• Sun. Oct 25th, 2020

Ersa Tri Wahyuni

The Accountant

Penggelembungan Valuasi Startup : Kegagapan Akuntansi dan Ketamakan Investor

Byersa Tri Wahyuni

Oct 10, 2020

oleh
Isabella Anjani
Ersa Tri Wahyuni

Setiap kali ada pemberitaan mengenai    startup yang berhasil mendapatkan investasi, bahkan pada masa pandemi, selalu saja mengundang decak kagum. Sebut saja TaniHub yang baru saja mendapatkan pendanaan Seri A bulan Mei 2020 lalu sebesar US17 Juta dolar atau sekitar RP.144 miliar dari konsorsium investor yang didanai oleh Bill and Melinda Gates Foundation. US17 juta dolar bukanlah dana yang sedikit, apalagi untuk suatu usaha yang baru saja berdiri pada pertengahan 2016. Ditengah ketidakpastian akibat pandemi Corona, 24 startup di Indonesia masih mampu meraup investasi jutaan dolar termasuk Decacorn Gojek, Kopi Kenangan, dan beberapa startup Pendidikan seperti Ruangguru, Edtech dan Colearn (Katadata.id, 2020)

Apa yang mendorong valuasi dari para perusahaan startup ini demikian fantastis? Apakah valuasi ini terdukung oleh data data akuntansi keuangan perusahaan tersebut atau oleh ekspektasi investor yang telalu berani dan overconfidence atas bisnis digital di masa depan?

Startup dan Jenis-jenis Valuasinya

Startup adalah perusahaan rintisan, berfokus untuk memecahkan masalah yang ada di sekitarnya dengan solusi yang inovatif, serta kesuksesan yang tidak terjamin (Robehmed, 2013). Seaneh apapun solusi yang ditawarkan dan sekecil apapun kemungkinan Startup untuk sukses, layaknya sebuah bisnis, agar bisa dijalankan entitas Startup tentu membutuhkan modal. Modal sendiri, atau modal dari Angel Investor (Investor awal pendirian yg terkadang banyak juga merupakan keluarga atau sahabat para pendiri) Startuprela memberikan kepercayaan dan dana agar Startup dapat mulai beroperasi. Ketika bisnis Startup makin berkembang, umumnya Founder akan mencari pendanaan yang lebih besar yang biasanya bisa didapatkan dari Perusahaan Modal Ventura atau Venture Capital (VC).

Forbes (2016) mengkategorikan pendanaan yang dilakukan VC pada Startup dalam 4 tingkatan, seed, series A, series B, series C. VC menghendaki Startup dapat menarik investor lain ketika Startup sudah sampai di series C (siap IPO) sehingga mereka berani memberikan dana besar pada Startup, karena mereka mengharapkan return yang lebih besar lagi ketika Startup melantai di bursa. VC berasumsi makin awal VC mendanai (fase seed), makin tinggi return yang bisa mereka peroleh karena prinsip high risk high return. Sehingga ketika VC mendanai Startup yang masih sangat muda dan bahkan belum memiliki pendapatan, risikonya tentu lebih besar, dan VC berhak untuk meminta return yang tinggi.

Salah satu keunikan Startup dibanding dengan model bisnis lain adalah Founder bisa mendapatkan keuntungan bahkan sebelum Startup tersebut betul-betul menghasilkan laba dalam laporan keuangannya. Hal ini terjadi karena Startup tersebut bisa dijual kepemilikannya kepada pihak lain dengan harga yang jauh lebih tinggi dibanding aset bersih entitas itu sendiri, harga inilah yang biasa disebut sebagai hasil valuasi dari sebuah Startup.  Dikutip dari CNBC Indonesia (2018) Unicorn, Decacorn, Hectacorn juga merupakan istilah yang muncul untuk mengklasifikasikan Startup berdasarkan hasil valuasinya yang bernilai lebih dari 1, 10, 100 miliar USD.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana bisa perusahaan mendapatkan hasil valuasi sedemikian fantastis? Bagaimana cara menghitungnya? Berikut adalah rangkuman berbagai metode yang dilakukan VC atau Angel Investor dalam melakukan valuasi suatu perusahaan Startup yang bersumber dari vlog Angel Kings (2015), BlueBookAcademy.com (2015), Tech in Asia ID (2019):

