• Sun. Oct 25th, 2020

Ersa Tri Wahyuni

The Accountant

Tiga Topik Akuntansi Dibahas oleh Negara2 Berkembang : Laporan EEG Meeting.

Byersa Tri Wahyuni

Oct 10, 2020

Akuntansi untuk industri ekstraksi menjadi primadona diskusi oleh Perwakilan negara-negara ekonomi berkembang dalam pertemuan Emerging Economies Group (EEG) di Jakarta bulan desember 2014 lalu. Selain industri ekstraksi, EEG juga membahas mengenai Foreign Currency Convertible Bond (FCCB – Obligasi konversi dalam mata uang asing) yang diusung oleh India. Topik lainnya yang dibahas mengenai uang muka diusulkan oleh Rusia.  Indonesia sebagai tuan rumah berperan aktif dalam diskusi dua hari tanggal 11-12 Desember 2014 tersebut, yang juga dihadiri oleh anggota IASB Martin Edelman dan perwakil andari Malaysia, China, turkey, Rusia, India, Saudi Arabia dan Afrika Selatan.

Standar Akuntansi untuk Aktivitas Ekstraksi

Pembahasan cukup hangat dalam diskusi rapat EEG kali ini adalah terkait dengan standar akuntansi untuk aktivita sekstraksi (extractive activities). Saat ini IFRS hanya memiliki IFRS 6 Exploration for and evaluation of Mineral Resources yang sebenarnya hanya merupakan standar akuntansi sementara. Dalam hal akuntansi untuk minyak dan gas bumi, US GAAP (termasuk peraturan SEC ) memang memiliki lebih banyak standar yang mendetail misalnya dalam SFAS 19 Financial Accounting and Reporting by Oil and Gas Producing Companies yang sudah terbit sejak December 1977.

Namun perlu dipahami US GAAP yang lebih “rule-based” memang memiliki lebih banyak standar akuntansi berbasis industri termasuk untuk perusahaan perminyakan yang merupakan industri besar di Amerika Serikat. Karena sifar IFRS yang principle-based, salah satu tema diskusi hangat dalam rapat EEG adalah apakah memang dibutuhkan suatu standard khusus untuk industri ekstraksi? Atau apakah memang standar standar dalam kerangka IFRS saat ini (IFRS/IAS dan IFRIC/SIC) tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan pelaporan industri ini.

Delegasi dari Afrika Selatan memaparkan makalah mengenai hal ini dan memimpin diskusi di rapat EEG lalu. Anggota EEG ditanya mengenai ruang lingkup kegiatan riset IASB yang akan dilakukan di masa depan. Karena industri perminyakan adalah bisnis global, maka banyak perusahaan multinasional yang membutuhkan standar internasional. Para anggota EEG meyuarakan dukungannya bahwa IASB perlu untuk melakukan riset mengenai akuntansi untuk ekstraksi industri.

Pada tahun 2010, IASB sudah mengeluarkan sebuah Discussion Paper yang menanyakan apakah project spesifik untuk industri ekstraksi memang dibutuhkan. Atau diskusi mengenai akuntansi ini digabung saja dengan project aset tak berwujud. Salah satu permasalahan yang cukup pelik untuk industri ekstraksi adalah mengukur besarnya cadangan mineral (cadangan minyak misalnya). Dan mengingat industri ekstraksi ini berisiko tinggi, maka pengukuran cadangan ini menjadi penting bagi relavansi laporan keuangan perusahaan minyak, tambang dan gas.  Namun pengukuran cadangan minyak ini bisa disetarakan dengan aktivitas research and development industri lain yang juga tidak kalah besar risikonya, seperti misalnya aktivitas riset obat di perusahaan farmasi. Oleh sebab itu menjadi pertanyaan apakah tidak sebaiknya pembahasan mengenai cadangan mineral juga digabung dengan pembahasan kegiatan riset industri lainnya dalam kerangka standar akuntansi aset takberwujud

Anggota EEG terbelah dalam diskusi mengenai industri ini. China misalnya malah mengusulkan standar akuntansi yang lebih spesifik untuk minyak dan gas, bukan hanya standar akuntansi ekstraksi yang lebih umum.  Malaysia mendukung standar akuntansi khusus untuk ekstraksi yg terpisah dari industri lain dengan argumen industri ekstraksi memiliki kekhususan tersendiri. Sedangkan Saudi Arabia cenderung menginginkan pembahasan akuntansi ekstraksi bisa sejalan dengan industri lain yang juga berisiko tinggi. Indonesia memilih jalan tengah, bahwa kalaupun IASB memutuskan memiliki standar akuntansi khusus ekstraksi, itu hanya mengatur hal yang sangat unik yang tidak diatur dalam standar-standar lainnya. Delegasi Indonesia berpikiran bahwa sifat IASB yang principle-based harus tetap dipertahankan.

Klasifikasi FCCB – Ekuitas atau Liabilitas?

