Home » Uncategorized » Tarik Ulur Konvergensi IFRS Ala Negeri Sakura

Tarik Ulur Konvergensi IFRS Ala Negeri Sakura

Tulisan ini dimuat di majalah Akuntan Indonesia edisi Oktober 2013. Beberapa editan akhir mungkin membuat tulisan ini berbeda dengan yang dimuat di majalah, namun tidak mempengaruhi muatan isinya.

Oleh : Ersa Tri Wahyuni

Suasana panas terjadi dalam rapat IFRS Advisory Council pada tanggal 18 Juni 2012. Perwakilan Komisi Uni Eropa mempertanyakan apakah masih ada political will Jepang untuk mengadopsi IFRS. Jepang yang tadinya sangat semangat pada tahun 2009 untuk mengadopsi IFRS secara penuh dan akan diwajibkan untuk seluruh perusahaan terdaftar di Jepang, berubah haluan.

“And at the end of the day- let’s be honest- these are very technical process. It needs a lot of preparation, it’s very difficult. It’s very technically complex and it can all be done. But at the end of the day- and that’s is for your country, that was the same in my country, that will be the same in the US- at the end of the day. It is a political decision. Do you move to a new system or not?” tanya perwakilan komisi Uni Eropa Jeroen Hooijer dengan frustasi kepada delegasi Jepang, 18 Juni 2012 di London.

Ketika US SEC (Pengawas pasar modal Amerika Serikat) memutuskan pada tahun 2011 untuk mengambil langkah hati-hati dan mengurungkan niatnya untuk mengadopsi penuh IFRS, langkah ini langsung diikuti oleh Jepang. Jepang yang sedianya akan melarang penggunaan US GAAP pada tahun 2015 mengurungkan niatnya dan mengijinkan penggunaan US GAAP untuk jangka waktu yang belum ditentukan.  Masyarakat global yang mengharapkan Amerika dan Jepang mewajibkan IFRS dalam waktu dekat tercengang melihat semangat mengadopsi penuh IFRS di dua negara ini menguap dengan cepat.

Tak bisa dipungkiri, Jepang dan Amerika Serikat adalah dua negara dengan pasar modal besar dan sangat berpengaruh dalam percaturan standar akuntansi global. Amerika dan Jepang saat ini adalah penyandang dana yang cukup signifikan untuk IASB (penyusun IFRS). Kedua negara ini selalu punya perwakilan sejak IASB masih bernama IASC dulu. Perwakilan kedua negara ini bukan hanya di dewan standar internasional tapi juga duduk di IFRS advisory council, IFRS Foundation dan IFRS monitoring board.  Pendek kata, tujuan mencapai SATU standar akuntansi global hanya menjadi mimpi utopian tanpa Jepang dan Amerika Serikat.

Ketika IASB membuka kantor perwakilan Asia-Oceania di Jepang pada akhir tahun 2012 (kenapa juga bukan di Hong Kong yang mengadopsi IFRS penuh dari tahun 2005?), masyarakat dunia kembali berucap sinis. “ Why on earth would you open an office in a country that doesn’t apply IFRS and it doesn’t want to apply it until 2022?” tanya Jaroen Hooijer misalnya pada delegasi Jepang. Jawabannya sederhana, karena Jepang sanggup untuk mendanai semua beban operasional kantor perwakilan tersebut. Hal ini kembali membangkitkan keraguan dunia akan independensi IASB dari pendanaan beberapa negara tertentu.

Sebagai pengamat konvergensi IFRS, mengamati naik turunnya “mood” adopsi IFRS di Amerika dan Jepang menjadi hal yang menarik untuk saya. Apalagi bulan Juli lalu, Jepang lagi-lagi membuat kejutan yang membuat pengamat seperti saya geleng-geleng kepala. Dan ketika saya berkesempatan untuk mewawancarai para petinggi Japanese FSA (OJK-nya Jepang) dan ASBJ (DSAK-nya Jepang) bulan Juli lalu lalu untuk keperluan disertasi doktoral saya, tak lupa beberapa pertanyaan penting ini saya tanyakan.

