Home » My Reflection (Page 2)

Category Archives: My Reflection

Mind you Manner, Please!

Pada suatu sore di tahun 1997/1998, ETW muda, sedang galau. Waktu itu saya menjadi asisten riset seorang dosen di tempat kuliah. Honor jadi asisten riset sangat tidak sebanding dengan banyaknya pekerjaan, tapi bukan hanya karena itu saja yang membuat saya ingin berhenti jadi asisten riset setelah tiga bulan. Si Dosen yang memberi kerjaan ini jarang sekali ada di kampus, pekerjaannya banyak tapi arahannya suka tidak jelas, plus honor asisten yang tidak seberapa itu sering telat pula diberikan. Pada hari terakhir saya bekerja saya mengetuk pintu ruangan sang dosen ini, tidak begitu menyadari bahwa dia sedang ada tamu.

“Pak, maaf Pak…. Ini sudah tanggal berapa nih Pak… saya honornya belum dibayar”

Dengan wajah memerah, dosen ini membuka dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang. (more…)

Never Give Up, Never Surrender in Improving Your English

Tulisan ini sengaja saya tulis dengan bahasa gado-gado, kadang dengan bahasa Indonesia, kadang dalam bahasa Inggris. Trust me I can write well in English, dan saya juga bisa menulis yang baik dalam bahasa Indonesia he he he…. but for this time I just want to have fun in writting. Jadi biasa nulis dengan style formal resmi karena untuk majalah atau untuk tugas kuliah, sekarang NO RULES…

Saya tuh suka bingung ya sama mahasiswa/wi akuntansi yang ignorance banget dengan kemampuan bahasa inggris mereka. Dipikir bisa kali jadi akuntan hebat tanpa kemampuan bahasa inggris ? Duh please deehhh….  let me tell you a story of one of my student… (more…)

Menyemai Mimpi, Menjemput Takdir

“Ma, Profesor itu apaan sih?”

“Itu gelar Nak, tandanya dia orang pinteeerrr banget.”

“Oohh gitu? Harus sekolah terus ya Ma supaya jadi Profesor?”

“Iya Sekolahnya lammaaa. Makanya Ersa harus sekolah yang pintar ya biar nanti jadi bisa Profesor”

Saya ingat percakapan antara saya dan ibu saya tersebut terjadi ketika saya kelas dua atau tiga SD. Dipicu kesebalan saya mendengarkan ibu dan ayah saya yang tak habis menyanjung-nyanjung sahabat mereka yang kebetulan seorang Profesor, dokter dan periset. Apalagi ketika profesor sahabat ayah saya ini kemudian jadi menteri di kabinet, wah orang tua saya ikutan bangga bisa punya ‘kawan’ seorang profesor.  “Heran, punya kawan profesor aja bangga amat, gimana kalau nanti anaknya yang jadi profesor ya? Diceritain ke orang sekampung kali” batin saya saat itu (more…)