Home » Articles In Bahasa » Mind you Manner, Please!

Mind you Manner, Please!

Pada suatu sore di tahun 1997/1998, ETW muda, sedang galau. Waktu itu saya menjadi asisten riset seorang dosen di tempat kuliah. Honor jadi asisten riset sangat tidak sebanding dengan banyaknya pekerjaan, tapi bukan hanya karena itu saja yang membuat saya ingin berhenti jadi asisten riset setelah tiga bulan. Si Dosen yang memberi kerjaan ini jarang sekali ada di kampus, pekerjaannya banyak tapi arahannya suka tidak jelas, plus honor asisten yang tidak seberapa itu sering telat pula diberikan. Pada hari terakhir saya bekerja saya mengetuk pintu ruangan sang dosen ini, tidak begitu menyadari bahwa dia sedang ada tamu.

“Pak, maaf Pak…. Ini sudah tanggal berapa nih Pak… saya honornya belum dibayar”

Dengan wajah memerah, dosen ini membuka dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang.

Kejadian sore itu, seperti juga kejadian remeh lain dalam hidup saya tidak masuk dalam memori jangka panjang. Sampai suatu sore di tahun 2004. Saya tentunya sudah lebih dewasa, lebih matang, baru selesai S2 di salah satu universitas terbaik di Australia, dan semangat menjalani hari pertama saya bekerja di suatu institusi yang memiliki reputasi baik.

Saya diperkenalkan ke semua orang di institusi tersebut oleh atasan saya. Sampailah ketika saya diperkenalkan kepada seorang rekan yang jabatannya lumayan tinggi di institusi tersebut. Beliau masih muda, namun brilian, cerdas, pekerja keras. Ketika kami bersalaman, dia memandangi saya lekat-lekat lalu bertanya:

“Sebentar deh…. Saya ingat ibu…. Saya gak mungkin lupa wajah Ibu… Ibu kuliah di xxx ya? Pernah jadi asisten risetnya Pak Nur? Ibu pernah ngetok sore sore kantornya Pak Nur (nama samaran), pas saya sedang bertamu di kantor beliau. Ibu Ersa ngomong dengan santai “Pak udah tanggal berapa nih, saya honornya belum dibayar” ha ha ha….. iya iya saya ingat. Luar biasa sekali, saya ingat sampai sekarang. Gak nyangka saya bisa bertemu lagi”

Saya berharap ketika itu, bumi di depan saya terbuka dan saya ingin terjun ke dalamnya. SUMPAH, ini kejadian nyata terjadi pada seorang ETW.

Moral of the story : orang akan selalu ingat bila kita berlaku tidak sopan.

Untungnya saya kemudian bisa membangun hubungan yang baik dengan petinggi ini dan bisa mendapatkan respect beliau. Sejak saat itu saya memperketat standar kesopanan saya.

Saya ingin berbagi di tulisan ini mengenai hal-hal fatal yang pernah saya lakukan dan juga pernah dilakukan oleh para mahasiswa akuntansi. Semata-mata sebagai bahan renungan bahwa sangat penting untuk memiliki tata karma dan sopan santun. Sangat penting untuk meninggalkan kesan baik pada siapapun, karena kita tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi dengan orang-orang yang kita temui pada hari ini, persis seperti cerita ETW di atas.

It is nice to be someone important, but it is always more important to be someone nice.

1. Sopan Santun di email

Saya suka shock menerima email-email dari para mahasiswa akuntansi yang terhubung di FB atau twitter yang menurut saya sangat tidak sopan.  Beberapa kali saya menerima email dari seseorang yang baru saja terhubung di FB dan di twitter. Email tersebut tanpa basa basi menanyakan kabar saya,  tanpa memperkenalkan diri dia itu siapa, dari mana, langsung aja memberikan banyak pertanyaan, lalu tanpa ada signature pula di akhir email.

