Home » IFRS Technical » Perang Kerangka Konseptual Para Pendekar Standar Dunia

Perang Kerangka Konseptual Para Pendekar Standar Dunia

Ditulis oleh Ersa Tri Wahyuni.  Artikel ini dimuat di Majalah Akuntan Indonesia edisi Juni 2013

Menyusun standar akuntansi internasional yang dapat diterima semua negara bukanlah hal yang mudah, oleh sebab itu IASB sebagai penyusun IFRS senantiasa meminta banyak masukan dari para pengguna standar dan juga penyusun standar akuntansi negara lain. Selama ini IASB rajin melakukan rapat-rapat bilateral dengan penyusun standar akuntansi  seperti Amerika Serikat (FASB), Jepang (ASBJ), dan juga Uni Eropa (EFRAG). Namun rapat-rapat bilateral terkadang menciptakan kecemburuan dan kecurigaan para standar akuntansi yang lain yang tidak memiliki akses langsung ke IASB.

Sehingga IFRS Foundation akhirnya membentuk forum penasehat untuk IASB yang disebut ASAF atau Accounting Standard Advisory Forum yang terdiri atas perwakilan penyusun standar akuntansi dari seluruh dunia. Forum ini memberikan masukan yang bersifat teknis akuntansi kepada IASB. Pertemuan pertama forum ini dilaksanakan pada awal April 8-9 lalu di kantor pusat IASB di London. ASAF akan malakukan pertemuan empat kali dalam setahun dan pertemuan tersebut terbuka untuk pengamat baik pengamat langsung maupun melalui video (web cast). 

Mengapa ASAF?

IFRS Foundation sebagai lembaga pengawas IASB mendapatkan tekanan dari masyarakat internasional agar proses penyusunan standar IFRS yang semakin mengglobal  dapat lebih transparan dan lebih melibatkan dewan standar negara-negara lain (National Standard Setters – NSS). Diskusi-diskusi bilateral antara beberapa negara atau jurisdiksi penting yang selama ini ada juga sebaiknya lebih diformalkan dan terbuka sehingga lebih dapat diikuti oleh masyrakat.

Pada November 2012, IFRS Foundation mengeluarkan proposal untuk pembentukan ASAF dan meminta masukan dari masyrakat internasional. Sambutan positif terhadap proposal tersebut kemudian mendorong IFRS Foundation untuk membentuk forum ini. 12 anggota ASAF terpilih adalah:

Mewakili Afrika

  • South African Financial Reporting Standards Council, supported by the Pan African Federation of Accountants (PAFA)

Mewakili Asia-Oceania 

  • Accounting Standards Board of Japan
  • Australian Accounting Standards Board
  • Chinese Accounting Standards Committee
  • Asia Oceania Standard Setters Group (AOSSG), represented by the Hong Kong Institute of Certified Public Accountants

Mewakili Eropa

  • Accounting Standards Committee of Germany
  • European Financial Reporting Advisory Group (EFRAG)
  • Spanish Accounting and Auditing Institute
  • United Kingdom Financial Reporting Council

Mewakili Amerika

  • Group of Latin American Standard Setters (GLASS)
  • Canadian Accounting Standards Board
  • United States Financial Accounting Standards Board

Berdasarkan MoU yang ditandatangani oleh para anggota ASAF terdapat tiga tujuan didirikannya ASAF. Tujuan terpenting tentunya untuk mendukung misi IFRS Foundation dalam menyusun satu standar global yang kualitasnya baik. Kedua adalah untuk meringkas rapat-rapat bilateral yang ada saat ini sehingga IASB dapat menjaring masukan yang lebih global lagi. Dan tujuan terakhir adalah untuk memfasilitasi diskusi teknis akuntansi yang lebih efektif terutama untuk rencana kerja IASB ke depan.