  1. The Comparable Method, membandingkan dengan harga saham perusahaan sejenis yang sudah diperdagangkan sahamnya pada publik di bursa saham
  2. Modified Discounted Cash Flow, yaitu dengan menghitung proyeksi arus kas yang akan diterima oleh Startup dari bisnisnya dalam 3 hingga 10 tahun ke depan. Sebetulnya metode ini mirip dengan metode DCF namun dengan berbagai penyesuaian antara lain asumsi-asumsi yang harus dibangun karena umumnya Startup tidak memiliki cukup data historis untuk menyusun proforma cash flow.
  3. Valuasi berdasarkan nilai aset dengan menghitung fair value dari aset dikurangi kewajiban Startup.
  4. Venture Capital Method, di mana VC melakukan perhitungan sendiri mengenai akan berapa kira-kira nilai dari Startup dalam 3 tahun kedepan ketika VC hendak menjual Startup tersebut pada pihak lain (dikenal sebagai exit) dilihat dari strategi Startup hingga muncul asumsi IRR nya. VC tidak takut untuk memberikan pendanaan dengan nilai tinggi karena adanya prinsip yang dikenalkan oleh Howard Marks seorang investor dari Oaktree Capital, yang mengatakan bahwa ”It’s Not What You Buy, It’s What You Pay for It That Determines Whether Something Is a Good Investment”. Dengan kata lain, semakin tinggi dana yang diberikan VC pada pendanaan awal (tahun ke-0), akan semakin tinggi juga valuasi yang akan diberikan oleh investor lain ketika VC hendak menjual kepemilikannya di tahun ke-3 misalnya.
  5. Omset perusahaan mitra yang disetahunkan. Metode ini bisa dilakukan jika model bisnis Startup adalah sebagai marketplace yang mempertemukan pembeli dengan penjual seperti Tokopedia atau Bukalapak. Jadi Startup menjumlahkan penghasilan dari mitra atau merchant lalu disetahunkan dan nilainya dianggap mewakili harga Startup tersebut.

Investor harus menyadari betul bahwa ketika mereka menyetorkan dana pada Startup sebagai investasi, maka entitas Startup tidak berkewajiban untuk mengembalikan dana tersebut karena ibaratnya dana tersebut sudah ditukar dengan “kepemilikan”. Namun perlu diperhatikan, VC sebagai pemodal awal biasanya memiliki kontrak tertentu dengan Startup untuk menjaga nilai investasinya agar tidak hilang begitu saja. Tech in Asia ID (2020) juga menyebutkan bahwa ketika batas waktu pendanaan jatuh tempo, VC akan berusaha agar Startup mengembalikan investasi mereka disertai returnnya. Namun bagaimana jika hingga jatuh tempo, bisnis Startup masih belum menguntungkan? Ada 3 strategi yang bisa digunakan untuk mengembalikan uang VC, yaitu dengan mencari pendanaan baru dari VC lain, Founder menjual kepemilikannya dalam Startup pada investor yang tertarik atau ketika ada perusahaan besar yang berniat mengakuisisi, atau melakukan IPO.

Sebetulnya ada rasio unik yang digunakan oleh Startup untuk menilai kinerja dan growth, antara lain Costumer Acquisition Cost (CAC), Retention Rate, Churn Rate, Burn Rate, dan beberapa alat analisis salah satunya cohort table. Sehingga VC dalam melakukan valuasi Startup juga bergantung pada angka tersebut (Tech in Asia ID, 2017).

Akuntansi Untuk Valuasi Startup : Semakin Tergagap dan Tidak Relevan?

Laporan keuangan telah menjadi acuan di masa lalu untuk menilai suatu perusahaan. Sekalipun relevansinya semakin lama semakin melemah karena valuasi perusahaan semakin “forward looking”, namun pada masa penuh ketidakpastian, pencatatan akuntansi yang konservatif masih dapat menjadi acuan penting. Permasalahannya adalah banyak sekali aset digital pada perusahaan startup yang tidak bisa tercermin dalam laporan keuangan akibat standar akuntansi yang kaku. 

Hingga kini entitas Startup dalam dan luar negeri diberikan kebebasan untuk mengadopsi baik itu IFRS SMEs atau PSAK ETAP, atau justru menerapkan IFRS/ PSAK secara penuh. Namun PSAK ETAP dianggap kurang sesuai dengan jiwa Startup yang berbeda dengan UMKM karena lebih high tech dan big data driven. Pengakuan aset takberwujud seperti platform digital yang dimiliki oleh para startup memiliki persyaratan yang ketat, sehingga banyak yang akhirnya tidak mengakuinya di dalam laporan keuangan.

Laporan laba rugi misalnya juga tidak relevan untuk valuasi startup karena pada tujuh tahun pertama justru startup biasanya merugi. Periode “bakar duit” ini dibutuhkan untuk mengembangkan database pengguna, memperluas cakupan investor, menguatkan customer lifetime value, yang kesemuanya akan meningkatkan valuasi startup di mata investor. Rasio-rasio keuangan yang dihitung dari laporan keuangan menjadi tidak relevan karena diukur menggunakan angka-angka historis. Sedangkan investor lebih menitikberatkan angka-angka prediksi ke masa depan.