Status Terakhir Konvergensi di Jepang

Tanggal 19 Juni 2013, Business Advisory Council (BAC) Jepang kembali membuat kejutan. Kali ini Jepang membuka pintu lebih lebar untuk perusahaan Jepang menggunakan IFRS. Bila sebelumnya hanya perusahaan yang memenuhi 3 syarat tertentu yang boleh menggunakan IFRS, pada Juni 2013 dua syarat dihapuskan yakni (1) terdaftar di Bursa dan (2) memiliki bisnis atau pembiayaan internasional. Hanya syarat ketiga yakni kemampuan system perusahaan membuat laporan keuangan konsolidasian berbasis IFRS yang tetap dipertahankan. Perusahaan yang boleh menggunakan IFRS (selain Japanese GAAP)  berkembang di Jepang dari sekitar 600 an perusahaan  menjadi lebih dari 4000 perusahan. Saat ini IFRS boleh digunakan untuk perusahaan Jepang yang tidak terdaftar di bursa. Perusahaan yang sudah terlanjur menggunakan US GAAP (sekitar 30 an perusahaan besar yang biasanya juga dual-listed di pasar modal Amerika) diijinkan untuk terus menggunakan US GAAP.

Langkah ini diambil FSA untuk mendorong lebih banyak perusahaan Jepang menggunakan IFRS. Walaupun IFRS sudah diijinkan sejak tahun 2010, sampai Juni 2013 hanya 14 perusahaan Jepang yang secara sukarela menggunakan IFRS dan ini membuat FSA resah. Enam perusahan lainnya sudah memutuskan untuk mengadopsi IFRS tahun 2014. Daftar Perusahaan Jepang yang mengadopsi IFRS per Juni 2013 dapat dilihat di Tabel 1 dan Tabel 2.

Tabel 1 : Perusahaan Jepang yang telah mengadopsi IFRS secara sukarela per Juni 2013 (sumber : Interview dengan Japanese FSA)
  • Nihon Dempa Kogya Co., Ltd.
  • SBI Holdings, Inc
  • Sumitomo Corporation
  • Tosei Corporation
  • Hoya Corporation
  • Rakuten, Inc
  • Nippon Sheet Glass Co., Ltd
  • Chugai Pharmaceutical Co., Ltd
  • Japan Tobacco Inc.
  • Nexon Co., Ltd
  • Anritsu Corporation
  • Monex Group, Inc
  • DeNa Co., Ltd
  • Sojitz Corporation
Tabel 2 : Perusahaan Jepang yang sudah mengumumkan akan menggunakan IFRS (sumber: Interview dengan Japanese FSA)
  1. Asahi Glass Co., Ltd (FY 2013 ending December 31, 2013)
  2. Marubeni Corporation (FY 2013 ending March 31, 2014)
  3. Softbank Corp (FY 2013 ending March 31, 2014)
  4. Astellas Pharma Inc (FY 2013 ending March 31, 2014)
  5. Takeda Pharmaceutical Company Limited (FY 2013 ending March 31, 2014)
  6. Ono Pharmaceutical Co.Ltd (FY 2013 ending March 31, 2014)

Kebijakan baru BAC, yang merupakan dewan penasehat Japanese FSA, menerbitkan persepsi bahwa Jepang semakin mempromosikan IFRS. Tapi dilain pihak secara bersamaan BAC memutuskan untuk membuat “Japanese-endorsed IFRS”. Jepang akan mengeluarkan IFRS versi Jepang yang kemungkinan akan mengubah ketentuan IFRS seperti penurunan nilai goodwill menjadi amortisasi yang masih merupakan isu besar di Jepang. “Japanese-endorsed IFRS” ini menjadi salah satu dari empat pilihan standar akuntansi yang tersedia bagi perusahaan terdaftar di Jepang. Perusahaan terdaftar di Jepang memiliki pilihan : IFRS yang dikeluarkan oleh IASB (atau sering disebut sebagai “Pure IFRS” oleh Direktur FSA dan anggota ASBJ), “Endorsed IFRS”, Japanese-GAAP dan US GAAP.

Munculnya IFRS versi lokal di beberapa negara tentunya menjadi sesuatu yang ingin dihindari oleh IASB. Hal ini bisa memberikan signal bahwa IFRS tidak bisa menjawab isu lokal sehingga dewan standar akuntansi lokal memutuskan mengubah IFRS untuk menyesuaikan dengan kepentingan lokal. Bila dewan standar lokal membuat standar karena IFRS tidak mengatur, seperti misalnya standar akuntansi syari’ah di Indonesia, mungkin bisa dimaklumi.  Namun yang akan dilakukan Jepang adalah mengubah ketentuan IFRS dengan ketentuan yang bertentangan.