Dengan berdirinya ASAF maka beberapa pertemuan bilateral menjadi hilang. Konfirmasi yang saya dapatkan dari ketua EFRAG Francoise Flores menyatakan bahwa sejak Desember 2012 lalu tidak ada lagi pertemuan antara EFRAG dan IASB karena sudah ada forum ini. Ikuo Nishikawa, ketua ASBJ (Accounting Standard Board of Japan) juga mengamini bahwa ASAF ini akan menggantikan diskusi ASBJ dan IASB dan rapat bilateral terakhir akan dilaksanakan bulan Mei 2013. Sedangkan rapat rutin IASB dan FASB akan tetap dilaksanakan untuk menyelesaikan MoU joint project konvergensi antara dua raksasa ini.

Diskusi Panas Tentang Kerangka Konseptual : Pengukuran

Rapat ASAF pertama yang berlangsung awal april lalu mengusung topik Kerangka Konseptual. IASB meminta masukan kepada para anggota ASAF mengenai perkembangan dari Conceptual Framework Project. Pada rapat bulan Februari dan Maret 2013, IASB sudah melakukan banyak diskusi menganai kerangka konseptual dan menyetujui beberapa hal. Menyusun kerangka konseptual bukanlah hal yang mudah karena ini akan menjadi prinsip utama dalam penyusunan IFRS di masa depan.

Pada rapat IASB bulan Februari, IASB membahas prinsip pengukuran yang akan diusulkan dalam kerangka konseptual. Terdapat tiga prinsip pengukuran yang diusulkan:

Principle 1 : The Objective of Measurement is to represent faithfully the most relevant information about the economic resources of the entity, claims against the entity and how effectively and efficiently management have discharged their responsibilities to use the entity’s resources

Principle 2: The relevance of a particular measurement method depends not only on how it affects the statement of financial position but also on how it affects the statement of comprehensive income, if applicable, equity and cash flows.

Principle 3: The cost of particular measure must be justified by the benefits. 

Selain prinsip-2 pengukuran, IASB juga membahas initial and subsequent measurement untuk aset dan liabilitas. IASB juga berniat untuk memberikan petunjuk bagaimana pengukuran selain metode biaya dan nilai wajar alias pengukuran yang didasarkan atas arus kas. Anggota ASAF membahas usulan-usulan dan prinsip ini dengan sangat kritis. Discussion Paper dari kerangka konseptual baru akan dikeluarkan IASB dalam beberapa bulan ke depan.

Perwakilan EFRAG meminta agar kerangka konseptual memberikan petunjuk yang lebih jelas bagaimana suatu aset atau liabilitas diukur. Perwakilan Kanada mengungkapkan bahwa seharusnya ketiga prinsip tersebut tidak berbobot sama. Harusnya merupakan suatu hirarki. “Bila prinsip 1,2 dan 3, bobot pentingnya sama, dapat saja perusahaan akan mementingkan prinsip 3 terlebih dahulu yakni proses pengukuran yang paling murah.” Kata Gord Fowler, ketua AcSB (Accounting Standard Board)  Canada. Keutamaan prinsip pengukuran nomor satu dibandingkan dua prinsip lainnya juga diamini oleh ketua dewan standar Hong Kong yang menjadi wakil AOSSG (Asia Oceania Standard Setter Group)

Ketua ASBJ, Ikuo Nishikawa menegaskan pentingnya hubungan kerangka konseptual pengukuran dengan kerangka konseptual OCI (Other Comprehensive Income – Pendapatan Komprehensif Lain) yang juga sedang digodok oleh IASB. Perwakilan dari Brazil menanyakan usulan apakah tepat factor likuiditas diperhitungkan dalam pengukuran yang menggunakan metoda arus kas. Menurut Brazil, faktanya sangat sulit dan subjektif menentukan suatu pasar likuid atau tidak likuid. Perwakilan AOSSG juga menyuarakan sulitnya mengukur nilai wajar di negara-negara berkembang atau emerging economies.

