Home » Posts tagged 'Sustainability report'

Tag Archives: Sustainability report

Tuntutan Pelaporan Keuangan Semakin Kompleks : Tantangan Masa Depan Akuntan

Oleh: Ersa Tri Wahyuni, M.Acc, CA, CPSAK,CPMA[1]

Tulisan ini dimuat di majalah CPA Indonesia edisi Maret 2015

 

Peran akuntan sebagai penjaga gawang laporan keuangan mulai beralih seiring dengan tuntutan pelaporan perusahaan yang semakin luas dan kompleks. Perusahaan di era modern tidak bisa menafikkan permintaan investor terhadap berbagai laporan non-keuangan yang perannya semakin penting dalam menilai kesinambungan bisnis. Berbagai macam lembaga standar internasional menawarkan standar untuk digunakan oleh para perusahaan untuk melaporkan kegiatan mereka. Uniknya banyak dari  lembaga ini adalah suatu organisasi non-pemerintah atau berupa consorsium, sebut saja yang paling terkenal adalah IASB (International Accounting Standard Board) dan GRI (Global Reporting Initiative)

Setelah IFRS sukses menjadi standar laporan keuangan global dengan sekitar 122 negara kini telah mengadopsinya, peta standar untuk laporan perusahaan non-financial masih cukup membingungkan. Wajar saja karena laporan perusahaan non-finansial biasanya bersifat sukarela dan tidak wajib sehingga jarang diatur khusus oleh otoritas Negara. Tulisan ini berusaha mengurai rimba standar standar internasional yang terkait dengan pelaporan perusahaan.

Standar Pelaporan Keuangan International : 2015 Masa tenang IFRS?

Setelah beberapa standar besar telah rampung (misalnya Financial Instruments, Revenue) dan sebagian lagi hampir selesai (Insurance Contract dan Leases), banyak yang memprediksi IFRS akan memasuki masa tenang di tahun 2015 ini. Namun tahun 2015 adalah tahun “agenda consultation” di mana IASB membuka diri atas masukan dari seluruh stakeholder mengenai agenda apa yang harus dilakukan IASB di masa depan. Setelah agenda consultation selesai, bisa jadi pada tahun 2016 nanti IASB akan menjadi sibuk kembali mengerjakan beberapa standar yang masih lemah pengaturannya di seperti standar akuntansi untuk pertambangan, minyak dan gas dan standar akuntansi untuk rate-regulated activities yang dibutuhkan banyak perusahaan utilitas.

Memprediksi kapan Amerika Serikat (AS) akan mengadopsi IFRS tidaklah mudah. Sejak 2007 IFRS menjadi opsi bagi perusahaan asing yang terdaftar di AS. Walaupun IFRS belum menjadi opsi bagi perusahaan AS yang terdaftar, namun angin segar mulai berhembus akhir Desember lalu. US SEC sedang mempertimbangkan apakah laporan keuangan berbasis IFRS akan diijinkan untuk menjadi informasi tambahan bagi perusahaan2 domestik yang sekiranya ingin menyajikan informasi berbasis IFRS bagi investor mereka.

As one example, we understand that some domestic issuers may, now or in the near future, prepare IFRS-based financial information in addition to the U.S. GAAP based information that they use for purposes of SEC filings.  However, regulatory constraints may dissuade some issuers from providing this information, as current SEC rules would consider IFRS-based information to be a “non-GAAP” financial measure for a domestic issuer.   – Pidato Chief of Accountant US SEC, 8 December 2014 pada AICPA National Conference di Washingtong DC.

Bila US SEC membuat keputusan pada tahun ini bahwa informasi keuangan berbasis IFRS boleh disajikan oleh perusahaan domestika, maka ini akan semakin mengukuhkan IFRS sebagai standar akuntansi global.

 

Standar Pelaporan Non-Keuangan International : Chaos?

Bila standar IFRS sudah semakin jelas menjadi standar pelaporan keuangan internasional yang dirujuk banyak Negara, untuk standard non-keuangan, perusahaan dibuat bingung dengan beberapa standar yang tersedia. Standar pelaporan non-keuangan memang biasanya bersifat sukarela dan tidak wajib, namun dengan semakin banyak perusahaan melaporkan apa yang mereka lakukan untuk kelestarian lingkungan dan kesinambungan perusahaan, maka perusahaan bisa semakin bingung memilih standar yang saat ini tersedia. Beberapa standar non-keuangan yang popular misalnya:

 

  1. GRI. (Global Reporting Initiatives)

Berdiri sejak tahun 2003, organisasi ini mengeluarkan standar untuk laporan keberlanjutan atau sustainability report. Standar GRI yang sekarang sudah memasuki generasi keempat (GRI 4 Sustainability Reporting Guideline) menjadi standar yang cukup popular digunakan di Indonesia maupun di Negara-negara lain. Organisasi GRI juga termasuk yang paling mapan dan bukan hanya telah menghasilkan standar yang sudah berevolusi menjadi semakin baik tapi juga menyiapkan ujian professional.