Lalu apakah kemudian Startup yang harus mengikuti standar akuntansi umum yang konservatif? Atau standar akuntansinya nanti yang dibuat lebih fleksibel dan futuristik serta mempertimbangkan rasio-rasio unik yang menjadi ciri khas Startup? Mungkin ke depannya tugas auditor adalah melakukan testing asumsi untuk perhitungan prospective DCF misalnya, sehingga apakah mungkin dalam pembentukan asumsi juga dibuatkan standar? Sebenarnya hal futuristik sejenis ini sudah mulai diakomodasi dalam IFRS 9 contohnya dengan penerapan penghitungan cadangan kerugian yang “forward looking” . Mungkinkah Big Data yang dimiliki Startup dapat membantu terbuktinya asersi manajemen mengenai probability of return dan expected future income?

Bila laporan keuangan tergagap dalam menampilkan nilai perusahaan Startup lalu mengapa para investor ini bernafsu mengucurkan pendanaan besar pada Startup yang dianggap menjanjikan walaupun metode valuasinya jarang mempertimbangkan angka-angka akuntansi yang konservatif? Tentu karena VC sejak awal tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bisa menjadi pendana awal bagi Startup yang mungkin bisa berkembang sebesar Google, Apple, atau Alibaba. Risikonya memang tinggi karena banyak sekali startup yang gagal berkembang menjadi besar, namun satu atau dua saja pendanaan yang sukses besar akan mampu menutupi kerugian tersebut.

Investors : Angel or Demon? 

Akuntan sudah dibentuk untuk menanamkan sifat skeptis dan curiga, pun juga terhadap penggelembungan valuasi startup ini. Mengenai valuasi startup, apakah betul karena VC ingin bertindak sebagai investor dan melihat perusahaan berkembang sesuai visinya, atau justru mereka sebenarnya hanya bertindak sebagai spekulan  yang melihat Startup sebagai investasi murah? Untuk kemduian mereka  melepas kepemilikan ketika investor lain mulai silau pada Startup yang overvalue padahal perhitungannya dilakukan terlalu optimis?

Lebih lanjut, apakah Startup kini merupakan “komoditas” untuk diperdagangkan? Ingat kasus subprime mortgage di US yang terjadi karena harga properti yang terus melambung tinggi seperti bubble, namun di puncak akhirnya bubble tersebut pecah. Tentunga kita juga belum lupa dengan pecahnya bubble dot com companies di awal era tahun 2000an. Apakah valuasi Startup juga sengaja digelembungkan? Apakah value Startup kini merupakan jenis dari bubble 4.0? Apakah value yang sengaja ditinggikan dibuat untuk mengerek minat para investor lain terhadap Startup?Memang apa bahayanya menaikkan nilai ekuitas (overvaluasi nilai saham) tanpa diimbangi dengan kenaikan laba  yang nyata? Sejatinya ekuitas merupakan sisa dari aset – kewajiban, serta bisa bertambah dengan laba yang ditahan, dengan kata lain, di balik ekuitas harus ada underlying berupa aset dan profit yang mendasarinya. Bayangkan jika peningkatan ekuitas tidak diimbangi dengan peningkatan aset yang real, tentu nilai ekuitas akan mudah jatuh. Jumlah pengunduh aplikasi, jumlah subscriber, jumlah database pengguna yang besar tidak akan ada artinya bila tidak terjadi pembelian berulang dan perusahaan mampu mencetak laba.

Terbaru, Kuckertz et al (2020) juga melakukan penelitian terkait dampak merebaknya Covid-19 pada beberapa entitas Startup di 40 negara. Penelitian ini mengungkap fakta bahwa semakin entitas berhasil menyelamatkan bisnisnya dengan mendapatkan pendanaan (hutang), makin tinggi pula risiko bahwa pertumbuhan dan potensi inovatifnya terancam. Hal ini dimungkinkan karena justru peminjam dana mungkin saja mensyaratkan berbagai hal yang justru bisa menahan inovasi. Oleh karena itu apabila para Founder Startup sejak awal memahami hakikat bisnis, bukan hanya untuk mencari pendanaan namun juga berfokus pada mendapatkan profit, mungkin persentase kegagalan Startup tidak akan setinggi saat ini.

Founder perlu menyadari betul bahwa equity apalagi utang tidak sama dengan income.  Tentu sangat disayangkan bila para pendiri startup  membuat bisnis hanya untuk menyiapkan exit strategi jangka pendek yg menguntungkan.  Lalu meninggalkan bisnis yang belum jelas keberlanjutannya pada investor lain yang juga tamak tapi tidak paham dengan proses bisnisnya.