Dalam rapat EEG lalu, perwakilan India mengusung permasalahan di negaranya bahwa FCCB yang exercise price nya  dipatok kedalam mata uang asing tertentu harusnya dapat diklasifikasikan sebagai ekuitas dan bukan liabilitas. Sedangkan IAS 32 mengklasifikasikan instrument ini sebagai liabilitas  keuangan karena jumlah yang akan diterima bervariasi. Paragraf 24 dalam IAS 32 memberikan contoh misalny aadalah suatu kontrak yang mengharuskan entitas memberikan 100 lembar saham dan menerima sejumlah kas setara dengan nilai 100 ounces emas. Walaupun sudah dipatok ke jumlah emas yang tetap, namun harga emas dapat berubah-ubah dipasaran sehingga membuat kas yang diterima bervariasi. Untuk kontrak seperti ini, IAS 32 mengklasifikannya sebagai liabilitas dan bukan ekuitas. Perwakilan India menyoroti paragraph 24 pada IAS 32 yang cukilannya sebagai berikut:

“A contract that will be settled by the entity delivering or receiving a fixed number of its own equity instruments in exchange for a variable amount of cash or another financial asset is a financial asset or financial liability. An example is a contract for the entity to deliver 100 of its own equity instruments in return for an amount of cash calculated to equal the value of 100 ounces of gold.” – IAS 32 par 24.

Perwakilan India memberikan argument bila FCCB dalam Indian Rupee dipatok ke dalam mata uang asing tertentu yang bukan merupakan functional currency perusahaan, maka itu dapat dianggap sebagai ekuitas dan bukan liabilitas. Hal iniwalaupun jumlah kas dalam rupee akan bervariasi sejalan dengan fluktuasi harga dollar. Terkait dengan hal ini, India melakukan perubahan atas IAS 32 yang mereka adopsi denganmemasukkan satu paragraph tambahan.

“The equity conversion option embedded in a convertible bond denominated in foreign currency to acquire a fixed number of the entity’s own equity instruments is an equity instrument if the exercise price is fixed in any currency” – Paragraf 11 dalam India IAS 32

Topik ini  dibahas dalam rapat EEG dengan cukup hangat.Ketua EEG menyampaikan simpatinya untuk India dan mengatakanbahwa issue ini layak dibicarakan di level Interpretation Committee (dahulu IFRIC).

Akuntansi untuk Uang Muka

Dalam rapat EEG, delegasi Rusia memaparkan discussion paper tentang akuntansi untuk uang muka (paid advances). Delegasi rusia menanyakan esensi dari uang muka yang sepertinya tidak tepat bila diklasifikasikan secara keseluruhan sebagai satu kelompok dalam neraca padahal pembayaran uang muka bisa jadi untuk berbagai macam jenis aset.  Argumen utama yang diusung oleh rusia bahwa pembayaran uang muka harusnya disajikan sebagai bagian dari komponen aset utamanya di dalam neraca.

Jadi misalnya bila ada uang muka yang dibayarkan untuk inventory, maka pembayaran tersebut dianggap sebagai bagian dari inventory. Dengan demikian maka pengukuran uang muka juga mengikuti aturan komponen aset utamanya. Bila ada uang muka yang dibayarkan untuk membeli mesin, maka itu diklasifikasikan sebaga aset tetap, apalagi bila uang mukanya berumur lebih dari setahun untuk mesin yang harus dirakit. Rusia berargumen dengan demikian maka uang muka untuk mesin boleh diukur sesuai dengan model biaya atau model revaluasian sesuai dengan IAS 16 Property Plant and Equipment.

Usulan Rusia ini tidak mendapatkan banyak support dari para anggota EEG.  Rata-rata anggota EEG berargumen bahwa uang muka memiliki risiko yang berbeda dengan asetnya. Misalnya apakah uang muka untuk mesin bisa dianggap memiliki risikoyang sama dengan mesin itu sendiri? Banyak uang muka yang sejatinya adalah derivative atau bahkan aset takberwujud yang sangat bergantung dengan perubahan situasi dan kondisi.

Tentang EEG

EEG adalah sebuah kelompok kerja (working group) yang dibentuk oleh IFRS Foundation pada tahun 2011 untuk menampung pendapat Negara Negara berkembang.  Saat ini EEG memiliki anggota perwakilan dari China, Argentina, Brazil, India, Indonesia, Korea, Malaysia, Mexico, Russia, Saudi Arabia, Afrika Selatan danTurki.  Wayne Upton, yang  juga merupakan ketua Interpretation Committee menjadi ketua group ini dan perwakilan dari China menjadi wakil group sekaligus sekretariat. Group ini melakukan pertemuan setahun dua kali yang membahas permasalahan implementasi IFRS di Negara-negara berkembang. Indonesia yang diwakili oleh DSAK-IAI sejak pertemuan EEG pertama di Beijing selalu berpartisipasi aktif.  EEG menjadi forum penting bagi IASB untuk meminta masukan kesesuaian IFRS bagi negara-negara berkembang. Tidak bisa dipungkiri bahwa peran dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang dan Eropa sangat dominan dalam pembuatan IFRS sehingga membuat standar akuntansi IFRS sulit untuk diterapkan di negara berkembang.

Rapat EEG dua hari ditutup dengan city tour singkat dimana para delegasi EEG diundang untuk menikmati pusat kota Jakarta. Kunjungan ke Monumen nasional dan workshop pembuatan batik di museum Batik meninggalkan kesan indah bagi para delegasi EEG. Banyak anggota EEG yang baru kali itu berkunjung ke Indonesia dan sangat tertarik dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pesat.