Home » Posts tagged 'SAK Internasional'

Tag Archives: SAK Internasional

SAK Internasional : Alasan, Manfaat dan Tantangannya

Oleh : Ersa Tri Wahyuni

Dosen Akuntansi UNPAD dan Anggota DSAK IAI

Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mewakili institusi apapun. Tulisan ini dimuat dalam majalah Akuntan Indonesia edisi Januari 2019

Pada hari pertama kongres IAI ke-13, Selasa 11 Desember 2018, Ikatan Akuntan Indonesia dengan dukungan OJK meluncurkan komitmen untuk mengadopsi penuh IFRS dan akan menerbitkan satu pilar SAK baru yaitu SAK-Internasional. Bila SAK ini diterbitkan maka Indonesia akan memiliki 4 pilar SAK yakni SAK Umum, SAK ETAP, SAK EMKM dan yang terakhir adalah SAK Internasional. Ditambah dengan PSAK syariah yang dapat diadopsi lintas pilar oleh entitas yang memiliki transkasi syariah dan menggunakan SAK Umum, SAK ETAP atau SAK EMKM.

Hadir dalam peluncuran komitmen adopsi SAK-Internasional tersebut adalah Bapak Djohan Pinnarwan (Ketua DSAK IAI), Harry M. Zen (Direktur Keuangan PT. Telkom), Rosita Uli Sinaga (Anggota DPN IAI) dan Djustini Septiana (Deputy Komisioner OJK Pengawas Pasar Modal). Dimoderatori dengan apik oleh Budi Susanto (anggota tim implementasi IFRS IAI), dalam sesi terakhir di hari tersebut, para pembicara membahas komitmen baru Indonesia untuk mengadopsi IFRS murni 100% kata per kata seperti yang dikeluarkan oleh IASB.  Lalu beberapa akuntan bertanya kepada saya “Lah selama ini memang SAK kita bukan IFRS? Kok ada lagi ini adopsi IFRS?”

Tulisan ini bertujuan untuk menjawab beberapa pertanyaan terkait perbedaan SAK Internasional dengan SAK lainnya khususnya dengan SAK Umum yang juga mayoritas berisi IFRS.

SAK Internasional VS SAK Umum

SAK Internasional yang akan diluncurkan (DSAK IAI belum menyebutkan kapan buku SAK Internasional akan diterbitkan dan mulai berlaku), memiliki beberapa perbedaan dengan SAK Umum yang selama ini sudah digunakan oleh masyarakat dan sudah mengadopsi IFRS sejak tahun 2012. Apa saja perbedaannya?

  1. SAK Internasional adalah translasi penuh kata per kata dari IFRS yang dikeluarkan oleh IASB. Hal ini berarti termasuk IFRS yang selama ini tidak diadopsi oleh DSAK IAI dan tidak ada di SAK Umum karena dianggap tidak relevan untuk Indonesia yaitu:

IFRS 1 First Time Adoption of IFRS,

IFRS 14 Regulatory Deferral Accounts,

IFRIC 2 Members’ Share in Co-operative Entities and Similar Instruments,

IFRIC 6 Liabilities arising from Participating in a Specific Market – Water electrical and Electronic Equipment dan

SIC 7 Introduction of Euro

  1. SAK Internasional tidak memiliki PSAK dan ISAK yang tidak berbasis IFRS yang selama ini ada di dalam SAK UMUM termasuk PSAK syariah. Berdasarkan buku SAK 2018, daftar SAK dan ISAK yang non IFRS adalah sebagai berikut:
  1. PSAK 28: Akuntansi Kontrak Asuransi Kerugian;
  2. PSAK 36: Akuntansi Kontrak Asuransi Jiwa;
  3. PSAK 38: Akuntansi Restrukturisasi Entitas Sepengendali;
  4. PSAK 44 Pendapatan Real Estate
  5. PSAK 45: Pelaporan Keuangan Entitas Nirlaba;
  6. PSAK 70 : Aset dan Liabilitas Pengampunan Pajak
  7. ISAK 25: Hak atas Tanah
  8. ISAK 31: Interpretasi atas ruang lingkup PSAK 13: Properti Investasi
  9. ISAK 32 : Definisi dan Hierarki Standar Akuntansi Keuangan
  10. Plus PSAK-PSAK Syariah
  1. Dasar kesimpulan yang akan diterbikkan dalam SAK Internasional adalah dasar kesimpulannya IASB bukan dasar kesimpulan rapat rapat DSAK IAI. Sementara beberapa dasar kesimpulan yang ada dalam PSAK dan ISAK di SAK Umum (Semisal dasar kesimpulan PSAK 70 dan ISAK 31) merupakan dasar Kkesimpulan dari DSAK-IAI ketika membuat standar.
  2. SAK Internasional memiliki tanggal efektif yang sama dengan IFRS sementara tanggal efektif PSAK di SAK UMUM memiliki jeda waktu setahun atau dua tahun dengan IFRS. Misalnya IFRS 9 Financial Instruments berlaku wajib secara internasional sejak 1 Januari 2018, sementara PSAK 71 berlaku wajib di Indonesia sejak 2020.