Catatan Akhir

Penelitian yang dilakukan oleh Supardianto, Ferdiana, dan Sulistyo (2018) menyatakan bahwa tingkat partisipasi pajak perusahaan rintisan di Indonesia masih sangat rendah yang utamanya diakibatkan oleh 2 hal, yaitu high turnover perusahaan Startup, dan kedua karena kurangnya literasi finansial yang dimiliki oleh Founder dan pegawai Startup. Dengan adanya standar akuntansi keuangan khusus bagi Startup, literasi finansial tentu akan lebih mudah dilakukan dan penerimaan pajak dari Startup akan meningkat. Survey yang dilakukan Ersa Tri Wahyuni juga menunjukkan penyusunan laporan keuangan bagi perusahaan digital startup adalah kendala besar yang sama urgensinya dengan mencari investor.

Banyak pihak yang memikirkan apakah seharusnya startup terutama yang digital sebaiknya memiliki standar akuntansi sendiri agar Startup mendapat pendanaan secara fair. Apalagi saat ini sudah dikenalkan papan akselerasi dan papan pengembangan untuk Startup di BEI. Jika dilihat satu-satunya perusahaan dalam papan akselerasi saat ini yaitu Startup Pigijo, pembuatan laporan keuangannya menggunakan PSAK umum. Akan sangat menarik untuk melihat apakah calon investor akan menilai harga saham Rp80/lembar yang ditawarkan sesuai dengan nilai buku perusahaan.

Jurang antara angka-angka akuntansi dan valuasi perusahaan yang semakin besar sudah menjadi issue internasional. IFRS Foundation misalnya sejak 2018 sudah meluncurkan technology initiatives untuk meminta IASB secara serius memperhatikan hal ini. Beberapa dewan standar di negara2 maju juga memikirkan hal ini seperti misalnya Jepang yang sudah memiliki standar akuntansi untuk cryptocurrency. Namun tarik menarik antara konsevatisme akuntan dan relevansi laporan keuangan bagi dunia bisnis memang tidak mudah.

Disclaimer:

Penulis tidak bertanggungjawab atas keputusan bisnis yang mungkin akan diambil oleh pembaca artikel ini. Tulisan ini adalah pendapat individu penulis dan tidak mencerminkan institusi di mana penulis bekerja atau berafiliasi.

Referensi:

Kuckertz, Andreas, Leif Brändle , Anja Gaudig , Sebastian Hinderer , Carlos Arturo Morales Reyes , Alicia Prochotta , Kathrin M. Steinbrink , Elisabeth S.C. Berger. Startups in times of crisis – A rapid response to the COVID-19 pandemic. Journal of Business Venturing Insights 13 (2020) e00169

startupSupardianto, Ridi Ferdiana, Selo Sulistyo. 2019. The Role of Information Technology Usage on Startup Financial Management and Taxation. Procedia Computer Science 161 (2019), Pages 1308–1315

Katadata. 2020. 24 Startup Indonesia Dapat Pendanaan Meski ada Pandemic Corona. 

https://katadata.co.id/berita/2020/05/15/24-startup-indonesia-dapat-pendanaan-meski-ada-pandemi-corona

Purnomo, Herdaru. 2019. Masih Bingung Apa Itu Unicorn? Ini Penjelasannya

https://www.cnbcindonesia.com/tech/20190217222913-37-56031/masih-bingung-apa-itu-unicorn-ini-penjelasannya

Robehmed, Natalie. 2013. What Is A Startup?

https://www.forbes.com/sites/natalierobehmed/2013/12/16/what-is-a-startup/#a1a469f40440

Angel Kings: Design, Build America’s Top Startups. 2015. How To Value a Startup: Calculate Valuation – RossBlankenship.com

BlueBookAcademy.com. 2015. Startups Valuation Using The Venture Capital Method | Harvard Business School

Forbes. 2016. If You Know Nothing About Venture Capital, Watch This First | Forbes.

Mergers & Inquisitions / Breaking Into Wall Street. 2016. Startup Valuation – How Are Startups Worth Billions?

Serious Funding. 2016. Startup Valuation made simple by Serious Funding: The VC Method

Tech In Asia ID. 2017. Apa itu Startup?

Tech In Asia ID. 2017. [#01] Startup Bakar Duit Terus – Kapan Balik Modal?

Tech In Asia ID. 2017. [#02] Startup Bakar Duit Terus – Kapan Balik Modal?

Tech In Asia ID. 2020. Gimana Cara Perusahaan Modal Ventura Bisa Untung?

Tech In Asia ID. 2019. Cara Investor Dapat Cuan, Meski Startup Masih Rugi