Our Deepest Fear…. Poem by Marianne Williamson
I love this poem especially because I observe many accountants are so reserved, shy and afraid to shine. I have many friends who I think have HUGE potentials, but always feel that they are small and those big dreams are not for them. I hope this poem inspires them too. Please read twice and let the words come in to your heart.
Our deepest fear is not that we are inadequate
Our deepest fear is that we are powerful beyond measure
It is our light, not our darkness
that most frighten us.
We ask ourselves,
Who am I to be brilliant, gorgeous, talented, fabulous?
Actually, who are you not to be?
You are a child of God.
Your playing small
does not serve the world.
There is nothing enlightened about shrinking
so that other people won’t feel insecure around you
We are all meant to shine,
as children do
We were born to make manifest
the glory of God that is within us
It’s not just in some of us;
it’s in everyone
And as we let our own light shine,
we unconsciously give other people permission to do the same.
As we are liberated from our own fear,
Our presence automatically liberates others.
ETW Manchester, Autumn 2013
Case Study of Indonesia
This short case study was published in ACCA Magazine: “Accountancy Futures”, 07 edition, August 2013. Page 37.http://issuu.com/accaglobal_publications/docs/af_aug13_comp_rgb_150/38Indonesia has been converging with IFRS since 2008. Indonesian GAAP currently is very close with IFRS and we aim to continue working toward full IFRS adoption, although the decision has not been made by Indonesian FSA and Indonesia Financial Accounting Standard Board (IFASB) for the full IFRS adoption target year. As of 1 January 2013, Indonesia has a set of standard based on IFRS (as of 1 January 2009), a set of standard for non-publicly accountable entities and standards for shari’ah accounting transaction based on Islamic law. (more…)
Laporan dari London - Malaysia: Revisi IAS 41 Susah Diaplikasikan
Berita dimuat di situs web Ikatan Akuntan Indonesia
London (22/09) - Malaysia bersikeras bahwa revisi IAS 41 Agriculture yang sedang digodok oleh IASB sangat sulit diaplikasikan di industri perkebunan. Peryataan ini diajukan Malaysia dalam rapat AOSSG dengan IASB yang berlangsung hari minggu (22/9) siang di London. AOSSG yang merupakan kumpulan asosiasi penyusun standar akuntansi di Asia Oceania membantu menyuarakan kepentingan kawasan kepada IASB.
IAS 41 merupakan salah satu standar yang menjadi ganjalan di Malaysia, Indonesia dan India dalam adopsi penuh IFRS. IAS 41 mewajibkan semua aset biologis diukur dengan nilai wajar dan selisihnya masuk ke laporan laba rugi. AOSSG mengusulkan untuk BBA (Bearer Biological Asset) sebaiknya dijinkan menggunakan metode biaya, serupa dengan mesin pabrik yang diatur dalam IAS 16. BBA ini contohnya adalah pohon kelapa sawit atau pohon karet. IASB kemudian mengeluarkan exposure draft (ED) untuk merevisi IAS 41 dan IAS 16 pada bulan Juni 2013. Di dalam ED tersebut IASB juga mewajibkan aset biologis yang belum dipanen dan masih menempel pada BBA diukur dengan metode nilai wajar. Menurut Malaysia untuk aset biologis yang belum dipanen akan sangat sulit untuk menerapkan metode nilai wajar.
“Bayangkan bagaimana mengukur getah karet yang masih ada di dalam pohon karet? Atau wortel yang masih ada di dalam tanah? Untuk kelapa sawit juga kami sudah melakukan survei ke perusahaan-perusahaan perkebunan. Dalam 2000 hektar kebun kelapa sawit bisa memiliki umur pohon yang berbeda-beda dan jenis genetik pohonnya juga berbeda. Kami mengusulkan untuk biologis aset yang dipanen terus menerus seperti kelapa sawit dan karet harusnya dikecualikan dari pengukuran nilai wajar.” ujar Tan Bee Leng, technical director MASB dalam rapat AOSSG yang dihadiri lima anggota IASB dan perwakilan dewan standar dari 12 negara di Asia dan Oceania. Malaysia mengusulkan IASB untuk membuat petunjuk praktis pengukuran aset biologis yang belum dipanen ini.
Rapat interim AOSSG selain membahas IAS 41 juga membahas akuntansi insurance contractfase 2 yang saat ini sedang disusun oleh IASB. Diskusi dipandu oleh perwakilan dewan standar Korea yang menyuarakan masukan negara-negara AOSSG terkait ED Insurance Contract. Ersa Tri Wahyuni, technical advisor IAI yang mewakili Indonesia dalam forum ini juga memberikan informasi mengenai penerapan IFRS 4, insurance contract fase 1 di Indonesia.
“Indonesia sudah menerapkan IFRS 4 di Indonesia sejak 2012. Dan memang harus diakui bahwa tidak mudah untuk menerapkan IFRS 4 fase 1 di Indonesia, banyak tantangannya. Contohnya penerapan Liability Adequacy Test adalah hal yang baru di Indonesia ketika kita menerapkan IFRS 4. Untuk Fase 2 ini Indonesia akan berhati-hati dalam mengadopsi standar ini karena juga lebih rumit.” Ujar Ersa yang diamini oleh perwakilan Korea bahwa Liability Adequacy Test juga menjadi hal baru di negara ginseng tersebut.
Rapat AOSSG sore itu ditutup dengan keputusan akan ada working group baru di dalam AOSSG yang membahas akuntansi untuk rate regulated activities. Working group ini akan diketuai oleh Korea. (Ersa Tri Wahyuni)
Materi exposure draft IAS 41 dapat diunduh di tautan berikut ini:
http://www.ifrs.org/Current-Projects/IASB-Projects/Bearer-biological-assets/Exposure-Draft-June-2013/Pages/Exposure-Draft-and-Comment-letters.aspx
Materi Insurance Contract project dapat diunduh di tautan berikut ini:
http://www.ifrs.org/Current-Projects/IASB-Projects/Insurance-Contracts/Pages/Insurance-Contracts.aspx