Dan ternyata email gak sopan ini juga pernah diterima oleh beberapa dosen atau akuntan selebrities lainnya. Jadi dalam kesempatan ini, pleaaasseee…. Mind your manner in email! Apalagi kalau gak kenal-kenal banget, jangan sok kenal dong. Wong ETW aja kalau kirim email ke para tokoh akuntan, walaupun udah sering ketemu dan saya yakin mereka kenal dengan ETW juga, selalu dengan bahasa yang sopaaan banget.

Menurut saya email kepada siapapun, setidaknya harus ada nama anda di akhir email. Email bisa dibuka dengan Dear xxxx atau Yth Pak/Ibu xxx. Walaupun udah kenaaaal banget, gak ada salahnya tetap menjaga sopan santun kan?

2. Tepati Janji Pertemuan

Saya suka bingung sama mahasiswa yang membuat janji bertemu dengan saya (entah bimbingan skripsi atau ingin diskusi atau yang lainnya) tapi kemudian tanpa merasa bersalah datang terlambat, atau lebih parah lagi gak datang sama sekali tanpa kabar. Duuhhh….  Kalau jadi mahasiswa aja sudah gak professional, gimana mau jadi professional nanti setelah lulus?

Let me tell you another story of mine, ini kisah nyata juga. Membekas banget sampai sekarang.

Waktu itu tahun 2002, sekitar bulan February, hari rabu jam 10 pagi. ETW waktu itu baru seminggu jadi ketua UMPA (University of Melbourne Postgtraduate Association). Masih shock banget dengan aktivitas yang tiba tiba bejibun sebagai ketua UMPA. Jadi aktivis sih dari jaman S1, tapi jadi ketua UMPA itu bener bener seperti full time job.  Sebagai ketua asosiasi mahasiswa postgraduate terbesar di Australia mewakili rakyat lebih dari 10,000 mahasiswa postgraduate, ETW harus duduk rapat di banyak sekali meeting-2 universitas. Banyak keputusan universitas yang TIDAK BISA DIAMBIL sebelum berkonsultasi dulu dengan perwakilan mahasiswa. Jadi setiap hari saya bisa ada 3-5 meeting dengan meeting papers yang terkadang setebal bantal.

ETW masih ingat, selasa malam sebelumnya kuliah sampai jam 10 malam, dan capek sekali. Dalam dapat rabu itu, Chancellor Universitas (orang tertinggi deh di Melbourne Uni, diatasnya Rektor), mendekati saya dan bilang “ Ersa, where were you at 8 am this morning? Vice chancellor and I were waiting for you for our first meeting in his office”

HAH? Saya langsung cek agenda…. Dan semakin pucat… Oh My God… beneran harusnya hari itu jam 8 pagi saya ada rapat dengan Rektor (Vice Chancellor) dan Chancellor…. Duuh mau nangis rasanya dan saya langsung minta maaf berkali-kali. Pasti karena capek kuliah dan lupa cek agenda sebelum tidur.  Siang itu juga saya kirim email ke VC dan minta maaf banget.  Saya bisa bayangkan seorang Rektor dan Chancellor nungguin saya cengok gitu…. Alamaak….

Sebagai ketua UMPA, saya ada meeting sebulan sekali dengan Rektor dan Chancellor untuk mendiskusikan masalah-masalah mahasiswa. You know what, setelah meeting pertama yang gagal itu, Rektor selalu mengirim wakilnya untuk meeting bulanan dengan saya. Dia gak pernah datang lagi.  Walaupun hubungan kami baik dan saya juga bahkan diundang Christmast Party ke rumahnya akhir tahun itu, tapi tetap aja dia gak pernah datang untuk 11 meeting berikutnya.

Moral of the story : People forgive but they don’t forget.

Sejak hari rabu kelabu itu, saya lebih berhati hati lagi dengan janji, dengan siapapun. Dengan macetnya Jakarta yang tidak bisa diduga, biasanya kalau saya akan terlambat saya akan sms atau telpon dulu. Saya juga akhirnya punya kebiasaan untuk cek agenda selama seminggu ke depan di hari minggu sore.

