan belum disahkan menjadi ISAK sampai akhir tahun 2017. ED ISAK ini merupakan adopsi dari IFRIC 23 yang dikeluarkan oleh IASB. ISAK ini intinya memberikan arahan bagaimana entitas merefleksikan ketidakpastian perlakuan pajak penghasilan dalam laporan keuangannya.

Setelah beberapa pengesahan, tahun 2017 ditutup dengan public hearing amandemen PSAK 71 dan amandemen PSAK 15 pada tanggal 8 Desember 2017 di Graha Akuntan, Menteng. ETW tidak bisa hadir karena ada acara Doctoral Colloquium dan Joint Conference di UNPAD. Amandemen PSAK 71 dan PSAK 15 ini rencananya akan berlaku tahun 2020.

Lalu pada tanggal 15 Desember 2017, DSAK IAI juga melakukan presentasi di Semarang dalam kegiatan HUT IAI ke 60. Dalam acara ini DSAK melakukan jajak pendapat untuk discussion paper rencana revisi SAK ETAP dan tentang rencana strategis perubahan standar akuntansi non profit.

 

Outlook SAK 2018

Nah bagaimana nih kira-kira aktivitas DSAK tahun 2018 mendatang?

Untuk program adopsi IFRS, IASB telah mengesahkan IFRS 17 Insurance Contracts. Ini belum diadopsi oleh DSAK-IAI dan mungkin (dugaan ETW) akan menjadi rencana kerja tahun 2018. Exposure Draft PSAK kontrak Asuransi kemungkinan besar akan dikeluarkan tahun 2018 agar perusahaan asuransi dapat bersiap siap lebih dini.

Menilik program kerja IASB tahun 2018, sepertinya IASB akan memasuki masa “calm year” karena tidak ada IFRS besar yang akan disahkan tahun 2018. Mungkin yang harus dicermati hanya perubahan conceptual framework yang ditargetkan tahun 2018 selesai. Selebihnya tahun 2018 IASB banyak melakukan research project.

Untuk IFRIC sepertinya sampai hari ini belum ada IFRIC baru yang belum diadopsi DSAK-IAI namun melihat rencana kerja IASB, ada empat rencana amandemen penting yang ditargetkan untuk disahkan pada semester satu tahun 2018.

Yang menarik dari amandemen IASB adalah rencana mengubah definisi bisnis dalam IFRS 3. Ini mengikuti perkembangan yang ada di FASB. Sudah pernah ETW ulas sedikit ketika membahas mengenai akuntansi untuk startup. Nih link nya. http://etw-accountant.com/tag/startup/

Lalu apalagi nih agenda besar DSAK tahun 2018. Mumpung IFRS nya sedang “calm year”, DSAK IAI mungkin akan fokus dengan review SAK ETAP dan juga standar akuntansi non profit. Saat ini discussion paper sudah dikeluarkan untuk menjaring masukan dari masyarakat apa yang seharusnya dilakukan oleh DSAK-IAI.

Let’s wrap up ya…. karena itu suara petasan juga sudah mulai rame di luar. Tahun 2018 kemungkinan besar DSAK akan mengeluarkan ED PSAK mengenai Kontrak Asuransi. Ini cukup signifikan beda nya dengan PSAK 62 saat ini. IASB memberikan tanggal efektif untuk IFRS 17 ini tahun 2021, maka mungkin di Indonesia akan mulai berlaku 2022 (satu tahun jarak).

Juga DSAK IAI mungkin akan mengeluarkan keputusan tentang bagaimana SAK ETAP akan direvisi. Apakah akan digantikan dengan IFRS for SME atau mungkin dengan alternatif lainnya, bergantun dengan masukan masyarakat. Untuk revisi standar akuntansi non-profit juga kemungkinan tahun 2018 DSAK IAI akan membuat keputusan baiknya bagaimana. Apakah PSAK 45 ditarik lalu digantikan dengan produk lainnya yang merupakan interpretasi dari PSAK 1 mengenai penyajian laporan keuangan? Apakah perlu dikeluarkan standar akuntansi mengenai koleksi dan kontribusi? Keputusan ini juga masih menunggu masukan dari masyarakat. Makanya yuk ikut berpartisipasi dalam penyusunan standar akuntansi di Indonesia dengan memberikan masukan.