Sulitnya untuk Bersepakat : Diskusi Other Comprehensive Income

Debat mengenai prinsip OCI lebih panas dan menghebohkan daripada prinsip pengukuran. OCI sudah lama menuai kritik sebagai suatu yang tidak jelas.  Sindiran tentang OCI misalnya menyatakan bahwa OCI adalah keranjang sampah hal-hal yang tidak bisa diakui di laba rugi atau tempat parkir sementara. Semua kritik tentang OCI banyak yang menuding karena OCI tidak didefinisikan dengan baik dalam kerangka konseptual IASB.

Walaupun IASB sudah berusaha membahas prinsip-prinsip tentang OCI pada rapatnya di bulan Maret, hampir semua usulan IASB dimentahkan oleh anggota ASAF dalam diskusi panas awal April tersebut.  Pada bulan Maret 2013, IASB membahas tiga prinsip terkait dengan apa saja yang harus disajikan dalam laporan laba rugi atau OCI:

Principle 1 : Items presented in “profit or loss” communicate the primary picture of an entity’s financial performance for a reporting period.

Principle 2: All items of income and expense should be recognized in profit or loss unless presenting an item in OCI provides a better depiction of financial performance

Principle 3 : An item that has previously presented in OCI should be reclassified (recycled) to profit or loss if the reclassification results in relevant information about financial performance in that period. 

Untuk mencegah perusahaan seenaknya memasukkan pos-pos ke OCI dalam menginterpretasikan prinsip 2, IASB berniat untuk menegaskan bahwa hanya IASB yang boleh mensyaratkan pos apa saja yang masuk ke dalam OCI. Hal ini langsung menuai perdebatan, bila demikian apakah memang pantas OCI didefinisikan di dalam kerangka konseptual yang harusnya robust dan tidak plin plan? Perwakilan dari Brazil misalnya dengan cukup keras menyatakan bahwa OCI tidak bisa dibuat prinsipnya sehingga mungkin ya memang harus berdasarkan aturan (rule based).

Beberapa anggota ASAF juga kesulitan mendefinisikan apa yang dimaksud dengan “performance” karena tanpa definisi “performance” yang jelas maka akan sulit untuk mendefinisikan OCI. Apakah laporan laba rugi yang mengukur “performance” berarti semua yang sudah terealisasi? Atau berarti transaksi dan pos yang termasuk sering terjadi (recurring/non recurring items) atau adakah batasan lain dalam mendefiniskan performance.

Staff IASB mengakui sulitnya membuat bagan alur bagaimana sebuah pos diakui di dalam OCI (lihat flowchart 1). Yang pertama dalam bagan alur OCI adalah pertanyaan apakah pos pendapatan dan biaya yang masuk OCI terjadi merupakan pengukuran ulang (remeasurement) dari aset dan liabilitas. OCI harusnya berisi pos-pos yang muncul karena adanya remeasurement, mismatched remeasurement atau bridging items.

Mismatched measurement muncul karena suatu pos belum selesai pengukurannya atau belum terealisasi, tidak cocok dengan matching principle sehingga malah bisa mengganggu gambaran kinerja periode laporan.  Bridging items timbul karena IASB mengijinkan beda metoda pengukuran suatu pos di laba rugi dan di neraca, seperti ED IFRS 9 tahun 2012 dimana pengukuran instrumen utang bisa menggunakan nilai wajar di laporan posisi keuangan namun menggunakan metode biaya diamortisasi (amortised cost) di laporan laba rugi.

Namun ketika staf IASB mencoba mengklasifikasi pos-pos OCI sesuai dengan standar-standar IFRS yang saat ini ada, banyak yang tidak bisa dijawab apakah ia merupakan mismatched measurement or bridging items? Hal ini semakin membuktikan bahwa selama ini ketika IASB memutuskan suatu pos masuk ke OCI, alur keputusannya tidaklah konsisten. (Lihat Tabel 1)

Perwakilan dari Kanada memberikan komentar yang cukup menginspirasi bahwa IASB harusnya bukan hanya melihat pos-pos OCI yang saat ini ada tapi juga berpikir ke depan. Dengan prinsip OCI yang diusulkan, bisa jadi akan banyak pos yang tadinya tidak masuk OCI akan diusulkan oleh konstituen untuk masuk menjadi OCI.  “Contohnya adalah untung rugi translasi dari utang yang didenominasi dalam mata uang asing. Menurut saya ini prinsipnya sama saja dengan translasi anak perusahaan asing, sehingga untung rugi translasi utang bisa saja masuk ke OCI.”

