Home » IFRS Convergence Issues » Refleksi Tengah Tahun 2013: Apakah Adopsi IFRS secara Global Telah Menjadi Kenyataan?

Refleksi Tengah Tahun 2013: Apakah Adopsi IFRS secara Global Telah Menjadi Kenyataan?

Ditulis oleh Ersa Tri Wahyuni. Artikel ini dimuat dalam majalah Akuntan Indonesia edisi Juli 2013.

Bulan Juni sebagai pertengahan tahun adalah masa yang tepat untuk melakukan refleksi atas proses adopsi IFRS di berbagai negara di dunia. Momentum tengah tahun ini juga tidak dilewati oleh IASB untuk membuat pernyataan publik yang optimis atas penerapan IFRS di seluruh dunia. Pidato ketua IASB tanggal 5 Juni 2013 di Hong Kong dalam acara IFRS Regional Policy Forum misalnya memaparkan hasil survey yang dilakukan oleh IFRS Foundation terhadap 66 negara atau jurisdiksi tentang status penerapan IFRS di jurisdiksi masing-masing.

Hasil survey ini menurut ketua IASB sangat membesarkan hati, karena dari

66 Jurisdiksi hanya 1 jurisdiksi (Switzerland) yang belum memberikan komitmen publik untuk mengadopsi IFRS sebagai standar akuntansi. Bahkan Amerika Serikat  dan Jepang yang sering dipandang sebagai negara yang enggan mengadopsi IFRS masuk ke dalam kategori yang sudah berkomitmen untuk mengadopsi IFRS.

Indonesia yang diwakili oleh DSAK-IAI memilih untuk berhati-hati dengan mengatakan bahwa Indonesia, sama dengan Macao, belum memiliki komitmen untuk adopsi IFRS secara penuh walaupun sudah berkomitment untuk mengadopsi IFRS.

Bukan hanya komitmen jurisdiksi untuk mengadopsi IFRS yang merata, IASB juga menyoroti keengganan jurisdiksi untuk mengubah standar IFRS sebagai hal yang positif. Modifikasi yang dilakukan oleh negara-negara pengadopsi IFRS biasanya minimum, pun itu dipandang sebagai signal negatif oleh pelaku pasar modal. Pengecualian sementara ( temporary carve-out) untuk IAS 39 oleh Uni Eropa hanya dimanfaatkan kurang dari 24 bank dari sekitar 8000 perusahaan yang sekuritasnya diperdagangkan di pasar modal Eropa.

IFRS for SME, standar keluaran IASB khusus untuk entitas tanpa akuntabilitas publik juga cukup banyak diadopsi oleh 66 jurisdiksi tersebut. Sebanyak 29 jurisdiksi telah mengadopsi IFRS for SME dan sebanyak 8 jurisdiksi lainnya sedang dalam proses adopsi. Hal ini tentunya merupakan perkembangan yang membesarkan hati IASB mengingat standar IFRS for SME baru berusia sekitar empat tahun dan pada tahun 2013 sedang dilakukan review komprehensif atas penerapannya.

IASB menerima mekanisme endorsement?  

Ketua IASB sebelumnya, Sir David Tweedie, dalam berbagai kesempatan selalu menekankan pentingnya adopsi penuh IFRS kata per kata tanpa modifikasi sedikitpun. Walaupun anjuran ini juga diusung oleh ketua IASB, Hans Hoogervorst, tapi IASB terlihat melunak memandang proses endorsement yang dilakukan oleh beberapa jurisdiksi.  Proses endorsement atau pengesahan IFRS untuk berlaku di suatu jurisdiksi tertentu awalnya dilakukan oleh EFRAG (European Financial Reporting Advisory Group) untuk standar akuntansi yang berlaku di Uni Eropa ketika Uni Eropa mengadopsi IFRS tahun 2005. Dan praktik EFRAG ini sepertinya diadopsi juga oleh beberapa jurisdiksi.

Jepang misalnya, tanggal 19 Juni 2013 lalu, Business Advisory Council (BAC) of Japan memutuskan bahwa akan membuat lapisan standard baru yakni “Endorsed IFRS”  sebagai salah satu alternatif dari IFRS yang dikeluarkan oleh IASB, Japanese GAAP dan US GAAP. Sehingga perusahaan terdaftar di pasar modal Jepang memiliki empat standar alternatif yang dapat dipilih. BAC adalah suatu badan penasihat dibawa FSA Jepang (Financial Service Agency- semacam OJK di Indonesia) yang memutuskan langkah-langkah strategis dalam pengembagan standar akuntansi.  Proses endorsement ini juga berlaku di negara-negara lain seperti India, Philippines, Malaysia, dan Singapura.

Ketua IASB Hans Hoogervorst dalam pidatonya di Hong Kong mengakui bahwa proses endorsement ini mungkin dibutuhkan untuk mempertahankan kedaulatan dan kekuasaaan penyusun standar di jurisdiksi masing-masing. Bahkan Hans Hoogervorst mengatakan bahwa dengan adanya proses endorsement juga memaksa IASB untuk mendengarkan kebutuhan internasional. Sebagai pengamat konvergensi IFRS, saya memandang komentar ketua IASB ini adalah sesuatu yang menyegarkan. Proses endorsement oleh penyusun standar akuntansi lokal biasanya dipandang sebagai sesuatu yang sangat negatif oleh ketua IASB sebelumnya karena dalam proses ini rentan modifikasi IFRS oleh dewan standar lokal. Namun agaknya sekarang IASB tidak bisa menampik bahwa dewan standar lokal memiliki kearifan lokal dan pengetahuan atas transaksi bisnis tertentu yang belum tentu dipahami oleh IASB.