Yuk beri masukan. Berikut link untuk discussion papernya guys : http://iaiglobal.or.id/v03/berita-kegiatan/detailberita-1037-permintaan-tanggapan-discussion-paper–reviu-komprehensif-sak-etap-dan-revisi-psak-untuk-entitas-nirlaba

 

Siiippp…. segini dulu ya. Mari kita sambut tahun 2018 dengan gembira. Selamat Tahun Baru 2018 !

 

Menghadapi Turbulensi IFRS 2018-2022

Oleh Ersa Tri Wahyuni, PhD, CA

Dosen Akuntansi Universitas Padjadjaran, Anggota DSAK-IAI. 

Tulisan ini dimuat dalam majalah Akuntan Indonesia edisi Juli-Agustus 2017

Beberapa standar IFRS baru telah diadopsi oleh DSAK-IAI menjadi draft exposure dan akan berlaku efektif dalam dua atau tiga tahun ke depan. Hal ini dikhawatirkan akan memberikan turbulensi baru karena dampaknya yang signifikan terhadap laporan keuangan. Apakah kekhawatiran ini beralasan?

 

Kekhawatiran dan beberapa pertanyaan terkait kesiapan industri berusaha dijawab oleh kegiatan seminar internasional IAI-IFRS di Hotel Mandarin Jakarta pada tanggal 12-13 Juli lalu. Serangkaian pembicara dari IASB, DSAK-IAI dan perwakilan industri membedah standar-standar IFRS baru dan dampaknya terhadap kegiatan pelaporan dan pemeriksaan laporan keuangan.  Kegiatan ini bekerjasama dengan IASB yang juga secara paralel melaksanakan rapat IASB working group on Islamic finance di Jakarta pada tanggal 13 Juli dihadiri oleh kurang lebih 150 peserta.

 

Standar Akuntansi Baru

 

Setelah masa-masa tenang pada tahun 2015-2017 tanpa standar akuntansi besar yang berlaku, tahun 2018 ke depan Indonesia akan menghadapi tantangan beberapa standar akuntansi dengan dampak signifikan. Beberapa standar baru yang akan berlaku tahun 2018-2022 terangkum dalam tabel 1 di bawah ini:

 

Tabel 1 : Standar Akuntansi yang akan berlaku 2018-2022

Standar Baru

Tahun Berlaku

Industri yang Kemungkinan terkena Dampak Signifikan

IAS 41 / PSAK 69 : Agrikultur  dan Amendemen PSAK 16 Tanaman produktif I Januari 2018 Industri Perkebunan dan Peternakan harus mencatat aset biologis dengan nilai wajar dan selisihnya masuk ke laba rugi. Kecuali tanaman produktif yang boleh menggunakan model biaya.
IFRS 9 /DE PSAK 71 : Instrumen Keuangan Belum diputuskan oleh DSAK/IAI. Tanggal efektif di DE adalah 2019. Kemungkinan besar akan diundurkan menjadi 2020. Industri perbankan akan terkena dampak signifikan dari model penurunan nilai yang baru. Pencadangan dapat meningkat 30-50%
IFRS 15 / DE PSAK 72 Pendapatan: Contrak dari pelanggan Tanggal efektif akan sama dengan IFRS 9/ DE PSAK 71 Industri real estat dapat terkena dampak signifikan karena pengakuan pendapatan sepanjang masa pembangunan harus memenuhi persyaratan yang lebih ketat. Industri telekomunikasi juga dapat terkena dampak untuk pengakuan pendapatan produk gabungan.
IFRS 16 / DE PSAK 73 : Sewa Belum diputuskan oleh DSAK/IAI. Tanggal efektif di DE adalah 2020. Semua industri yang memiliki jumlah sewa operasi signifikan dapat terkena dampak seperti misalnya industri penerbangan.
IFRS 17 Insurance Contract (Draft Exposure belum dikeluarkan oleh DSAK-IAI) Belum diputuskan oleh DSAK/IAI. Tanggal efektif di IFRS 17 nya adalah 2021. Kemungkinan besar di Indonesia akan berlaku 2022. Industri asuransi akan terkena dampak signifikan karena standar yang baru akan mengubah pencatatan akuntansi yang sekarang.