Beberapa anggota ASAF menanyakan apakah memang tidak lebih baik OCI tidak perlu dimasukkan dalam kerangka konseptual kalau memang tidak kuat konsepnya. Hal ini misalnya dipertanyakan oleh wakil dari Afrika Selatan juga oleh Brazil dan Kanada. Australia misalnya menanyakan mungkinkah OCI adalah suatu alat untuk menunggu standar akuntansi semakin canggih dan tajam, karena banyak transaksi yang dulu tidak terpotret untuk masuk ke dalam laba rugi, diparkir dulu di OCI.

Hal serupa diungkapkan oleh Kanada mengomentari pendekatan koridor dalam IAS 19 Employee Benefits yang sekarang dihilangkan dalam revisi IAS 19. “Karena kita tidak mau laba rugi menjadi terlalu berflutuasi, maka ada pendekatan koridor, tapi itu karena waktu itu kita belum punya OCI. Ketika kita sudah memiliki OCI maka hal tersebut di hapus. Mungkin memang OCI dibutuhkan agar ada sedikit fleksibilitas di dalam menyusunan standar akuntansi.”

 

Peran ASAF di masa depan

Banyak pihak menaruh harapan besar terhadap ASAF. Semakin banyak negara pengadopsi IFRS secara penuh  menyadari bahwa tidak mudah untuk mempengaruhi IASB dalam penyusunan standar.  IASB memang harus independen dan professional, namun tantangan standar akuntansi global adalah apakah memang standar ini bisa diterapkan untuk seluruh jurisdiksi dengan lingkungan bisnis yang berbeda-beda?  Sehingga banyak cibiran bahwa IASB terlalu dipengaruhi Uni Eropa, negara-negara maju atau negara pendonor IASB.

Apakah ASAF sungguh-sungguh dapat membuat penyusunan IFRS menjadi lebih inklusif? Seberapa besar ASAF dapat mempengaruhi IASB? Melihat banyaknya forum penasehat IASB yang sudah ada saat ini dan juga rapat ASAF yang hanya 2 hari, empat kali dalam setahun, saya termasuk pihak yang meragukan efektifitas dari forum ini. Ketika rapat ASAF selesai misalnya (dan tidak lagi direkam dalam webcast), pihak Uni Eropa menanyakan apakah hasil diskusi ASAF kali ini dapat masuk dalam discussion paper conceptual framework yang akan terbit sebentar lagi. Pihak IASB menyatakan bahwa hal tersebut sepertinya akan sangat sulit karena discussion paper sudah masuk dalam tahap hampir naik cetak.  Ketua IASB memastikan bahwa semua masukan ASAF telah didengar dan pasti akan dipertimbangkan dalam diskusi rapat IASB mendatang, namun tetap saja gurat kecewa tidak bisa disembunyikan dari wajah-wajah anggota ASAF yang sudah berdiskusi panas salama dua hari.

Namun walau bagaimanapun, sisi positif dari ASAF adalah para pemerhati dan pengamat IFRS seperti saya tidak harus mengikuti perkembangan notulen tiga atau empat rapat bilateral, namun cukup mengikuti satu rapat saja. Dunia menunggu sepak terjang ASAF dalam menyusun rencana kerja IASB dan juga perkembangan IFRS ke depan.

*) Ersa Tri Wahyuni adalah Technical Advisor IAI yang saat ini bermukim di Manchester, Inggris dalam rangka menyelesaikan studi S3 dengan dukungan Dikti dan Universitas Padjadjaran, Bandung.


Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>