Alasan Meluncurkan Komitmen SAK Internasional

SAK Internasional sebagai salah satu opsi (untuk perusahaan yang memenuhi syarat) memiliki nilai strategis yang tinggi bagi Indonesia di dalam percaturan dunia standar internasional. Seperti dijelaskan oleh ketua DSAK, Djohan Pinnarwan dalam presentasinya,  Indonesia sebagai salah stau negara G20 memiliki “status” full IFRS yang cukup rendah yaitu disamakan dengan India dan China yang tidak mengijinkan Full IFRS sebagai opsi. Sementara anggota G20 yang lain mayoritas mengadopsi penuh IFRS baik untuk perusahaan terdaftar di bursa maupun yang tidak. Dua negara  besar G20 yakni Jepang dan USA, mengijinkan perusahaan yang memenuhi syarat untuk memilih IFRS. Diharapkan bila Indonesia mengadopsi “full IFRS” sebagai salah satu opsi maka status Indonesia akan naik kelas setara dengan Jepang dan USA.  (Lihat gambar 1).

Tentunya Indonesia dapat memiliki standar tersendiri mengenai entitas seperti apa yang dapat menggunakan SAK Internasional ini. Misalnya SAK Internasional hanya dapat digunakan oleh entitas publik yang mendapatkan ijin dari OJK.

Manfaat Mengadopsi Full IFRS sebagai SAK Internasional

Selain meningkatkan gengsi Indonesia di meja G20 dan dunia internasional, opsi full IFRS dapat bermanfaat untuk perusahaan Indonesia khususnya perusahaan yang dual listed di dua negara. Seperti PT. Telkom Indonesia Tbk yang juga terdaftar di bursa efek Amerika Serikat dan PT. Aneka Tambang, Tbk yang terdaftar di bursa efek Australia. Kedua perusahaan ini sudah membuat laporan keuangan berbasis IFRS untuk pelaporan di kedua negara asing tersebut. Rosita Uli Sinaga mengatakan bahwa perusahaan dapat lebih efisien bila juga memberikan laporan keuangan berbasis IFRS untuk pelaporan di Indonesia, sehinga perusahaan tidak perlu membuat dua laporan. Harry M.Zen, Direktur keuangan PT. Telkom Indonesia dalam kesempatan tanya jawab mengamini peryataan Rosita dengan memberikan contoh penerapan IFRS 15 Revenue from Contracts with Customers  yang sangat penuh tantangan di PT. Telkom dan harus diterapkan 2018 untuk pelaporan berbasis IFRS ke bursa Amerika Serikat.

Djustini Septiana di dalam presentasinya menambahkan bahwa perusahaan berpotensi untuk menggunakan SAK Internasional adalah perusahaan Indonesia yang dual listing, perusahaan asing yang listing di Indonesia, dan multi national companies yang menjadi anak perusahaan asing dan beroperasi di Indonesia.

Tantangan Penerapan SAK Internasional

Rencana penerbitan SAK Internasional dapat memiliki beberapa tantangan. Pertama adalah penambahan beban kerja DSAK IAI, sementara DSAK IAI juga bertanggungjawab untuk pengembangan SAK Umum, SAK ETAP dan SAK EMKM. SAK Internasional akan menambah beban kerja DSAK IAI dan mengubah ritme kerja DSAK menjadi lebih dini dalam mengikuti perkembangan IFRS. Proses translasi dan review translasi dari standar dan dasar kesimpulan IFRS yang selama ini belum pernah diadopsi akan menambah beban kerja DSAK IAI, terutama di tahun 2019 apabila buku SAK Internasional ditargetkan untuk terbit pada akhir tahun 2019. Ketika artikel ini ditulis belum ada informasi kapan buku SAK Internasional akan diterbitkan dan berlaku.

Tantangan kedua adalah beban biaya dari SAK Internasional ini. Bila sudah diterbitkan maka SAK Internasional ini harus diterbitkan setiap tahun. Ini juga akan membebani IAI, apalagi bila yang akan membeli buku ini hanya sedikit, maka IAI harus memikirkan cara lain untuk membiayai kegiatan ini. Misalnya, kemungkinan besar IAI perlu menambah staff baru pada divisi teknis untuk membantu DSAK-IAI mentranslasi IFRS dan mereview translasi SAK Internasional.

Tantangan ketiga adalah peningkatan beban pengawasan emiten yang semakin beragam. Dengan adanya SAK Internasional, OJK harus mengawasi emiten yang menggunakan SAK Umum dan juga emiten yang menggunakan full IFRS. Selama ini OJK hanya perlu mengawasi satu jenis SAK yang diterapkan oleh para emiten. Menambah pilar baru, sedikit banyak, memaksa OJK harus meningkatkan kompetensinya dalam mengawasi emiten yang dapat semakin beragam.