Kegiatan seminar internasional tanggal 12-13 Juli lalu membahas tantangan dan kesiapan industri dalam mengadopsi DE PSAK 71, DE PSAK 72, DE PSAK 73 dan IFRS 17. Para peserta dan pembicara seminar mendiskusikan issue issue penting seperti pentingnya dukungan regulator, insentif untuk penerapan dini, tingginya biaya adopsi dan kesiapan profesi lainnya.

 

Dukungan Regulator termasuk Otoritas Perpajakan

Dukungan regulator menjadi issue penting terutama untuk penerapan standar mengenai instrumen keuangan dan kontrak asuransi. Kedua standar akan berpengaruh signifikan terhadap industri perbankan dan asuransi yang diawasi oleh OJK. Untuk penerapan standar instrumen keuangan misalnya, OJK harus menganalisa kesiapan seluruh jenis bank umum. Apakah memang semua jenis bank umum perlu menerapkan standar ini bersama sama atau ada kelonggaran untuk bank umum yang ukurannya kecil untuk memiliki masa transisi yang lebih panjang. Semisal untuk bank umum buku 1 dan buku 2, dapat dipertimbangkan untuk menunda penerapan DE PSAK 71. Juga tidak bisa dipungkiri bahwa cabang bank asing justru ingin menerapkan DE PSAK 71 lebih dini karena bank induknya di luar negeri sudah harus menerapkan IFRS 9 sejak tahun 2018 sesuai dengan ketentuan IASB.

Penerapan standar kontrak asuransi juga membutuhkan dukungan penuh regulator, karena standar baru ini dapat mengubah signifikan laporan keuangan perusahaan asuransi di Indonesia. Salah satu contoh sederhana adalah pengakuan pendapatan perusahaan asuransi yang saat ini juga memasukkan unsur deposit dari nasabah (semisal asuransi yang terkait unit link), nanti tidak boleh lagi diakui. Deposit diakui menjadi liabilitas. Penyajian laporan kinerja perusahaan juga akan berbeda sehingga nantinya bisa jelas terlihat berapa profit yang berasal dari kinerja asuransi dan berapa profit yang berasal dari manajemen portofolio investasi.

Harmonisasi dengan otoritas perpajakan juga menjadi perhatian. DE PSAK 71 kemungkinan besar akan meningkatkan cadangan perbankan yang tidak bisa deductible berdasarkan peraturan perpajakan. Perbedaan laba akuntansi dan laba perpajakan akan semakin besar.

Penerapan suatu standar memerlukan dukungan regulator yang akan mengawasi penerapannya. Terlebih DSAK-IAI telah berkomitmen bahwa Indonesia hanya memiliki kesenjangan satu tahun dari tanggal efektif IFRS yang ditetapkan IASB. DSAK-IAI membutuhkan kerjasama regulator untuk menerapkan strategi-strategi agar para perusahaan dalam pengawasannya memiliki cetak biru perencanaan untuk menerapkan standar tersebut secara benar.

 

Insentif Penerapan Dini

DE PSAK 71 dan PSAK 72 mengijinkan adanya penerapan dini dari standar. Pembicara dari Industri mengakui bahwa mereka kemungkinan akan memilih penerapan dini. Telkom misalnya akan menerapkan dini PSAK 72 tahun 2018 untuk keperluan pelaporan di Amerika Serikat, begitu juga dengan Indosat yang harus mengirimkan laporan keuangan sesuai dengan IFRS ke induk perusahaan di luar negeri.

