• Sun. Oct 25th, 2020

Ersa Tri Wahyuni

The Accountant

Dosen Akuntansi Universitas Padjadjaran, Bandung

Byadmin

Oct 10, 2020

Essa Aditha Rachmawati
Mahasiswa PPAk Akuntansi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Ersa Tri Wahyuni
Dosen Akuntansi Universitas Padjadjaran, Bandung

Pada akhir tahun 2019, dunia dikejutkan dengan wabah coronavirus (COVID-19) yang ditemukan di Wuhan, China. Di Indonesia, Presiden Joko Widodo mengumumkan 2 kasus positif coronavirus pada tanggal 2 Maret 2020. Dua pekan setelahnya, bisnis-bisnis menginstruksikan karyawannya untuk bekerja dari rumah, tidak terkecuali kantor akuntan publik. Beberapa perusahaan memiliki model pekerjaan yang fleksibel sehingga bekerja dari rumah bukanlah hal yang baru bagi mereka. Namun dalam kasus kantor akuntan publik, jika auditor tidak dapat bepergian selama pandemi, bagaimana auditor melakukan pekerjaannya? Artikel ini bertujuan untuk memberikan bukti awal mengenai pertanyaan di atas menggunakan referensi dari lembaga profesi akuntan publik, regulator, dan praktisi.

Pandemi dan Tantangan Profesi Akuntan Publik

Pandemi saat ini dapat diibaratkan sebagai “the great paralysis”, yaitu ketika perekonomian dunia berhenti berfungsi secara harfiah karena manusia tidak dapat melakukan kegiatan perdagangan secara langsung. Selain krisis kesehatan, pandemic Covid-19 memberikan dampak yang signifikan terhadap ekonomi dunia. Perusahaan mengalami penurunan penjualan, arus kas perusahaan bermasalah, dan perusahaan menghadapi risiko gagal bayar hutang untuk periode 12 bulan kedepan (prinsip going concern).

Seperti halnya banyak sektor, profesi auditor secara signifikan tergangguoleh pandemi. Di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian, auditor perlu melaksanakan audit dengan menjaga kualitas audit. Lembaga profesi dan regulator telah menerbitkan panduan bagi akuntan dan akuntan publik dalam memberikan jasa profesionalnya. Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) menerbitkan Technical Newsflash April 2020 untuk memberikan panduan bagi auditor mengenai laporan keuangan, prosedur audit, dan pertimbangan praktis penunjang kualitas audit (IAPI, 2020).

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) juga menerbitkan Press Release mengenai dampak pandemi terhadap penerapan beberapa PSAK, yaitu PSAK 8 mengenai peristiwa setelah periode pelaporan, PSAK 71 mengenai instrumen keuangan, dan PSAK 68 mengenai pengukuran nilai wajar. Otoritas Jasa Keuangan selaku regulator memberikan kelonggaran batas waktu penyampaian laporan keuangan dan RUPS bagi pelaku industri di pasar modal, yaitu diperpanjang selama dua bulan dari batas waktu berakhirnya kewajiban penyampaian laporan (OJK, 2020). Konsekuensi dari kondisi pandemi adalah auditor memerlukan waktu tambahan dalam penyelesaian audit sehingga dapat mempengaruhi tenggat waktu pelaporan.

IAPI berusaha memberikan panduan di dalam Technical Newsflash yangmenjelaskan 5 aspek penting bagi auditor untuk menunjang kinerja dan kualitas audit (IAPI, 2020).

  1. Tanggung jawab auditor adalah untuk mendapatkan bukti audit yang cukup dan tepat sebelum menerbitkan laporan audit. Di tengah kondisi pandemi, auditor perlu mengeksplorasi prosedur alternatif untuk memperoleh bukti yang cukup dan tepat. Jika auditor tidak dapat memperoleh bukti yang cukup & tepat, maka auditor perlu memodifikasi laporan auditnya.
  2. Auditor menilai apakah diperlukan pengungkapan oleh entitas mengenai dampak pandemi pada aktivitasnya, situasi keuangan, dan kinerja ekonomi di masa depan.
  3. Dampak pandemi terhadap keberlangsungan usaha perlu dijelaskan dengan paragraf Penekanan Suatu Hal dalam Laporan Auditor Independen (LAI).
  4. Auditor menilai apakah laporan posisi keuangan entitas, risiko utama, dan ketidakpastian yang dihadapi saat ini dan di masa depan konsisten dengan pengetahuan yang dimiliki auditor. Kemudian, auditor perlu melakukan komunikasi dengan manajemen, pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola, dan regulator mengenai dampak pandemi COVID-19 terhadap pekerjaan audit dan laporan keuangan entitas.
  5. Auditor harus mempertahankan sikap skeptisisme profesional ketika memberikan jasa profesionalnya.