 3. Membawa Buah Tangan

Kebetulan saya seorang muslim dan dalam agama saya kita dianjurkan untuk saling memberikan hadiah kepada sahabat. Terlepas dari itu, ibu saya mengajarkan saya dari kecil untuk senang berbagi. Jadi kalau buat saya sedapat mungkin bila bertamu atau bertemu kawan saya membawa sesuatu.  Tidak harus yang mahal, tapi sesuatu yang mengingatkan orang pada kita.

Saya ingat ada sahabat saya dari SMA yang kalau ke rumah saya pasti membawa oleh-oleh. Dia datang dari keluarga yang sangat sederhana, kadang-2 yang dia bawa hanyalah sekantung daun singkong yang banyak tumbuh di pekarangan rumahnya. Tapi itu membuat saya terharu sekali, bahwa dia ingat dengan saya dan mau repot-repot memetik daun singkong untuk saya.

Saya suka takjub dengan cuek nya orang-orang dengan ‘aturan’ tidak tertulis ini. Misalnya saja ketika saya bekerja di IAI, saya sering banget dimintai data riset oleh para mahasiswa Indonesia di luar negeri. Sedapat mungkin saya pasti membantu. Terkadang saya fotokopikan informasi/ Majalah / jurnal dari perpustakaan IAI dan kemudian diambil oleh para periset atau sodara mereka di Jakarta.

Pernah suatu ketika di tahun 2009/2010, seorang periset di LN meminta beberapa informasi dari beberapa jurnal. Saya kemudian menugaskan beberapa siswa magang untuk mencari data dan informasi tersebut di perpustakaan IAI yang sempit dan kadang pengap. Saya fotokopikan. Kemudian data ini diambil oleh saudara si periset ini ke kantor saya. Saya bertemu, memberikan data informasinya, kemudian orang ini pulang sambil mengucapkan terima kasih. Paling bertemu hanya 5 menit.

Setelah itu saya tertegun….. oh my God… How can people be so ignorant? Apa susahnya sih basa basi bertanya “Berapa habisnya fotokopi nya ya Bu?”  walaupun kalau ditanya begitu sih saya juga akan bilang “gak masalah gak seberapa kok”. Dan orang ini bisa-bisanya gak bawa apa-apa ke kantor saya. Apa kek gitu, kue kek, buah atau apaan gitu… Dia gak tahu kali ya kalau saya sampai kerahkan 2 orang siswa magang utk nyari data tersebut! Bahkan sampai 2 hari nyarinya di perpustakaan IAI.

Saya sekarang masih ingaaaaat banget kejadian itu. Alhamdulillah itu tidak mengurangi semangat dan keikhlasan saya sampai saat ini, membantu para sahabat saya di seluruh dunia yang minta data/informasi ke saya. Selama saya bisa bantu kenapa gak, iya kan? Cuma masih suka geleng-geleng aja melihat orang yang gak paham aturan sosial ini he he he

Moral of the story : Be nice to people especially those who have helped you. Memberikan buah tangan membantu orang lain untuk ingat kepada Anda.  

Aturan ETW dalam memberikan buah tangan : Berikan yang terbaik yang bisa kita berikan, bukan berarti yang paling mahal, dan kalau bisa yang special. Saya paling suka memberikan kue-kue yang saya buat sendiri, seperti nastar atau kastengel. Karena seringnya saya memberikan nastar sebagai buah tangan pas lebaran/natal, ada lho para sahabat yang nyindir kalau belum dikasih nastar pas lebaran ha ha ha….  Ketika saya ngadonin nastarnya, memulung nastarnya bulat-bulat, saya buat dengan tersenyum sambil membayangkan para sahabat saya yang akan menerima kue ini. Makanya nastar buatan saya selalu enak, soalnya dibuat dengan bumbu cinta… tsaaahh… dan nastarnya ETW not for sale ya he he he…

Kalau bingung mau kasih buah tangan apa, buah tidak pernah salah. Berikan buah yang terbaik, walaupun hanya satu atau dua kilo. Saya lebih suka memberikan buah khas Indonesia daripada buah impor, tapi dengan kualitas yang paling baik yang bisa saya temukan. Daripada membawa kue dari bakery yang bukan bakery terbaik misalnya, lebih baik belikan pisang ambon satu sisir yang geddhheeee atau tiga buah mangga arum manis yang besar banget. Harganya sama dengan bakery tapi lebih berkesan.