Pembicara dari perbankan yang hadir pada saat seminar yakni CIMB Niaga dan Permata juga menjelaskan di sela sela rehat kopi bahwa mereka akan menerapkan dini PSAK 71 tahun 2018 untuk keperluan pelaporan ke investor luar negeri. Namun untuk pelaporan di dalam negeri mereka akan tetap menggunakan PSAK 50 dan PSAK 55. Mereka tidak akan menggunakan PSAK 71 untuk laporan keuangan dalam negeri agar investor tidak bingung membandingkan laporan keuangan mereka dengan kompetitor lainnya.  “nanti bank kami dinilai kinerja nya jelek bu oleh investor dibandingkan dengan kompetitor”  demikian ujar salah satu pembicara.

Perusahaan yang memilih penerapan dini atau menjalankan dua pembukuan dapat menjadi mitra regulator dan dewan standar untuk mengidentifikasi tantangan-tantangan penerapan standar. Pengalaman mengadopsi standar-standar ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi perusahaan lainnya.

 

Menyiasati Tingginya Biaya Adopsi

Beberapa peserta seminar mempertanyakan tingginya biaya adopsi yang harus dikeluarkan untuk membayar konsultan atau mengubah sistem informasi akuntansi perusahaan. Terkait dengan adopsi standar pendapatan yang baru misalnya, pembicara dari industri mengakui bahwa terjadi perubahan sistem revenue engine perusahaan sehingga setiap produk gabungan (product bundling) dapat diidentikasi kewajiban kinerja nya (performance obligation).

Salah satu pembicara dari perbankan memberikan masukan menarik agar beberapa perusahaan sejenis dapat membuat konsorsium dan menyewa satu konsultan secara bersama sama untuk group tersebut. Karena mungkin asumsi dan penghitungan formula nya serupa sehingga satu jasa konsultasi dapat dimanfaatkan bersama-sama. Hal ini dapat dijadikan pertimbangan walaupun mungkin pada kenyataannya nanti tidak akan mudah karena konsorsium seperti ini juga berarti ada sharing informasi antar perusahaan.

 

Kesiapan profesi lainnya

Dalam panel diskusi mengenai kontrak asuransi yang juga menampilkan perwakilan dari Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI), didiskusikan pula kesiapan profesi aktuaris dalam menerapkan IFRS 17 nantinya. Perwakilan PAI mengakui bahwa tidak mudah untuk mencetak seorang aktuaris profesional di Indonesia terlebih pendidikan aktuaris di Indonesia juga minim. “Banyaknya aktuaris di Indonesia adalah lulusan matematika atau statistika. Padahal di luar negeri sudah banyak program studi aktuaris”

Kesiapan profesi akuntan publik juga menjadi sorotan anggota DPN Ibu Rosita Uli Sinaga. Pak Ludivicus Sensi yang mewakili praktisi akuntan publik dan juga pengurus IAPI bidang pendidikan mengakui bahwa kompetensi akuntan publik harus ditingkatkan untuk menghadapi beberapa standar yang akan berlaku sebentar lagi. Kantor Akuntan Publik di Indonesia sangat minim yang memiliki aktuaris sendiri, sehingga harus bergantung dengan aktuaris independen yang berarti meningkatkan beban biaya. “jangan jangan nanti fee untuk membayar aktuaris independen akan lebih besar daripada audit fee nya ya Bu Rosita” seloroh Pak Sensi yang disambut senyuman para hadirin.

 

Penutup : Edukasi terus menerus

Perubahan standar akuntansi yang signifikan dalam lima tahun ke depan membutuhkan edukasi yang terus menerus bukan hanya kepada para penyusun laporan keuangan namun juga kepada investor.

Dalam diskusi mengenai standar tentang sewa misalnya, para peserta seminar mengkhawatirkan dampak dari standar yang tidak dipahami oleh para investor. DE PSAK 73 Sewa apabila diterapkan juga berpotensi meningkatkan liabilitas perusahaan sehingga rasio rasio perusahaan dapat terlihat memburuk dan berpotensi melanggar covenant perusahaan. Pembicara dari Garuda misalnya mengakui bahwa liabilitas perusahaan akan meningkat 350% bila DE PSAK 73 diterapkan, sementara peningkatan aset hanya 300%.   Dampak negatif seperti ini harus dikomunikasikan dini kepada para investor dan analis untuk menjaga ekspektasi mereka.