Tantangan keempat adalah ketentuan bila entitas berubah pikiran dan ingin kembali menerapkan SAK Umum. Di beberapa negara yang memiliki beragam pilar standar, terdapat fenomena perusahaan yang telah menerapkan full IFRS selama beberapa tahun kemudian memilih berganti menggunakan National GAAP. Misalnya sepanjang tahun 2008-2012 terdapat 24 perusahaan publik di Swiss yang beralih dari IFRS ke Swiss GAAP, salah satunya adalah produsen arloji terkenal Swatch (Fiechter et.al 2012; Fiechter at al, 2018). Alasan utama peralihan tersebut adalah kekhawatiran biaya penerapan IFRS yang mahal karena IFRS lebih cepat berganti daripada Swiss GAAP. Walaupun di Swiss sekitar 65% perusahaan publik tetap menggunakan IFRS secara sukarela, namun perlu dipikirkan apakah bila suatu perusahaan yang sudah menggunakan SAK Internasional nantinya akan diijinkan untuk kembali menggunakan SAK Umum seperti di Swiss.

Tantangan kelima adalah menjawab tekanan internasional bila “full IFRS” tidak laku di Indonesia. Saat ini Indonesia mendapatkan tekanan dari dunia internasional untuk mengadopsi penuh IFRS terutama karena Indonesia adalah anggota negara G20. Opsi SAK Internasional sedikit banyak akan mengurangi tekanan internasional tersebut. Tekanan ini mungkin tidak akan hilang apabila Indonesia telah menawarkan SAK Internasional sebagai opsi. Indonesia sebagai negara besar di dunia, bila Full IFRS menjadi opsi maka mata internasional juga akan terus memantau berapa perusahaan yang akan menggunakannya.

Misalnya adalah Jepang yang menyediakan opsi full IFRS pada tahun 2010 namun disambut dingin oleh emiten. Hanya satu perusahaan Jepang yang mengadopsi full IFRS di tahun 2010, lalu hanya bertambah dua perusahaan di tahun 2011, dan bertambah pelan setiap tahun. Pada tahun 2015 jumlah pengguna full IFRS di Jepang hanya berjumlah 75 perusahaan atau sekitar 18.5% kapitalisasi pasar modal di Jepang. Padahal dorongan politik di Jepang sangat kuat terhadap IFRS dari Liberal Democratic Party dan pemerintah Jepang (Nobes and Zeff, 2016). Banyak dual listed Canada yang tetap memilih menggunakan US GAAP (baik untuk pelaporan di Amerika maupun di Canada) beralasan bahwa investor membandingkan mereka dengan kompetitor mereka di Amerika Serikat sehingga dengan menggunakan US GAAP maka mereka akan lebih mudah diperbandingkan. Per tahun 2014  terdapat 128  perusahaan Canada yang menggunakan US GAAP yang mana 110 di antaranya terdaftar di Bursa Amerika (Nobes & Zeff, 2016). Entitas yang memenuhi syarat menggunakan SAK Internasional akan memikirkan dampak adopsi SAK Internasional terhadap laporan keuangannya. Apabila hal ini malah merugikan mereka dibandingkan dengan kompetitor yang menggunakan SAK Umum maka akan mengurangi antusiasme menggunakan SAK Internasional.

Penutup

OJK dan DSAK IAI mungkin perlu melakukan roadshow kepada para perusahaan yang dianggap memenuhi syarat sebagai pengguna SAK Internasional dan bertanya bila SAK ini tersedia bagi mereka apakah mereka akan memilih untuk menggunakannya. Roadshow ini penting untuk mendapatkan gambaran mengenai ketertarikan calon pengguna terhadap standar ini.

Sekian banyak tantangan yang dijabarkan oleh penulis jangan diartikan bahwa penulis menentang komitmen peluncuran SAK Internasional. Namun terlebih untuk membuat Indonesia lebih memahami manfaat dan risiko dari SAK Internasional ini. Sebagai suatu negara besar dan berkembang pesat, sudah selayaknya Indonesia mempiliki opsi “Full IFRS” seperti negara negara lain. Apabila manfaat dari penggunaan SAK Internasional ini dapat dipahami dengan baik, bukan tidak mungkin akan banyak perusahaan di Indonesia yang tertarik untuk menggunakannya.

Daftar Pustaka

Fiechter, P., Halberkann, J.E.R.O.M.E. and Meyer, C.O.N.R.A.D., 2012. Causes and Consequences of a Voluntary Turn Away from IFRS to Local GAAP. working paper, available on www. ssrn. com.

Fiechter, P., Halberkann, J. and Meyer, C., 2018. Determinants and consequences of a voluntary turn away from IFRS to local GAAP: Evidence from Switzerland. European Accounting Review27(5), pp.955-989.

Nobes, C.W. and Zeff, S.A., 2016. Have Canada, Japan and Switzerland Adopted IFRS?. Australian Accounting Review26(3), pp.284-290.