Home » News

Category Archives: News

Laporan dari London – Malaysia: Revisi IAS 41 Susah Diaplikasikan

Berita dimuat di situs web Ikatan Akuntan Indonesia

23-09-2013 16:59

 

London (22/09) - Malaysia bersikeras bahwa revisi IAS 41 Agriculture yang sedang digodok oleh IASB sangat sulit diaplikasikan di industri perkebunan. Peryataan ini diajukan Malaysia dalam rapat AOSSG dengan IASB yang berlangsung hari minggu (22/9) siang di London. AOSSG yang merupakan kumpulan asosiasi penyusun standar akuntansi di Asia Oceania membantu menyuarakan kepentingan kawasan kepada IASB.

 

IAS 41 merupakan salah satu standar yang menjadi ganjalan di Malaysia, Indonesia dan India dalam adopsi penuh IFRS. IAS 41 mewajibkan semua aset biologis diukur dengan nilai wajar dan selisihnya masuk ke laporan laba rugi. AOSSG mengusulkan untuk BBA (Bearer Biological Asset) sebaiknya dijinkan menggunakan metode biaya, serupa dengan mesin pabrik yang diatur dalam IAS 16. BBA ini contohnya adalah pohon kelapa sawit atau pohon karet. IASB kemudian mengeluarkan exposure draft (ED)  untuk merevisi IAS 41 dan IAS 16 pada bulan Juni 2013. Di dalam ED tersebut IASB juga mewajibkan aset biologis yang belum dipanen dan masih menempel pada BBA diukur dengan metode nilai wajar. Menurut Malaysia untuk aset biologis yang belum dipanen akan sangat sulit untuk menerapkan metode nilai wajar.

 

“Bayangkan bagaimana mengukur getah karet yang masih ada di dalam pohon karet? Atau wortel yang masih ada di dalam tanah? Untuk kelapa sawit juga kami sudah melakukan survei ke perusahaan-perusahaan perkebunan. Dalam 2000 hektar kebun kelapa sawit bisa memiliki umur pohon yang berbeda-beda dan jenis genetik pohonnya juga berbeda. Kami mengusulkan untuk biologis aset yang dipanen terus menerus seperti kelapa sawit dan karet harusnya dikecualikan dari pengukuran nilai wajar.” ujar Tan Bee Leng, technical director MASB dalam rapat AOSSG yang dihadiri lima anggota IASB dan perwakilan dewan standar dari 12 negara di Asia dan Oceania.  Malaysia mengusulkan IASB untuk membuat petunjuk praktis pengukuran aset biologis yang belum dipanen ini.

 

Rapat interim AOSSG selain membahas IAS 41 juga membahas akuntansi insurance contractfase 2 yang saat ini sedang disusun oleh IASB. Diskusi dipandu oleh perwakilan dewan standar Korea yang menyuarakan masukan negara-negara AOSSG terkait ED Insurance Contract. Ersa Tri Wahyuni, technical advisor IAI yang mewakili Indonesia dalam forum ini juga memberikan informasi mengenai penerapan IFRS 4, insurance contract fase 1 di Indonesia.

 

“Indonesia sudah menerapkan IFRS 4 di Indonesia sejak 2012. Dan memang harus diakui bahwa tidak mudah untuk menerapkan IFRS 4 fase 1 di Indonesia, banyak tantangannya. Contohnya penerapan Liability Adequacy Test adalah hal yang baru di Indonesia ketika kita menerapkan IFRS 4. Untuk Fase 2 ini Indonesia akan berhati-hati dalam mengadopsi standar ini karena juga lebih rumit.” Ujar Ersa yang diamini oleh perwakilan Korea bahwa Liability Adequacy Test juga menjadi hal baru di negara ginseng tersebut.

 

Rapat AOSSG sore itu ditutup dengan keputusan akan ada working group baru di dalam AOSSG yang membahas akuntansi untuk rate regulated activities.  Working group ini akan diketuai oleh Korea. (Ersa Tri Wahyuni)

 

 

Materi exposure draft IAS 41 dapat diunduh di tautan berikut ini:

 

http://www.ifrs.org/Current-Projects/IASB-Projects/Bearer-biological-assets/Exposure-Draft-June-2013/Pages/Exposure-Draft-and-Comment-letters.aspx

 

Materi Insurance Contract project dapat diunduh di tautan berikut ini:

 

http://www.ifrs.org/Current-Projects/IASB-Projects/Insurance-Contracts/Pages/Insurance-Contracts.aspx

Ubah IFRS 3 Business Combination, IASB Dianggap Terlalu Ambisius

Berita dimuat di website Ikatan Akuntan Indonesia

23-09-2013 09:16

 

Brussels, (20/9) - IASB yang berniat untuk melakukan evaluasi atas penerapan IFRS 3Business Combination mendapatkan peringatan pedas dari para ketua dewan standar akuntansi yang berkumpul di Brussels, Belgia pada tanggal 19-20 September 2013 dalam pertemuan forum internasional penyusun standar akuntansi (IFASS). Perwakilan dari FASB (Amerika Serikat) mempertanyakan ruang lingkup reviu yang akan dilakukan IASB yang terlalu luas sehingga dapat memicu diskusi dan perdebatan yang panjang dan pelik.