Edukasi yang intensif sangat penting untuk meningkatkan pemahaman para akuntan terhadap standar-standar baru ini. Penerapan standar baru memerlukan perencanaan yang matang dan membutuhkan waktu sekitar 3 tahun. Bukan hanya training dan pelatihan yang perlu dilakukan oleh asosiasi profesi seperti IAI, PAI dan IAPI juga menciptakan ruang ruang platform berdiskusi untuk berbagi pengalaman implementasi standar.

 

*)Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mewakili pendapat dari DSAK-IAI

TARIK ULUR TANGGAL EFEKTIF IFRS 15 : Akankah IASB tunduk pada US FASB?

Oleh: Aucky Pratama dan Ersa Tri Wahyuni*)
Artikel ini dimuat dalam majalah Akuntan Indonesia edisi Juni 2015, diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia

 

Tidak sampai satu tahun dari penerbitannya, IFRS 15 yang telah dinanti-nanti kehadirannya oleh banyak pihak kini akan ditunda tanggal efektifnya oleh IASB. Pada tanggal 28 April 2015 lalu IASB telah memutuskan untuk menerbitkan exposure draft yang bertujuan untuk menunda tanggal efektif IFRS 15 dari 1 Januari 2017 menjadi 1 Januari 2018.

IFRS 15 sebagai standar pamungkas pengakuan pendapatan merupakan buah cinta dari program konvergensi IASB dan US FASB. IFRS 15 atau ASU 606 di Amerika Serikat diterbitkan identik pada tanggal 28 Mei 2014. Standar ini sedianya akan menjadi jembatan dalam memuluskan langkah penerapan IFRS di Amerika Serikat. Standar ini sering dibanggakan oleh banyak pihak sebagai keberhasilan IASB dan US FASB bekerjasama, diluar kegagalan yang terpaksa mereka akui dalam menciptakan standar bersama seperti kasus asuransi dan instrumen keuangan.

IASB (bersama US FASB) sadar betul bahwa tidak akan mudah untuk menerapkan standar ini. Suatu standar akuntansi pengakuan pendapatan tunggal yang berbasis prinsip, tentunya berpotensi untuk dipertanyakan oleh banyak pihak, khususnya para pemangku kepentingan di Amerika Serikat yang selama ini telah terbiasa dengan standar akuntansi berbasis pengaturan yang sangat rigid dan detil.

Oleh karena itu, seiring dengan penerbitan IFRS 15, keduanya juga sepakat untuk membentuk suatu kelompok kerja bersama yang dinamakan Transition Resource Group (TRG). Anggota TRG sebanyak 27 orang berasal dari berbagai negara termasuk Kanada, Brazil, Inggris dan Jepang namun memiliki ketua berasal dari IASB dan wakil ketua berasal dari US FASB. Rapat pertama TRG dilakukan pada bulan Juli 2014, dan sejak itu TRG telah bertemu beberapa kali membahas permasalahan implementasi standar ini.

Langkah ini sesungguhnya menjadi suatu milestone penting dalam hubungan antar kedua badan penyusun standar, karena belum ada preseden pembentukan suatu kelompok kerja yang salah satu tujuannya adalah untuk memuluskan penerapan suatu Standar. Tugas utama TRG yang dianggotai oleh pakar serta praktisi akuntansi dari berbagai bidang sesungguhnya adalah untuk mengidentifikasi potensi isu-isu penerapan IFRS 15, dan menyampaikan isu-isu tersebut kepada IASB (dan US FASB).

Hasil diskusi TRG pula lah yang menjadi alasan mengapa IASB berniat untuk menunda tanggal efektif IFRS 15. Sebagai bagian dari tugasnya, TRG telah mengidentifikasi beberapa isu penerapan IFRS 15 yang berpotensi menimbulkan masalah di kemudian hari apabila tidak diberikan penjelasan lebih lanjut. Isu-isu tersebut yang umumnya berasal dari Amerika Serikat itu adalah mengenai:

a)      Penggunaan kebijaksaan dalam transisi penerapan – terkait modifikasi kontrak dan kontrak yang telah diselesaikan.

b)      Penyajian pajak penjualan – bruto atau neto.

c)      Pertimbangan atas pendapatan non-kas.

d)     Pertimbangan atas kolektabilitas.

e)      Pertimbangan atas konsep agen dan prinsipal.