Dalam interview, Japanese FSA meyakinkan saya bahwa Japanese-endorsed IFRS hanyalah solusi sementara sebagai jembatan untuk perusahaan Jepang yang nantinya akan mengadopsi penuh IFRS versi IASB. Proses endorsement IFRS di Jepang akan berjalan paralel dengan proses harmonisasi Japanese-GAAP ke IFRS  yang saat ini masih terus berlangsung. Japanese-endorsed IFRS dirasakan perlu karena Japanese GAAP memiliki strukture yang sangat berbeda dengan IFRS sehingga walaupun Japanese GAAP sedang berharmonisasi dengan IFRS, sangat sulit melakukan pemetaan antara Japanese GAAP dan IFRS karena struktur yang berbeda ini.

Sesuatu yang merupakan “solusi sementara” di Jepang bisa berarti pemberlakukan bertahun-tahun. Penggunaan US GAAP untuk laporan keuangan konsolidasi dulunya juga merupakan solusi sementara pada athun 1970 an karena saat itu Jepang tidak memiliki standar akuntansi untuk konsolidasi. Dan solusi sementara ini sudah berjalan lebih dari 40 tahun, walaupun Jepang sudah memiliki standar akuntansi untuk konsolidasi, US GAAP masih diijinkan untuk terus digunakan entah sampai kapan.

Konvergensi IFRS Indonesia VS Jepang

Yang dilakukan DSAK-IAI saat ini bisa disamakan dengan membuat “Indonesia-endorsed IFRS” namun berbeda dengan Jepang, IFRS versi IASB atau “pure-IFRS” tidak bisa digunakan di Indonesia. Apakah suatu saat IFRS versi IASB (dalam bahasa inggris atau terjemahan kata per kata) akan diijinkan oleh Otoritas Jasa Keuangan, saya sama sekali tidak bisa menebak. Jepang tentunya memiliki tekanan internasional yang lebih kencang untuk adopsi full IFRS daripada Indonesia sehingga mereka akhirnya memilih “mempromosikan IFRS” namun tetap memikirkan kepentingan Jepang dengan membuat Japanese-endorsed IFRS.

Tentunya OJK tidak akan mengambil langkah strategis ini dengan gegabah. Perlu ditanyakan berapa perusahaan Indonesia sebenarnya yang mencari modal dengan menerbitkan instrumen di pasar modal luar negeri. Jepang misalnya memiliki 22 perusahaan yang terdaftar di bursa efek Amerika (data US SEC 2012). Walaupun angkanya lebih sedikit dibandingkan dengan Kanada misalnya (336 perusahaan), namun perusahaan Jepang yang dual listed di Amerika adalah mega corporation seperti Honda, Toyota dan Sony. Perusahaan Jepang yang mencari dana dari pasar modal Eropa jauh lebih banyak lagi, lebih dari 200 perusahaan Jepang menerbitkan efek di Eropa sebelum tahun 2005. Sehingga ketika Eropa memutuskan mengadopsi IFRS tahun 2005, hal tersebut memberikan efek nyata kepada perusahaan Jepang.

Bila “Pure IFRS” hanya dibutuhkan oleh dua perusahaan telekomunikasi Indonesia yang dual listed di pasar Amerika Serikat, rasanya kok terlalu mahal harga yang harus dibayar untuk mengijinkan “Pure IFRS” diberlakukan di Indonesia. Seperti obrolan santai yang pernah saya lakukan dengan petinggi OJK, Indonesia harus berhati-hati memperhatikan kesiapan infrastruktur lainnya untuk bisa menerapkan IFRS penuh. Apapun yang akan diputuskan OJK dan DSAK-IAI, kepentingan bangsa secara keseluruhan saya yakin akan menjadi pertimbangan utama.

*) Ersa Tri Wahyuni adalah penasihat teknis IAI dan dosen akuntansi Universitas Padjadjaran Bandung yang saat ini sedang menempuh program doktor di Manchester Business School, University of Manchester, Inggris. Tulisan beliau lainnya bisa diakses di www.etw-accountant.com


Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>