Membaca survey dari 66 negara tersebut, saya tertegun, betapa berbeda proses adopsi IFRS dari satu negara ke negara lain. Negara-negara pendiri IASC (pendahulu IASB) seperti Canada, UK dan Australia sudah merekatkan diri sedemikian rupa dengan due process penyusunan standar IASB. AcSC (dewan standar Canada) bahkan menganjurkan perusahaan-perusahaan di Canada langsung memberikan masukan ke IASB untuk semua ke exposure draft IFRSs yang diterbitkan. Beberapa negara memiliki dukungan legal yang kuat terhadap standar akuntansinya, seperti Australia misalnya yang setiap standar akuntansinya menjadi Undang-Undang. Sebagian negara lagi, seperti Indonesia dan Canada, standar akuntansinya hanya dirujuk oleh Undang-Undang atau peraturan pasar modal.

IFRS Yang Dinamis Dalam Perubahan

Pertengahan tahun juga saat yang tepat untuk memantau perkembangan standar IFRS yang sedang dalam proses perubahan. Kontrak asuransi misalnya, tanggal 20 Juni lalu IASB mengeluarkan kembali exposure draft kontrak asuransi. Program kerja IASB untuk kontrak asuransi fase 2 sudah memasuki masa-masa akhir. Diharapkan ini akan menjadi exposure draft terakhir sebelum IASB mengesahkan IFRS terkait kontrak asuransi. Komentar atas ED ini ditunggu sampai 25 October 2013.

Kontrak asuransi Fase 1 atau IFRIC 4 sudah diadopsi di Indonesia menjadi PSAK 62 dan mulai berlaku 1 Januari 2012.  IFRIC 4 ini sebenarnya merupakan standar interim yang tidak diniatkan untuk berlaku permanen ketika standar tersebut dikeluarkan IASB pada 1 Januari 2005. Review komprehensif kemudian dilakukan IASB sejak tahun 2007 untuk membuat standar akuntansi kontrak asuransi yang lebih lengkap.  Bila fase 2 ini selesai, IASB berniat untuk memberikan tenggang waktu tiga tahun sejak dikeluarkan sampai tanggal efektif standar ini untuk memberikan waktu pengguna mempelajari standar ini.

IAS 41 Agriculture yang menjadi perhatian Indonesia dan juga Malaysia dan India juga perlu dicermati perkembangannya. Sejak September 2012, revisi minor IAS 41 telah menjadi agenda IASB dengan focus memperjelas akuntansi untuk Bearer Biological Asset (BBA). Proposal dari AOSSG working group mengusulkan agar BBA boleh menggunakan metode biaya dan IASB telah menyetujui usulan ini. Namun banyak pertimbangan lain yang perlu dipikirkan IASB seperti misalnya apakah detil mengenai BBA sebaiknya diatur di IAS 16 Property Plant and Equipment atau di IAS 41? Apakah contoh perhitungan BBA menggunakan metode biaya dimunculkan dalam IAS 41 atau cukup di education material IFRS 13 Fair Value Measurement yang saat ini sedang dibuat? Bagaimana ketentuan transisi untuk BBA yang dulunya menggunakan metode nilai wajar?

Berbagai pertanyaan tersebut akan tercantum dalam ED revisi IAS 41 yang akan terbit dalam semester kedua 2013. Diharapakan IAS 41 revisi ini akan dikeluarkan awal tahun 2014 untuk berlaku 2015. IAS 41 menjadi standar IFRS yang belum diadopsi oleh Malaysia, India dan Indonesia karena menantikan revisi ini. Standar ini juga menyedot perhatian pelaku pasar modal di Singapura akhir-akhir ini. Perusahaan agrikultur yang terdaftar di bursa efek Singapura, Olam International, Ltd pada akhir tahun 2012 digembosi oleh short seller Muddy Waters hingga jatuh harga sahamnya.  Salah satu tuduhan Muddy Waters adalah angka profit Olam yang sumir karena penerapan IAS 41.

Project-project lain yang sedang dilakukan IASB dan menarik untuk dicermati adalah IFRS for SME dan kerangka konseptual. IASB juga melakukan review menyeluruh atas IFRS for SME. Sekitar tujuh area berpotensi untuk direvisi. Project kerangka konseptual IASB awalnya adalah joint project antara IASB dan FASB namun dihentikan karena prioritas standar lainnya. September 2012, IASB memulai kembali project ini tanpa FASB dan berharap exposure draft akan dikeluarkan pada tahun 2013.

Pertengahan tahun adalah momentum penting untuk melakukan evaluasi atas target kerja. Apakah target-target tahun ini seluruhnya akan tercapai dengan baik, bila dirasakan berat untuk mencapai target tersebut masih ada waktu setengah tahun untuk melakukan tindakan-tindakan strategis. Tidak ketinggalan pula dengan DSAK-IAI yang perlu untuk melakukan refleksi atas program konvergensi tahap pertama yang selesai 1 Januari 2012. Pertengahan tahun 2013 adalah momentum yang tepat untuk diam sejenak, memandang ke belakang apa yang telah dilakukan, dan memandang ke depan apa yang perlu dilakukan. Untuk standar akuntansi di Indonesia yang lebih baik.


Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>