 

Pemunduran tanggal efektif : Bukti kedigdayaan Amerika Serikat?

 

Sebelumnya, US FASB telah mengeluarkan proposes ASU 606 untuk menunda penerapan standar ini selama satu tahun. Dalam proposed ASU tersebut (setara dengan exposure draft) US FASB mengaku mendapatkan banyak masukan dari para pemangku kepentingan di Amerika Serikat untuk menunda penerapan standar ini. Keputusan US FASB ini mempengaruhi IASB yang menganggap tanggal efektif penerapan standar ini sebaiknya sejalan dengan penerapan di Amerika Serikat.

Keputusan IASB mengekor keputusan US FASB untuk turut menunda berlakunya standar ini bukanlah suatu kejutan besar. Terlepas dari sikap Amerika Serikat yang belum jelas untuk mengadopsi IFRS, namun US FASB adalah dewan standar yg disegani oleh IASB dan memiliki pengaruh besar. Sulit membayangkan IASB akan mengambil sikap serupa bila Indonesia misalnya yg memutuskan menunda penerapan IFRS 15.

Walaupun IFRS 15 menuai banyak tantangan di Amerika Serikat, namun beberapa negara malah berniat untuk menerapkan dini standar ini. Salah satu alasan mungkin karena potensi benefit penerapan konsep pengakuan pendapatan yang ada di IFRS 15, dibandingkan dengan konsep-konsep yang berlaku sekarang pada IAS 18 Revenue atau IFRIC 15 Agreements from the Constuctions of Real Estate (keduanya dicabut oleh IFRS 15). Sebagai contoh, industri real estat di kawasan Asia sudah sangat menantikan IFRS 15 yang akan menggantikan konsep pengakuan pendapatan di IFRIC 15.

Melihat FASB dan IASB saat ini sejalan untuk menunda penerapan IFRS 15, kemungkinan besar negara-negara lain akan setuju dengan proposal ini. Walaupun opsi penerapan dini masih melekat dalam IFRS 15 versi kini maupun versi yang akan ditunda tanggal efektifnya nanti, tapi apakah akan ada yg berani untuk menerapkannya lebih dini? Apalagi sang penyusun standar sendiri pun sepertinya ragu dengan penerapannya? Apakah mungkin kini orang-orang akan menutup mata dengan adanya potensi isu-isu penerapan IFRS 15, sebagaimana diidentifikasi oleh TRG, dan atas potensi bahwa mungkin isu-isu tersebut juga berpotensi relevan bagi mereka?

Di kesempatan pertemuan IFASS (International Forum of Accounting Standard Setters) yang diadakan di Dubai bulan Maret yang lalu, bahkan India sempat menyuarakan rencananya untuk menerapkan IFRS 15 secara lebih dini. Sesungguhnya wacana penundaan ini malah membuat bingung publik yang sudah bersiap-siap memilih untuk segera menerapkan standar ini. Mengutip komentar salah satu peserta di pertemuan tersebut “sesungguhnya yang diinginkan publik sekarang adalah kepastian dan kejelasan”.

 

Sekilas tentang IFRS 15 : Revenue From Contracts with Customers

 

Pendapatan adalah elemen terpenting dalam laporan laba rugi mengingat angka pendapatan menjadi asal muasal angka laba perusahaan. Sehingga wajar bila IFRS 15 menyedot perhatian banyak kalangan. IFRS 15 sendiri bertujuan untuk membuat suatu standar yg principle-based untuk semua jenis industri dan semua jenis perusahaan baik yang non-profit maupun berorientasi profit. Hal ini membuat kerangka pengakuan pendapatan menjadi terlalu rumit bagi kebanyakan entitas yg model bisnisnya sederhana seperti perusahaan dagang.