 

2.      SASB (Sustainability Accounting Standard Board)

Organisasi non-profit di Amerika Serikat berdiri sejak tahun 2011. yang juga membuat standar untuk sustainability reporting. Walaupun standar keluaran SASB lebih diutamakan untuk perusahaan2 di Amerika Serikat, namun mereka mengklaim bahwa standarnya dibuat untuk memenuhi pengungkapan yang diminta US SEC dalam form 10-K dan 20-F. Perusahaan asing yang terdaftar di US SEC mungkin juga berkepentingan untuk menggunakan standar SASB. Berbeda dengan GRI yang membuat standar bersifat umum untuk semua jenis industri, SASB membuat standar berdasarkan industrinya seperti standard untuk layanan kesehatan, institusi keuangan, transportasi, dsb.

 

3.      GHG Protocol  (Greenhouse Gas Protocol)

GHG protocol adalah standar yang dihasilkan bersama oleh WRI dan World Business Council on Sustainable Development (WBCSD). GHG Protocol bertujuan menghasilkan standar internasional untuk mengukur, mengelola dan melapokan emisi rumah kaca. GHG Protocol saat ini telah menghasilkan 4 standar yang saling terkait.

  1. a.      Corporate Accounting and Reporting Standard
  2. b.      Project Accounting Protocol and Guideline
  3. c.       Corporate Value Chain Accounting and Reporting Standard
  4. d.      Product life Cycle Accounting and Reporting Standard

Standar GHG protocol cukup popular digunakan oleh perusahaan multinasional. Survey dari Carbon Disclosure Project pada tahun 2011 terhadap perusahaan Global 500, sekitar 35% dari 402 responden yang mengisi survey mengaku mereka menggunakan GHG protocol untuk memonitior dan melaporkan jejak karbon (carbon prints) perusahaan mereka (CDSB,2012).

 

4. CDSB (Climate Disclosure Standard Board)

Berdiri sejak tahun 2007, CDSB adalah konsorsium dari 8 organisasi non-pemerintah dan telah mengeluarkan Climate Change Reporting Framework di tahun 2010. Framework ini membantu perusahaan untuk membuat laporan sukarela untuk informasi yang terkait dengan perubahan iklim secara holistik.

 

Selain keempat standar di atas, ada juga standar2 yang dikeluarkan oleh ISO (International Organization for Standardization) yang terkait dengan pelaporan lingkungan. Beberapa Negara maju juga memiliki standar2 mereka sendiri yang terkait dengan pelaporan lingkungan. Hal ini cukup merepotkan perusahaan, terutama perusahaan multinasional yang beroperasi di banyak Negara untuk mempelajari banyak standar pelaporan.

 

Laporan Keuangan Terintegrasi : Penyederhanaan atau Memperumit?

Melihat maraknya standar-2 pelaporan keuangan, muncul lagi inisiatif untuk menyederhanakan pelaporan perusahaan agar pelaporan keuangan tidak semakin meluas dan berpotensi membingungkan investor. Laporan keuangan terintegrasi atau Integrated Reporting menjadi isu hangat yang marak dibahas akhir akhir ini.

 

Framework Integrated Reporting dibuat oleh council yang bernama IIRC (International Integrated Reporting Council). International Integrated Reporting Council (IIRC) didukung oleh pebisnis dan investor lebih dari 25 negara, selain juga beberapa lembaga penyusun standar internasional duduk di Council yang mengawasi Board penyusun standar. Diantaranya adalah perwakilan IASB (yang menyusun IFRS), IFAC (Organisasi Akuntan Internasional), dan GRI. Survey yang dilakukan oleh ACCA terhadap 200 CFO perusahaan di Inggris dan Irlandia menunjukkan bahwa 38% responden mengaku mereka sedang bersiap-siap untuk melakukan laporan keuangan terintegrasi dalam tiga tahun kedepan (ACCA, 2014).

