Home » Articles In Bahasa » Principle Based versus Rule Based

Principle Based versus Rule Based

Seorang sahabat bertanya kepada saya untuk menjelaskan apa sebenarnya yang dimaksud dengan principle based dalam IFRS dan bedanya dengan rule based yang dianut oleh US GAAP. Saya mengernyitkan dahi karena bahasan ini sudah sering sekali dibahas dalam kegiatan-kegiatan seminar dan kuliah umum tentang IFRS terutama pada tahun 2009-2010. Ketika saya membongkar koleksi tulisan-tulisan saya terdahulu, ternyata saya belum pernah menuliskan isu penting ini secara detil.

Banyak orang yang sudah mendengar bahwa salah satu karakter penting dalam IFRS adalah principle based dan ini yang menjadi pembeda IFRS dengan US GAAP. Namun bagaimana sebenarnya standar akuntansi yang principle based itu? Apakah US GAAP yg katanya rule based bisa dikatakan tidak memiliki prinsip?

Sulit untuk menarik garis sejarah kapan istilah principle based digunakan para penggiat IFRS, namun istilah ini menurut beberapa akuntan senior yang pernah saya ajak diskusi tidak pernah muncul di era 80 dan 90 an. Sehingga dugaan saya istilah ini muncul baru-baru saja seiring dengan difusi IFRS ke seluruh dunia. Kata principle based kemudian menjadi nilai jual IFRS dan seakan-akan menjadi sesuatu yang lebih baik daripada rule based.

 

Principle based vs rule based: analogi resep kue donat

Apakah principle based itu? Sering dibicarakan tapi jarang diilustrasikan dengan terang. Tidak ada definisi yang jelas di dalam IFRS itu sendiri tentang principle based. Dalam berbagai kesempatan seminar saya sering mengilustrasikan principle based vs rule based dengan resep kue donat. Kabetulan donat adalah salah satu kue kesukaan anak-anak saya yang saya hapal resepnya. Standar akuntansi bisa disamakan dengan resep kue donat, hanya saja produk akhirnya adalah laporan keuangan, bukan kue bundar dengan lubang ditengah yang legit.

Suatu resep kue donat yang rule based akan sangat detil menjelaskan bagaimana kue donat ini dibuat. Ukuran-ukurannya sangat jelas, semisal terigu satu kilogram menggunakan empat kuning telur, susu 100 ml dan ragi instant 7 gr. Semua ukuran dan cara membuatnya detil, sampai berapa lama kue tersebut digoreng dengan suhu berapa, misalnya digoreng selama 5 menit bolak balik dengan minyak panas bersuhu 180 derajat.

Dengan resep yang sangat detil tersebut, dalam praktiknya kemudian orang bisa bertanya, nah kalau saya gak mau pakai telor gimana? Kalau saya mengganti susu dengan santan, apakah masih bisa kue tersebut dibilang donat? Sehingga mungkin saja kemudian berkembang aneka kue yang rasa dan bentuknya mirip donat tapi tidak bisa dikatakan donat karena pembuatannya tidak memenuhi kaidah resep donat tadi. Misalnya saja ada yang berusaha mengganti bahan penunjangnya (semisal susu diganti santan) kemudian menyebut ‘donat’ nya sebagai sebuah kue baru dan tidak mau menyebutnya sebagai donat dengan dalih “kan kalau donat resepnya pakai susu, saya pakai santan lho, jadinya ini bukan donat dong”.

Resep kue yang principle based akan berbeda. Resep kue donat principle based akan membuat definisi cukup luas tentang apa yang dimaksud dengan donat. Mungkin didefinisikan sebagai “ kue serupa roti berbasis terigu yang biasanya memiliki lubang ditengah, biasanya digoreng dan berasa manis”. Resepnya pun tidak terlalu detil, misalnya “untuk satu kilo terigu, cairan yg digunakan secukupnya sampai adonan bisa dipulung. Cairan ini bisa menggunakan susu, air atau santan.” Juga untuk proses pematangan tidak detil melainkan “donat digoreng dampai matang keemasan”