Oh ya ETW juga suka ngasih buah tangan buku untuk para sahabat terutama kalau nengok orang sakit. Saya bawakan buku-buku yang mereka suka atau buku humor, supaya mereka terhibur selama sakit di rumah sakit. Kadang-kadang bukan buku baru kok, saya ambil aja buku-buku/Majalah dari rak buku saya di rumah. Malah mereka lebih terkesan setelah saya bilang “saya sudah baca buku ini dan menurut saya kamu bakalan suka deh.”

Saking pentingnya aturan ini di rumah saya, sampai dulu kalau ada cowok yang mau PDKT (waktu saya SMA atau kuliah), main ke rumah pas malam minggu saya kasih tahu “Eh, jangan lupa bawa buah ya buat emak gue. Dia senengnya jambu klutuk atau pisang susu. Beli yang bagus. Gak usah banyak-banyak tapi yang paling bagus.” ha ha ha…. kadang sampai saya kasih tahu belinya di mana. Well…. every man needs a little help from their woman…. cowok mah kadang-kadang suka gak paham aturan sosial beginian he he he…

4. Be Reliable First…. Then be Smart….

Saya banyak bertemu atau bekerja dengan orang yang pintaaar banget, tapi karena mereka merasa pintar,  mereka merasa bisa melakukan sesuatu seenaknya. Dalam dunia kerja, orang harus reliable dulu baru smart. Bila berjanji melakukan tugas, tepati janji tersebut.  Bila sekiranya akan miss dari deadlines, beritahu atasan/rekan kerja.

Saya pernah punya staf yang pinter dan inovatif tapi ampun deh sangat tidak reliable. Paling males deh sama orang gini karena merusak moral kerja yang lain. Orang ini akhirnya saya beri SP3. Profesionalisme kalau menurut saya reliability yang utama. Dan mudah aja menjadi orang yang reliable :

deliver what you have promised and deliver your best quality of work. If anything worth doing, then it should be done in your best capability. You do it your best, or don’t bother doing it.

Selalu tinggalkan kesan yang baik kepada semua rekan kerja anda, kepada teman teman dan sahabat anda. Mungkin anda berpikir “ah saya kan masih mahasiswa, wajar dong kalau gak reliable” Well… profesionalisme dimulai dari bangku kuliah. Anda pikir dosen gak akan ingat dengan mahasiswa yang rajin, professional mengerjakan tugas sebaik-baiknya, sopan santun dalam berdiskusi dan berinteraksi dengan dosen dan kawan-kawan ? Ada beberapa mahasiswa yang minta surat rekomendasi ke saya untuk studi lanjut, wah kalau nih mahasiswa cacat etika sih, saya males ngasihya. “Maaf ya cari dosen lain aja.”

Saya sering ditelpon oleh CFO CFO atau partner KAP menanyakan “eh gimana sih si A, besok saya interview dia nih buat jadi manajer di kantor. Kamu kan kenal sama dia (atau kamu kan pernah kerja bareng dia).”   Duuuh kalau pas yang ditanya orangnya baik dan etikanya rapi sih saya pasti berapi-api kasih rekomendasi.  “Waaah bagus nih orang, harus kamu hire pokoknya! Rugi dah kalau gak hire dia maaah. Serius dah!”   dan biasanya rekomendasi ETW manjur cespleng he he he…

Tapi kalau orangnya gak reliable, cacat etika, gak professional, itu yang repoooot. Saya gak suka mematikan rejeki orang lain jadi  saya biasanya komentar “aduh saya disclaimer aja deh mengenai orang ini. Silakan di assess aja ya yang bener sebelum di-hire. Saya gak kenal-kenal banget”

5. Selalu jaga hubungan baik dengan rekan kerja

Tidak ada seorangpun di linkungan kerja kita yang pantas kita sebut “stupid” atau “bodoh” seberapapun besar kesalahan yang dia buat.