Prinsip utama pengakuan pendapatan dalam IFRS 15 terdisi atas lima tahapan:

  1. Mengidentifikasi kontrak dengan pelanggan (Identify the contract(s) with a customer) )

  2. Mengidentifikasi performance obligations di dalam kontrak (Identify the performance obligations in the contract) 

  3.  Menentukan harga transaksi (Determine the transaction price) 

  4.  Mengalokasikan harga transaksi ke performance obligations di dalam kontrak (Allocate the transaction price to the performance obligations in the contract) 

  5. Mengakui pendapatan ketika entitas sudah (atau sedang) menyelesaikan performance obligation (Recognise revenue when (or as) the entity satisfies a performance obligation).

Untuk setiap tahapan di atas, IFRS 15 menjelaskan lagi bagaimana persyaratan yang harus dipenuhi. Contohnya tahapan pertama, yang dimaksud kontrak dalam ruang linkup IFRS 15 adalah yang memenuhi lima persyaratan, seperti salah satunya kontrak harus memiliki substansi komersial. Tahapan kedua yakni mengidentifikasi performance obligation juga tidak kalah rumitnya karena perusahaan harus memilah pendapatan jasa atau produk yang dijual secara bundled (semisal handphone yg dijual secara bundled dengan kontrak pulsa dan dijual cicilan).

Mengingat standar ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan semua industri, maka banyak hal yg harus dipertimbangkan karena tidak semua industri memiliki transaksi yang sederhana. Terutama bila produk atau jasa yg dijual memiliki waktu lama untuk pembuatan atau perusahaan memiliki beberapa performance obligation atau yang bertahap.

Mengalokasikan harga transaksi ke setiap performance obligation juga bukan perkara mudah apalagi IFRS 15 meminta perusahaan mempertimbangkan harga relatif dengan harga “stand alone” bila performance obligation berdiri sendiri. Sebagai contoh bila provider telekomunikasi menjual produk bundled hanphone android seharga Rp.300,000 per bulan untuk 2 tahun yang meliputi harga handset dan paket pulsa plus internet, maka perusahaan harus memilah pendapatannya sesuai dengan performance obligation yang berbeda-beda. Pendapatan tiap bulan tersebut harus dipilah berapa yg pendapatan dari menjual handset, berapa pendapatan dari pemakaian pulsa dan internet.

Industri real estat yang membutuhkan waktu lama dalam membangun produknya menjadi sorotan penting dalam penyusunan IFRS 15. IFRIC 15 Agreements from the Constuctions of Real Estate nantinya akan dicabut seiring dengan berlakunya IFRS 15. Sebagaimana sempat hangat dibicarakan dua tahun yang lalu termasuk di Indonesia, pengaturan yang ada di IFRIC 15 membuat banyak pelaku industri real estat tidak bisa mengakui pendapatan dari aktivitas konstruksi properti (yang umumnya dijual dengan metode sell-then-build) sampai properti tersebut diserahkan kepada pembeli. Banyak yang melihat bahwa pengaturan di IFRS 15 merubah posisi ini, dan akan memberikan kemudahan bagi pelaku industri real estat untuk mengakui pendapatan di atas secara bertahap.

 

Penutup

Disukai atai tidak, penyusunan IFRS memiliki unsur proses politik selain debat teknikal akuntansi, dan tidak bisa terlepas dari kepentingan beberapa negara maju yang memiliki kekuatan lobi yang cukup besar. Proses penundaan ini sendiri sebetulnya akan melalui penerbitan exposure draft sebagai bentuk due process procedures revisi IFRS yang harus dilakukan oleh IASB. Di sini lah publik diberikan kesempatan untuk menyuarakan pendapatnya, serta mempertanyakan rencana IASB dalam menunda IFRS 15. Akuntan Indonesia mestinya dapat menunjukkan partisipasi aktif dalam diskusi ini dengan memberikan tanggapan saat ED nanti diterbitkan.

 

Aucky Pratama adalah Direktur Teknis IAI dan Ersa Tri Wahyuni adalah dosen akuntansi Universitas Padjadjaran, Bandung dan penasihat teknis IAI. Keduanya dapat dihubungi melalui email : aucky.pratama@iaiglobal.or.id dan ersa.twahyuni@fe.unpad.ac.id