Dengan resep kue yang principle based ini maka kategori donat lebih menitikberatkan pada substansinya. Akibatnya mungkin akan banyak variasi donat di pasaran dengan resep yang sedikit berbeda-beda. Bila anda tiba-tiba menemukan sebuah kue yang mirip donat, sebutlah kue cincin ala betawi yang juga rasanya manis dan digoreng. Penganut resep principle based akan lebih mudah memutuskan bahwa ia bukan donat karena ketika dicicipi kue cincin tidak berstektur seperti roti karena dibuat dari tepung beras, tanpa perlu melihat resep kuenya. Sebaliknya bila ada kue yang substansinya adalah donat tapi disebut bukan donat karena tidak berlubang misalnya, penganut principle based tetap memandang kue itu sebagai donat karena persyaratan lubang ditengah dalam definisi tidak wajib, kan definisinya bilang “biasanya memiliki lubang di tengah, jadi yang tidak memiliki lubangpun masih bias diketagorikan donat bila substansinya sama.  Duh… jadi tiba-tiba ingin makan donat dan secangkir kopi ya? He he he

Standar Principle based dalam Praktik

Dalam kegiatan kuliah umum atau seminar yang saya berikan, saya sering mencontohkan perbedaan principle based vs rule based dengan standar sewa dan konsolidasi. Dalam standar sewa ala rule based, yang juga dianut oleh PSAK 30 kita sebelum mengadopsi IFRS, pemisahan antara sewa operasi dan sewa pembiayaan sangat tegas dan detil. Suatu sewa masuk kategori sewa pembiayaan bila memenuhi beberapa syarat, misalnya masa sewa melingkupi minimal 75% dari total umur ekonomis barang sewaan.

Karena batasan yang jelas ini, maka mereka yang ingin mengkategorikan sewa sebagai sewa operasi untuk menghindari pengakuan liabilitas sewa di neraca bisa “mengakali” kontrak sewa menjadi 74% dari umur ekonomis barang sewaan. Dengan demikian mengkategorikan sewa ini sebagai sewa operasi tidaklah salah karena tidak bertentangan dengan standar akuntansi.

Dalam standar sewa yang principle based, batas 75% tidak disebutkan tapi yang ditekankan adalah substansi sewa. Sewa diketagorikan sebagai sewa pembiayaan bila manfaat dan risiko dari barang sewaan secara substansial berpindah ke penyewa. Masa sewa bisa menjadi salah satu indikasi, tapi tidak ada garis batas jelas 75% melainkan menggunakan penjelasan “masa sewa adalah untuk sebagaian besar umur ekonomis aset”, dengan demikian yang memiliki umur sewa 74% bisa dipastikan bahwa bisa dikategorikan sebagai sewa pembiayaan.

Perbedaan standar sewa ini menjadi salah satu perbedaan utama IFRS dan US GAAP sehingga kedua dewan standar ini membuat kerjasama dalam pembuatan standar sewa yang baru. Saat ini pembahasan tentang leasing masih hangat diperdebatkan karena kedua dewan standar belum bersepakat dalam beberapa hal.

Salah satu contoh principle based vs rule based adalah standar tentang konsolidasi. IFRS menekankan pada definisi pengendalian. Bila ada pengendalian (walaupun kepemilikannya dibawah 50% dari total saham) maka harus dikonsolidasi (de facto control). Sedangkan standar akuntansi rule based akan menekankan pada voting rights sehingga sulit bila memiliki kepemilikan dibawah 50% untuk mengkonsolidasi anak perusahaan karena tidak memiliki voting rights mayoritas.

Standar berbasis prinsip lainnya yang dikembangkan oleh IASB bersama dengan FASB adalah standar tentang pendapatan. Dalam joint project ini, langkah-langkah pengakuan pendapatan diatur dalam lima tahapan berurutan. Dihaprapkan dengan prinsip ini maka pengakuan pendapatan dapat memiliki prinsip yang sama dalam setiap industri, terutama di US GAAP karena banyak sekali pengaturan tentang pengakuan pendapatan yg berbeda-beda tiap industry.

 

Dampak Principle Based kepada akuntan

Banyak yang salah kaprah bahwa US GAAP adalah standar rule based sehingga tidak memiliki prinsip. US GAAP juga memiliki kerangka konseptual, bahkan banyak yg berpendapat kualitas kerangka konseptual US GAAP lebih baik daripada IASB. Banyak faktor yang membuat perkembangan standar akuntansi US GAAP yang menjadi detil dan rumit seperti sekarang ini. US GAAP dikembangkan lebih dari 50 tahun dengan pendekatan bottom-up sesuai dengan kebutuhan dan permintaan pengguna standar. Sehingga standar US GAAP memang makin lama semakin rumit karena perkembangan transaksi dan kompleksitas bisnis yang semakin berkembang.