 

IIRC pada awal tahun 2014 kemudian berinisiatif membuat Corporate Reporting Dialogue (CRD) untuk mengumpulkan para pembuat standar pelaporan perusahaan dan mendiskusikan bagaimana sesungguhnya peta pelaporan keuangan perusahaan di masa depan (IASB,2014). Saat ini CRD bersifat seperti group diskusi yang terdiri dari 8 penyusun standar:

 

Anggota Corporate Reporting Dialogue :

 

  • Financial Accounting Standards Board (FASB)
  • •Global Reporting Initiative (GRI)
  • •International Accounting Standards Board (IASB)
  • •International Integrated Reporting Council (IIRC)
  • •International Public Sector Accounting Standards Board (IPSASB)
  • •International Organization for Standardization (ISO)
  • •Sustainability Accounting Standards Board (SASB)

 

CRD memiliki target untuk membuat corporate reporting landscape untuk memetakan bagaimana standar pelaporan perusahaan bisa lebih mudah dipahami.

 

Profesi Akuntan Menanggapi

 

Maraknya pelaporan sukarela yang bersifat non-keuangan direspon oleh asosiasi akuntan internasional dengan positif. Akuntan sebagai profesi yang sudah berpengalaman menghasilkan pelaporan keuangan tentunya dapat berperan lebih strategis untuk menghasilkan laporan non-keuangan. AICPA (American Institute of Certified Public Accountant) misalnya dalam dokumen tanya jawab mendukung perusahaan non public untuk melakukan pengungkapan tambahan yang bersifat non-keuangan (AICPA, 2014). AICPA juga membuat “Enhanced Business Reporting Framework” untuk perusahaan non-publik yang juga menjelaskan tentang informasi non-keuangan yang dianggap penting oleh investor.

 

Bagaimana dengan profesi akuntan di Indonesia? Munculnya laporan perusahaan non-keuangan menjadi kesempatan bagi profesi akuntan di Indonesia untuk membuka jasa layanan baru. Apalagi payung hukum untuk laporan perusahaan non-keuangan sudah cukup jelas.  Peraturan di Indonesia mengenai sustainability reporting (SR) tertuang dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas disahkan pada Juli 2007. Perundangan ini mengamanatkan seluruh perseroan terbatas yang kegiatan usahanya berkaitan dengan sumber daya alam untuk melaksanakan kegiatan tanggung jawab sosial lingkungan, serta menyajikan informasi kinerja kegiatan tanggung jawab sosial lingkungan tersebut dalam laporan tahunan Direksi kepada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Kemudian pada April 2012 Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial Lingkungan Perseroan, sehingga mulai tahun 2012 kegiatan tanggungjawab sosial lingkungan dan penyampaian infomasinya menjadi kewajiban seluruh perseroan.

 

Akuntan di masa depan bukan hanya harus ahli dalam standar akuntansi keuangan internasional (IFRS) tapi juga harus peka terhadap kebutuhan klien atas pelaporan-2 non keuangan lainnya. Tuntutan pelaporan perusahaan yang semakin kompleks juga membuka peluang bagi asosiasi akuntan di Indonesia untuk melakukan kalibrasi pengetahuan dan kemampuan anggotanya untuk membuat pelaporan perusahaan non-keuangan misalnya dengan melakukan training dan sertifikasi profesional.

 

***

 

 

Referensi

 

AICPA. (2014). Changing Landscape of Corporate Reporting. Tersedia di  : http://www.aicpa.org/InterestAreas/FRC/AccountingFinancialReporting/EnhancedBusinessReporting/DownloadableDocuments/AICPA%20Business%20Reporting%20FAQ.pdf [diakses 18 Pebruari 2015]

 

ACCA. (2014). Understanding investors: the changing corporate perspective. Tersedia di : http://www.accaglobal.com/content/dam/acca/global/PDF-technical/financial-reporting/pol-afb-ui04.pdf [diakses 18 Pebruari 2015]

 

IASB. 2014. Future of Corporate Reporting. Dokumen rapat IFRS Advisory Council October 2014. Tersedia di : http://www.ifrs.org/Meetings/MeetingDocs/Advisory%20Council/2014/October/2014-10-AP5-Future-of-Corporate-Reporting.pdf  [diakses 18 Pebruari 2015]

 

http://www.cdsb.net/

http://www.ghgprotocol.org/

http://www.ifrs.org/Pages/default.aspx

https://www.globalreporting.org/Pages/default.aspx

http://www.sasb.org/

 

 


[1] Ersa Tri Wahyuni adalah Kandidat Doktor Akuntansi Manchester Business School, University of Manchester, Inggris. Dosen Akuntansi Universitas Padjadjaran dan Penasihat Teknis Ikatan Akuntan Indonesia