Ketika kita emosi, kita bisa mengeluarkan kata-kata yang akan kita sesali di kemudian hari. Harus mawas diri ketika kita sedang marah, apalagi marah dengan bawahan atau rekan kerja yang akan bekerja sama dengan kita. Waduh harus hati-hati.

Saya pernah suatu ketika maraaaah sekali dengan staf saya yang menurut saya melakukan pelanggaran kelas berat. Ingin rasanya saya telpon nih orang dan saya marahin abis abisan. Untung saja dia lagi tugas di luar kota, kalau ada di kantor waduh entah udah saya apain nih orang. Tapi kemudian saya berpikir…. Duh saya akan masih bekerja terus dengan orang ini. Dan orang ini walau bagaimanapun adalah staf saya yang harusnya saya bentuk karakter dan kemampuannya. Akhirnya saya hanya sms saja “Saya tunggu besok pagi di ruangan saya. Penting”

Esoknya, emosi saya sudah reda, saya bicara baik-baik dengan suara tegas tapi tetap bersahabat. Bahwa kejadian tersebut tidak bisa terulang lagi. Staff ini sampai pucat banget dan akhirnya minta maaf. Sampai sekarang Alhamdulillah hubungan kita masih dekat.

Moral of the story : Marahlah yang efektif. Bila ingin meledak, tunggu 24 jam sebelum anda marah-marah beneran. Ingat, kata-kata yang buruk meninggalkan bekas di hati orang lain. Seperti kertas yang sudah diremas, walaupun sudah disetrika tuh kertas tetap aja ada bekasnya kan?

Sekarang saya juga punya cara yang efektif, kalau saya ingin ngamuk ke seseorang, saya nulis di file word yang saya beri password. Wah segala macam amukan, nama binatang, bisa ada di situ, dengan huruf capital dan tanda seru ha ha ha. Setelah ditulis semuanya, biasanya beban jadi lebih ringan. Kemudian saya bisa berpikir lebih jernih bagaimana menegur atau menyelesaikan masalah ini.  Terkadang saya tidak melakukan apa-apa, tinggal coret aja nama orang ini dari daftar kawan/sahabat saya.

Kalau sudah tidak mau ‘marah’ dengan seseroang berarti sudah paraaaahh, berarti saya sudah tidak akan peduli orang ini…. mau hidup kek atau mau mati kek bodo amat deh, friend request di FB juga akan saya ignore.  He/She doesn’t exist!  Kalau saya masih mau marah-marah dengan seseorang berarti saya masih peduli.

Ingat lawannya sayang bukan benci….. melainkan tidak peduli…. Kalau masih benci dan masih mau marah sama seseorang, berarti masih sayang.

OMG ini tulisan udah terlalu panjang. Sampai disini dulu ya.

Remember, Mind your Manner, at all time! Bukan berarti jadi jaim, fake, dan gak tulus lho ya. Be your self…. But be a better you everyday….


1 Comment

  1. Abay says:

    Assalamu;alaikum
    Dear Bu Ersa

    Tulisan yang sangat memberikan pelajaran bagi kita di lingkungan sosial, bagaimana cara beretika dan memberikan sikap kepada orang lain. Tentunya bagaimana cara kita bersikap kepada seseorang, maka umpan balik yang diterima bagi diri kita sesuai dengan apa yang kita berikan kepada orang tersebut.

    terima kasih Bu Ersa

    Wassalamu’alaikum

    Abay

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>