AUDIT SEBELUM & SETELAH PANDEMI

Dengan berlakunya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di mayoritas kota besar di Indonesia & persyaratan physical-distancing, auditor harus melakukan perubahan besar dalam menjalankan tugas profesionalnya. Menurut Jean-Francois dalam CPA Canada (2020), perubahan terjadi sangat cepat. Di Kanada misalnya, pada hari Senin, auditor masih berangkat ke kantor, kemudian di hari Jumat semuanya harus bekerja dari jarak jauh (CPA Canada, 2020). Figur 1 menunjukkan bahwa pandemic sangat mempengaruhi cara auditor memperoleh bukti audit.

Selain hal-hal yang telah dijelaskan dalam Figur 1, perubahan yang terjadi berkaitan dengan pengidentifikasian dan penilaian risiko (Standar Audit 315) dan respon auditor terhadap risiko yang telah dinilai (Standar Audit 330) (IAPI, 2020). Standar Profesional Akuntan Publik yang baru (tahun 2013) lebih menekankan terhadap aspek penilaian risiko (auditing berbasis risiko), yang artinya audit didesain dengan mengidentifikasi risiko, menilai risiko, dan memberikan respon terhadap risiko yang dinilai dalam tiap tahapan audit. Karena kondisi pandemi, auditor harus mengevaluasi risiko tambahan yang muncul dari entitas, seperti perubahan model bisnis, penurunan permintaan pelanggan yang signifikan, dan gangguan pada rantai pasokan.

Pandemi memberikan tantangan besar bagi perikatan audit. Dari sisi klien audit, perusahaan memperoleh informasi dengan cara yang berbeda dan menerapkan pengendalian atas produksi yang berbeda. International Federation of Accountants atau IFAC(2020) menjelaskan bahwa kemungkinan besar akan terjadi peningkatan opini modifikasian yang disebabkan oleh salah saji material dalam laporan keuangan atau tidak adanya bukti yang cukup dan tepat untuk membuat opini wajar tanpa pengecualian (Standar Audit 705).

Akibat pandemi, laporan auditor independen juga akan mengungkapkan informasi yang lebih mengenai prinsip kelangsungan usaha (going concern) dan paragraf Penekanan Suatu Hal (Standar Audit 706) berkaitan dengan dampak pandemi bagi entitas. Apabila pandemi membawa dampak yang sangat signifikan atas kelangsungan usaha entitas, maka laporan auditor juga harus mencerminkan hal tersebut.

PEMANFAATAN TEKNOLOGI PENUNJANG PROSES AUDIT

Selama pandemi, teknologi menjadi penyelemat auditor dalam menyelesaikan proses audit. Menurut Center for Audit Quality (CAQ), audit jarak jauh atau dikenal dengan remote audit merupakan metode melaksanakan suatu audit menggunakan metode elektronik, misalnya video conferencing, e-mail, dan telepon untuk memperoleh bukti audit. Konsep audit jarak jauh telah hadir dalam beberapa tahun terakhir, namun pandemi ini telah memaksa penerapan audit jarak jauh dengan lebih cepat. Melakukan audit pada masa yang penuh ketidakpastian merupakan hal yang baru bagi auditor karena pandemi sebesar ini jarang terjadi dalam sejarah manusia.   

Teknologi Drone juga menjadi salah satu yang menunjang proses audit selama pandemi. Misalnya, PwC UK (2019) menggunakan teknologi drone untuk perhitungan fisik persediaan. Drone dapat digunakan untuk mengambil gambar dari tambang batu bara klien. Gambar yang ditangkap oleh drone digunakan untuk menghasilkan suatu point cloud digital twin’ guna mengukur volume dari tumpukan batu bara dengan tingkat akurasi hingga 99%.