 

 

“Menurut saya ruang lingkup reviu yang akan dilakukan oleh IASB terlalu ambisius. IFRS 3 adalah standar yang rumit, berbeda dengan post implementation review IFRS 8 Segment Reporting yang baru saja dilakukan IASB. Harus sangat hati hati karena banyak isu seperti penurunan nilai goodwill, aset takberwujud dalam akuisisi, dan sebagainya,” ujar Tom Linsmeire, anggota FASB di dalam forum IFASS. Pendapat Tom diamini oleh Jarome Haas, perwakilan otoritas standar akuntansi Perancis.

 

Jepang yang berambisi untuk mengubah goodwill kembali diamortisasi angkat bicara mengusulkan bahwa seharusnya IFRS 3 yang akan dievaluasi bukan hanya versi 2008,tapi juga mundur ke IFRS 3 versi 2004 di mana amortisasi goodwill dihapus dan digantikan dengan metode penurunan nilai. Beberapa anggota delegasi negara lain seperti Meksiko mengusulkan IASB untuk berdiskusi dan berkoordinasi dengan regulator dan otoritas pasar modal dalam melakukan evaluasi ini.

 

Dua kali dalam setahun, para penyusun standar akuntansi berkumpul untuk mendiskusikan isu-isu akuntansi terhangat dan berbagi riset yang telah dilakukan satu sama lain. Tahun 2013 ini, IFASS bertemu di Sao Paulo, Brazil 17-18 April lalu dan pada bulan September ini dilaksanakan di Brussels, Belgia. Kegiatan ini juga dimanfaatkan oleh IASB untuk meminta masukan atas rencana-rencana penyusunan IFRS ke depan.

 

IFRS 3 versi 2008 telah diadopsi di Indonesia menjadi PSAK 22 Kombinasi Bisnis versi 2009 yang berlaku pada tahun 2011. Setiap standar IFRS dapat dievaluasi oleh IASB bila dirasa perlu setidaknya dua tahun setelah standar tersebut berlaku. Mengingat IFRS 3 telah berlaku sejak tahun 2008, IASB banyak menerima masukan dan berniat melakukan evaluasi menyeluruh dari IFRS 3 ini. IASB berniat menerbitkan Publication Request for Information (RFI) pada bulan Desember 2013 setelah melakukan beragam diskusi dengan banyak pihak mengenai hal hal apa saja yang perlu ditanyakan dalam RFI ini.

 

Selain IFRS 3, diskusi IFASS juga diwarnai dengan perdebatan panas mengenai mekanisme kerja antara IASB dan dewan standar akuntansi negara-negara lain. Isu implementasi lainnya misalnya diusung Belanda yang mengusulkan revisi atas IFRS 12 mengenai pengungkapan bagian NCI (non-controlling interest) atas beberapa elemen laporan keuangan. IFRS 12 saat ini dirasa kurang membantu analis dan investor dalam menganalisis bagian NCI, namun usulan Belanda kurang mendapatkan dukungan dari delegasi negara-negara lain . India  juga mengusulkan klarifikasi atas “exceptional items” yang menimbulkan praktik pelaporan beragam di India.

 

Indonesia dalam forum ini diwakili oleh ketua DSAK, Rosita Uli Sinaga dan technical advisor IAI, Ersa Tri Wahyuni yang juga akan mengikuti World Standard Setter Conference (WSS)  di London pada tanggal 23-24 September 2014. “Mengikuti kegiatan dan diskusi seperti ini sangat penting bagi Indonesia sehingga bisa mendapatkan banyak pelajaran dari para negara yang sudah lebih dulu menerapkan IFRS. Contohnya IFRS 12 di Indonesia baru saja akan diadopsi, tapi Belanda malah sudah mengusulkan ada revisi. Menurut saya IFASS juga sangat penting karena sudah terbukti yang dibahas di IFASS dapat menjadi agenda kerja IASB di masa depan.“ ujar Rosita.  WSS di London akan membahas banyak agenda terutama perubahan kerangka konseptual yang sedang dilakukan oleh IASB. (Ersa Tri Wahyuni)