Ada juga yang berpendapat standar IFRS nantinya akan semakin rumit dan detil seiring dengan banyak permintaan dari pengguna standar untuk klarifikasi dan petunjuk penggunaan.  Sekarang sudah mulai banyak keluhan bahwa IFRIC (IFRS Interpretation Committee) bekerja terlalu lamban dalam menjawab kebingungan para pengguna standar IFRS.

Standar yang berbasis prinsip menuntuk pertimbangan professional para pengguna standar. Menilik contoh resep donat di atas, mereka yang belum pernah membuat donat sebelumnya, tentunya akan lebih mudah untuk menggunakan resep kue donat yang detil, terperinci dan jelas langkah-langkahnya. Di lain pihak standar yang bersifat principle based lebih mudah dipelajari dan dipahami karena lebih ringkas dan tidak rumit. Namun ketika terjadi banyak variasi praktik dalam bisnis, akuntan harus percaya diri dalam mengiterpretasikan standar yang principle based tersebut.

Permasalahannya adalah, pertimbangan professional (professional judgement) sangat sulit dipelajari di bangku kuliah formal. Pendidikan akuntansi keuangan level sarjana, bukan hanya di Indonesia tapi juga di banyak negara, menekankan pada pengajaran rule based. Laporan keuangan dihasilkan setelah melalui langkah-langkah tertentu. Akibatnya ketika para akuntan terjun ke lapangan, mereka gamang dalam membuat pertimbangan profesional.  Mengasah pertimbangan professional akuntan biasanya dicapai melalui praktik kerja atau melalui studi kasus, namun studi kasus yang baik di rumpun keilmuan akuntansi juga susah didapatkan karena biasanya studi kasus lebih banyak di rumpun ilmu manajemen seperti marketing atau manajemen strategi.

Profesi akuntan di Indonesia memasuki babak baru dengan disahkannya PMK No 25/2014 tentang akuntan beregister. Akuntan professional dituntut patuh terhadap etika profesi dan juga memiliki pertimbangan professional yang kuat. Adalah tantangan besar para penyusun kurikulum dan materi pendidikan Chartered Accountant Indonesia untuk membangun kompetensi ini. Studi kasus-studi kasus yang membutuhkan pertimbangan profesional harus diperbanyak untuk meningkatkan kualitas pendidikan profesi akuntan di Indonesia.  Jangan sampai nanti akuntan mudah galau ketika melihat donat…. eehh… melihat permasalahan akuntansi….

Manchester, 26 February 2014


4 Comments

  1. nanda says:

    Saya suka dengan tulisan-tulisan mbak Ersa. Ohya pada pembahasan “Dampak principle based kepada akuntan” tampaknya pada paragraf pertama, kalimat akhir ada yang terpotong atau lanjutannya ada di paragraf selanjutnya? Terima kasih mbak Ersa. :)

  2. ersa says:

    Terima kasih untuk komentarnya Mbak Nanda. Semoga bermanfaat. Terkait dengan kalimat yg terpotong, kalimat yang mana ya Mbak Nanda? Sepertinya sih tidak terpotong ya. Atau ada yang kurang jelas mungkin?

  3. Bernard Ginting says:

    Ijinkan saya memberi penjelasan yang mungkin sesuai dengan maksud Mbak Nanda Bu,
    Kutipan dari tulisan ibu:
    “Dampak Principle Based kepada akuntan
    Banyak yang salah kaprah bahwa US GAAP adalah standar rule based sehingga tidak memiliki prinsip. US GAAP juga memiliki kerangka konseptual, bahkan banyak yg berpendapat kualitas kerangka konseptual US GAAP lebih baik daripada IASB. Banyak faktor yang membuat perkembangan standar akuntansi US GAAP yang menjadi detil dan rumit seperti sekarang ini. US GAAP dikembangkan lebih dari 50 tahun dengan pendekatan bottom-up sesuai dengan kebutuhan dan permintaan pengguna standar. Sehingga memang makin lama semakin rumit karena…”

    mungkin maksud Mbak Nanda ini Bu Ersa, jadi di kalimat akhir belum lengkap “karena…” Terima kasih Bu Ersa

    • ersa says:

      Terima kasih banyak untuk Bernard dan Mbak Nanda. Sudah saya tambahkan paragraf nya. Thanks ya masukannya. Jangan-jangan artikel yang di majalahnya juga menggantung gitu ya ha ha ha…. semoga ketangkap oleh para editor.

Leave a Reply to ersa Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>