Pada masa pandemi, drone dapat membantu auditor dalam mengobservasi aset dan persediaan klien yang terletak di lokasi yang sulit diakses karena PSBB. Terlepas dari biaya implementasi yang mahal, menurut laporan ekonomi dari PwC, drone memiliki potensi untuk meningkatkan produktivitas, dan memberikan penghematan biaya yang signifikan. Selain teknologi drone, video conferencing & e-mail juga merupakan teknologi yang membantu auditor untuk berkomunikasi dengan klien maupun tim perikatan audit selama pandemi.

Namun tentu saja pemanfaatan teknologi dalam melakukan kegiatan audit juga memiliki tantangan tersendiri. Menurut Institute of Chartered Accountants in England & Wales (ICAEW), penggunaan teknologi seperti drone untuk pengujian persediaan memiliki beberapa keterbatasan, antara lain: 1) Siapa yang akan mengendalikan alat drone? Terdapat risiko video dan gambar dapat dimanipulasi; 2)  Bagaimana menguji aspek ‘completeness’ dari bukti? Terdapat risiko persediaan yang tidak direkam oleh drone; dan 3) Bagaimana memilih jumlah sampel untuk pengujian?. Reviu persediaan secara daring dapat menjadi tidak reliabel (ICAEW, 2020) jika auditor tidak dapat memperoleh bukti yang cukup dan tepat akibat sifat alami dari persediaan.

Normal Baru untuk Profesi Akuntan Publik

Dunia menghadapi normal baru. Bahkan bila vaksin Covid-19 ditemukan, tidak akan ada yang bisa menjamin wabah serupa tidak akan terjadi lagi.  Bentuk normal baru bagi auditor mungkin memang menggunakan pendekatan audit jarak jauh. Dalam mengumpulkan bukti audit, auditor berfokus kepada prosedur alternatif dan bukti audit dalam format digital. Perubahan cara auditor bekerja seharusnya jangan menjadi hambatan bagi auditor untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat. Jika auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat akibat kondisi pandemi, maka mengacu kepada SA 500 (Bukti Audit), auditor perlu memodifikasi laporan auditnya.

Dalam kondisi pandemi, auditor perlu menjalin komunikasi yang terbuka dengan manajemen dan komite audit. Hal ini krusial untuk menentukan beberapa hal, seperti prosedur komunikasi yang akan dilakukan secara daring dan keamanan jalur komunikasi yang digunakan untuk menjaga kerahasiaan informasi. Selain itu, auditor harus selalu up-to-date dengan informasi yang dikeluarkan oleh regulator, lembaga profesi di Indonesia, dan asosiasi profesi negara lain seperti IFAC, AICPA, dan ICAEW.

Auditor menghadapi tantangan berat dalam mengeksplorasi berbagai prosedur alternatif untuk memberikan hasil audit yang berkualitas di bawah kondisi yang penuh dengan ketidakpastian. Namun profesi ini justru sangat dibutuhkan di masa ketidakpastian seperti sekarang. Pada masa ekonomi memburuk, manajemen perusahaan banyak yang berada dalam tekanan luar biasa dari para pemilik modal untuk tidak jatuh terlalu dalam ke jurang rugi. Auditor adalah penjaga gawang terakhir untuk memastikan laporan keuangan adalah wajar, bahkan pada masa masa yang tidak wajar. 

DAFTAR PUSTAKA

Center for Audit Quality, The Evolution of    Remote Audits, tersedia di: www.quality.org.

CPA Canada, 2020, How The Pandemic Has Transformed The Way Auditors Work, Pivot Magazine, tersedia di: www.cpacanada.ca.

Institut Akuntan Publik Indonesia, 2020, Technical Newsflash April 2020: Respons Auditor Atas Pandemi COVID-19”, tersedia di: www.iapi.or.id.

International Federation of Accountants, 2020, Summary of Covid-19 Audit Considerations, tersedia di: www.ifac.org.

Institute of Chartered Accountants in England & Wales (ICAEW), 2020, Coronavirus (COVID-19): Considerations for Inventory Audit Testing, tersedia di: www.icaew.com.

Journal of Accountancy, 2020, How The Pandemic May Affect Financial Reporting and Auditing, tersedia di: www.journalofaccountancy.com.

Otoritas Jasa Keuangan, 2020, Siaran Pers: OJK Longgarkan Batas Waktu Laporan Keuangan dan RUPS, tersedia di: www.ojk.go.id.

PwC UK, 2019, PwC Completes Its First Stock Count Audit Using Drone Technology, tersedia di: www.pwc.co.uk.